Mungkin kita pernah mendengar beberapa istilah dunia psikologi; misalnya introvert, ekstrovert, bahkan ambivert yang merupakan ‘kombinasi’ introvert dan ekstrovert. Secara khusus, pada edisi ini, kita bahas tipe kepribadian introvert. Individu dengan tipe kepribadian introvert adalah individu yang mempunyai energi atau semangat bila dalam bekerja dalam keadaan sunyi/sendirian, tidak berhubungan atau minim bekerja sama atau berkontak dengan orang lain.

Biasanya, orang introvert mempunyai ‘keunggulan’ tersendiri. Karena punya tenaga/energi dari kesendiriannya atau minim kontak dengan orang lain; maka individu dengan tipe kepribadian introvert lebih reflektif, dapat menempatkan diri lebih baik, bisa memandang suatu hal dari sudut pandang berbeda. Individu ini pun mampu mengelola sesuatu secara lebih baik dan cermat serta punya inovasi yang tinggi. Sementara itu, pada sisi lain, individu ini lebih sering dianggap sebagai orang yang penyendiri, dipandang tidak bisa atau tidak mampu bersosialisasi dengan baik. Individu introvert ‘tidak bisa produktif’ atau tidak maksimal dalam pekerjaannya bila terlalu banyak berkontak dengan orang lain. Bila individu tipekal semacam ini diberi pekerjaan untuk melobi orang lain, maka sangat perlu usaha keras dari yang bersangkutan. Singkat kata, orang introvert tidak bisa leluasa dalam bekerja dan memaksimalkan dirinya.

Mungkinkah seseorang introvert sekaligus ekstrovert? Ada individu yang mampu bekerja maksimal dalam kesendirian atau tidak banyak berkontak dengan orang lain. Namun, di satu ketika, pada hal-hal yang disukai individu introvert, maka yang bersangkutan dapat menjadi seorang ekstrovert. Pada keadaan ini, individu tersebut sangat terbuka, mampu berbagi pendapat dengan orang lain – sesuai dengan minatnya.

Apa tips bagi individu introvert? Memang lebih baik bagi seseorang mengetahui tipe kepribadiannya: introvert atau bukan! Yang bersangkutan dapat mengatur bagaimana dirinya belajar, bekerja, bertindak, dan sebagainya. Memang, pekerjaan tidak dapat dipilih-pilih; tetapi seseorang dapat menyampaikan bahwa dirinya adalah orang introvert, sehingga lebih baik maksimal bekerja di balik layar, tidak banyak berkontak dengan orang lain. Berikutnya, tips 2, bersikap asertif, terkait manajemen waktu. Saat bekerja, banyak ajakan dari teman maupun rekan kerja (untuk makan di luar, hang-out, dan sebagainya). Lebih baik asertif saja, “saya sedang ada pekerjaan dan saya butuh waktu untuk bisa mengerjakannya sendiri.” Sikap asertif dibutuhkan agar pekerjaan tidak terlantar/terbengkalai karena tidak bisa menolak ajakan orang lain, padahal yang bersangkutan mesti membereskan/menuntaskan tanggung jawab tugas/pekerjaannya.

Sementara itu, di sisi lain, orang lain pun hendaknya ‘dapat memahami’ orang introvert; misalnya dalam permasalahan dan dalam dunianya, termasuk saat ‘melampiaskan kesedihannya’. Jangan heran, kalau orang introvert akan pergi sendiri ke satu tempat (ke kamarnya, ruangan lain), atau menulis sesuatu. Kita maklumi dan beri waktu orang introvert  menyembuhkan dirinya. Hendaknya dapat dimaklumi atau jangan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan situasi orang introvert. Ada pemakluman. Kita maklumi orang introvert yang sedang bekerja dan belajar menginginkan situasi sunyi dan menggunakan headset. Jangan dianggap sebagai orang yang sok-sokan, berlebihan. Orang introvert dimaklumi butuh kesendirian dan kesunyian saat menuntaskan tanggung jawab pekerjaannya.

Dalam penerimaan pekerja di sebuah perusahaan, biasanya ada assessment mengenai kepribadian tatkala melamar dan akan masuk ke suatu tempat kerja. Individu introvert misalnya, akan (cocok) ditempatkan pada bagian perencanaan. Sementara individu ekstrovert akan ditempatkan di garda depan; misalnya bagian marketing/pemasaran, pelayanan pelanggan (costumer service) serta pekerjaan (job) yang berkaitan dengan banyak orang.

Meski dianggap sebagai individu penyendiri, bukan berarti antisosial. Mengapa? Karena antisosial merupakan suatu gangguan mental dan punya kepribadian yang bisa membahayakan orang lain. Antisosial adalah suatu keadaan seseorang tidak bisa merasakan orang lainnya. Tidak punya empati. Tidak bisa menempatkan diri dengan baik. Tidak merasa bersalah tatkala menyakiti orang lain, secara fisik dan mental.

Mungkinkah orang introvert ‘diubah’ menjadi ekstrovert? Ada kemungkinan tersebut, namun terlebih pada penyesuaian diri seseorang dengan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukannya sehari-hari, misalnya orang introvert bekerja sebagai guru TK, dan sebagainya. Lambat laun, seseorang yang introvert bisa menjadi seorang ekstrovert.  Bisa juga terjadi, seorang introvert switch menjadi seorang ekstrovert karena tuntutan peran/kerja dan setelah itu kembali menjadi seorang introvert lagi.  Tipikal kepribadian introvert maupun ekstrovert dapat terlihat/terdeteksi saat seseorang masih kanak-kanak.  Ada anak yang suka berada di tengah keramaian, namun ada pula anak yang takut berada di tengah keramaian. Dirinya merasa nyaman kalau suasananya sepi/lengang. Tipikal ambivert dapat dibentuk oleh lingkungannya maupun factor keturunan. Setiap manusia memang unik/khas. (***)

Diasuh oleh: Theresia Indriani Santoso, S.Psi., M.Si
(Psikolog, Pendiri SMART PSY Consulting Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *