Teman atau sobat untuk ngobrol banyak, baik seiman maupun bukan. Tidak hanya sesama lelaki juga lawan jenis. Hanya saja, dalam hal jalinan hubungan khusus dengan lawan jenis, baru saja mulai dijalin sekarang. Kini, saya berusia tiga puluh tiga tahun. Banyak hal jadi bahan pertimbangan saya.

Bagi saya, sejumlah pertimbangan mesti dilakukan sebab ‘hubungan khusus’ hingga jenjang pernikahan bukanlah suatu permainan, apalagi hanya sekali seumur hidup. Pernikahan bukanlah barang mainan. Untuk itu, saya dan calon perlu saling mengenal (pribadi dan sosial). Saya prihatin dengan banyak kejadian pernikahan pada usia dini/muda yang sangat kurang persiapan dan kematangan (berpikir dan menjalani hidup berumah tangga). Ujung-ujungnya perceraian.

Pertimbangan ekonomi menjadi hal yang mendapat perhatian saya. Memang, kadang kala terpikirkan persiapan ekonomi setelah itu baru berpikir untuk menjalin ‘hubungan khusus’. Bagi saya, niat dan usaha mesti dijalani dua pihak (saya dan calon pasangan hidup). Kalau memang sungguh-sungguh mau bersama menjalin kearah yang serius, pastilah jauh hari sebelumnya dibicarakan dan dipersiapkan. Kalau ada kekhawatiran bahwa saya telah berusia di atas tiga puluh tahun, bagi saya hal demikian merupakan hal sangat penting dipertimbangkan dan berpikir hidup berkeluarga di waktu mendatang. Orang menganggap usia saya telah sangat matang. Bagi saya, pengambilan keputusan untuk menjalin dan berkeluarga mestilah sungguh dari keyakinan penuh; terutama dari aspek pasangan hidup, kemampuan ekonomi, dan beberapa perbedaan yang ada pada pasangan. Mesti jadi perhatian: menyatukan karakter dan pribadi di antara dua insan yang berbeda aneka latar belakangnya.

Jujur, saya pernah mengalami kendala tatkala menjalani relasi/hubungan pada beberapa calon sebelum sekarang ini. Hanya saja, relasi tersebut berujung tragis. Penyebabnya karena perbedaan budaya, karakter, ekonomi, dan situasi. Telah dua bulan berlangsung, saya menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang akan diwisuda. Saya tetap berusaha. Perihal jodoh/pasangan hidup, saya percayakan pada Tuhan Yang Mahakuasa. Memang tidak cukup hanya berdoa semata karena mesti diiringi dengan upaya/usaha. Tiada kata jera membangun hubungan. Kini, saya lebih paham memilih pasangan dengan beberapa pertimbangan/kriteria. Saya tetap berusaha,mencari pasangan dan mengupayakan kesesuaian karakter dan pribadi. Telah dilakukan. Tidak hanya dipikirkan maupun direncanakan.

Selain kesesuaian karakter dan aspek kepribadian, pertimbangan agama calon pasangan juga menjadi kriteria. Saya tetap berusaha mencari dan menemukan pasangan hidup yang seiman. Mengapa? Dengan agama dan iman yang sama, saya merasa bisa sejalan dan ‘lebih aman’ dalam perjalanan hidup berumah tangga kelak. Yang terjadi sekarang, saya dan calon sedang dalam tahap perkenalan karakter dan pribadi masing-masing dengan budaya yang sama. Singkat kata, saya peringkatkan kriteria ‘penemuan’ pasangan hidup: (1) memahami situasi saya, (2) mau menerima diri saya dan keluarga saya, (3) mau menerima situasi kondisi/keadaan ekonomi saya, (4) seagama-seiman, (5) bisa dan mau menyesuaikan budaya. Semoga hubungan kami berdua lancar. Kalau tidak ada halangan, kami menargetkan satu tahun mendatang, hubungan tersebut diresmikan secara agama, adat, dan diakui negara.

Rofinus Juling Sadodolu
Tenaga Honorer Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai/hrd

1 Komentar

  1. Prinsip yang bijak, semoga segala niat mulia itu Tuhan nyatakan dalam hidup kita, salam kenal dari saya.Gbu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *