Ketua Stasi Stefanus Sungaipisang Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang (2019-kini), Yarman Jaya Zai (42) mengaku beroleh ‘upah’ keselamatan dari Tuhan saat sekarang dan kelak di akhirat. “Apa pun beban pikiran dan kebutuhan keluarga selalu diberi kecukupan rezeki meski banyak kesibukan waktu menggereja,” ucapnya.

Suami Darlisa Giawa (40) ini telah dua periode sebagai Ketua Rayon Stefanus dan Sekretaris Stasi Stefanus (2015-2019). Dirinya menjadi pengurus gereja sejak tahun 2005. Saat itu, kapel dan rayon di Sungaipisang bergabung di Wilayah Santo Paulinus. Ia pun pernah menjadi guru Sekolah Minggu (2008) mengalami panggilan hidup untuk melayani Tuhan. “Keterlibatan menggereja juga berkat dorongan nenek moyang dan orangtua yang pernah menjadi pengurus gereja,” akunya.

Selain di lingkungan gereja, ayah empat anak ini juga dipercaya sebagai kepala kampung atau kepala adat Nias Padang yang biasa disebut ‘Kafalo’ Wilayah Sungaipisang dan sekitarnya (2014-kini). Ia bersedia menerima tanggungjawab sebagai Kepala Adat untuk mempersatukan masyarakat Nias yang berbeda kedatangan daerah tempat tinggal dan adat-istiadat dari Pulau Nias, apalagi karena ada Lembaga Kerapatan Adat Nias (LEKANIS) Padang mengikuti aturan adat tersebut. Semua aktivitasnya mendapat dukungan isteri dan anak-anaknya.

Sebagai Ketua Stasi, Ama Dewi Zai, panggilan akrabnya, bersama pengurus gereja membuat kelompok simpan-pinjam berbunga rendah, menabung setiap hari Minggu, bernama “CU Bukit Lansono”. Telah berlangsung selama sepuluh tahun terakhir. Pembukuan masih manual dan menggunakan cara bagi hasil. “Simpanan ini dibentuk untuk  biaya tahunan Natal, Tahun Baru, dan biaya sekolah anak-anak. Juga mendorong umat lebih bersemangat dan aktif datang ke gereja. Selain itu, ekonomi juga agak meningkat,” ucapnya.

Stasi kami mengalami kesulitan seperti sarana lagu misa, karena umat kita yang banyak disana masyarakat suku Nias dan jika ada acara pemakaman dan doa lingkungan, umat memakai  bahasa Nias hanya pada waktu saat misa memakai bahasa Indonesia. “Harapan saya kepada kaum muda dan umat  dalam peribahasa mengatakan  ‘Kecil teraja-aja, besar terbawa-bawa’ jadi didalam menggereja selagi anak kita masih kecil kita didik secara rohani agar imannya tumbuh dan kepada umat di dalam masyarakat mematuhi aturan adat, maupun aturan gereja,” tandasnya mengakhiri. (ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *