Idealnya, Seksi Komunikasi Sosial/Komsos Dewan Pastoral Paroki (DPP) melaksanakan misi sebagai ‘corong’ pewartaan gereja lokal/setempat. Namun, kondisi nyata di lapangan tidak selalu ideal. Sejumlah kendala menghadang untuk tugas suci tersebut, sebagaimana dialami Seksi Komsos Paroki Airmolek.

Berdasarkan pengalaman saya selama ini sebagai Seksi Komsos Paroki, harus berkata jujur bahwa masih belum bisa melaksanakan sepenuhnya misi tersebut. Sejumlah kendala untuk mewujudkan misi sebagai corong pewartaan. Pun, selama ini, aktivitas Seksi Komsos hanya sebatas liputan kegiatan di pusat paroki dan beberapa stasi. Untuk aktivitas rutin, misalnya semacam aktivitas berkatekese menggunakan medsos paroki belum bisa dilakukan. Saya pernah mengajak Seksi Katekese DPP berkolaborasi, namun belum bisa terlaksana suatu impian suatu model pewartaan lewat medsos.

Kesulitan Seksi Komsos menyangkut aspek personalia, yakni menambah dan melengkapi personel seksi ini. Suatu angan adanya anggota yang menetap, misalnya dari kalangan bapak-bapak atau ibu-ibu maupun orang dewasa. Pernah suatu saat, sejumlah pelajar sekolah menengah bergabung sebagai tim komsos paroki. Kendala lain adalah ketersediaan waktu kami berdua (saya dan Jeli Manalu) melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai Seksi Komsos. Kami mengalami kendala berkonsentrasi atau fokus menangani pelayanan bidang komsos, karena ada aktivitas atau pekerjaan pokok. Jujur, kami pun kurang fokus menanganinya, apalagi untuk suatu karya pelayanan rutin di bidang komsos di Paroki Airmolek.

Sebenarnya, kami mendapat dukungan penuh dari pastor paroki dan pastor rekan. Pastor paroki pernah menyarankan kami untuk menambah atau melengkapi personil Seksi Komsos. Hanya saja, kami pun kebingungan untuk merekrut atau mengajak pihak-pihak yang mau membantu dan bersedia bergabung ke dalam Tim Komsos Paroki.  Kami pernah  meminta bantuan ketua stasi agar dapat mengirimkan perwakilan dari stasinya sebagai bagian tim komsos. Di paroki ini terdapat 40-an stasi. Belum banyak ketua stasi yang memberikan tanggapan balik. Memang, ada beberapa stasi yang telah mengirimkan perwakilan sebagai ‘kontributor’ stasi.

Apabila sebatas laporan liputan di medsos paroki, masih bisalah kami tangani. Namun, untuk suatu aktivitas yang bersifat menetap, misalnya untuk pembuatan tayangan di platform Youtube, kami mengalami kesulitan untuk video katekese, podcast. Begitupun kalau liputan kegiatan di stasi masih bisa ditangani dan dimintai tolong kontributor stasi setempat untuk mengirimkan teks dan foto sehingga dapat dimuat di Facebook (Fb) dan Instagram (IG). Begitupun dengan kegiatan yang berlangsung di pusat paroki, masih tertangani. Liputan kegiatan stasi terbatas pada stasi yang ada atau tidak ada kontributornya.

Selalu ada terjadi momen atau kegiatan yang tidak terliput, terekspos karena di stasi tersebut tidak ada kontributor ke Seksi Komsos Paroki. Hingga kini, tidak sampai 10 stasi dari 40-an stasi di paroki ini yang ada kontributornya dan terlibat aktif. Memang, lokasi stasi pun beragam. Ada yang tergolong masih dekat dengan pusat paroki, namun ada pula yang jauh, butuh waktu tiga jam hingga empat jam perjalanan mobil dari pusat paroki.  

Kami pernah menyampaikan kendala Seksi Komsos ini kepada pastor paroki sembari berharap adanya solusi. Namun, hingga kini, kami dan pastor masih bingung menemukan sebuah solusi yang pas atau cocok. Saya pernah mengungkapkan, bahwa bila ingin Seksi Komsos Paroki benar-benar aktif dan hidup, mestilah ditangani dan dilakukan oleh pihak yang berkonsentrasi penuh di bidang pelayanan pewartaan lewat media komunikasi. Sehingga tidak terpecah perhatian atau sekedarnya saja. Kerap, waktu kami berdua pun tidak bisa penuh dan fokus. Saya misalnya, adalah seorang guru di SMK YPL. Rekan satu seksi, Jeli Manalu adalah ibu rumah tangga dengan dua anak yang masih kecil dan punya kedai kecil-kecilan. Karena kondisi inilah, pergerakan kami sebagai Seksi Komsos Paroki menjadi terbatas. 

Lawrence Herianto, ST
Seksi Komunikasi Sosial Dewan Pastoral Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Airmolek.
Guru SMK Yayasan Pendidikan Lirik Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *