Bagi Brigita Ayu Dwi Putri S.S (25), menjadi salah satu guru Taman Kanak-kanak (TK) “Mutiara Harapan” Pangkalan Kerinci Riau sungguh mengasyikkan dan penuh tantangan. Alumni STBA Prayoga Padang (2020) ini berujar, “Mengajar anak TK butuh banyak kesabaran, pengawasan ekstra. Sungguh berbeda dengan anak di tingkat sekolah lebih tinggi.”

Gita, panggilannya, mengaku dirinya sempat mengalami kesulitan di awal semester. Saat itu, sambungnya, mereka (murid TK) belum mengenal dunia sekolah, mengapa harus bersekolah, dan kenapa tidak lagi ‘sang mama’ berada di dekat mereka. ┬áPendamping Bina Iman Anak Katolik (BIAK) Paroki Hati Kudus Yesus Pangkalan Kerinci Riau ini mengatakan “Menjadi guru TK mesti ekstra kreatif dalam kegiatan di kelas. Saya memantapkan langkah sebagai guru TK pada Januar 2022, karena senang dengan dunia anak dan pas dengan tipe kepribadiannya yang suka berkreasi. Dukungan semakin terasa karena sekolah ini berbasis sekolah internasional.

Anak kedua empat bersaudara dari pasangan Albertus Bambang Djoko Sulantoro (alm) dan Elisabeth Muliyani ini mengaku punya hal menarik saat mengajar. Salah satu peserta paduan suara OMK Paroki Hati Kudus Yesus Pangkalan Kerinci ini berujar, “Ketika anak jatuh hati dan nyaman dengan gurunya. Pernah ada salah satu orangtua muridnya dari Amerika Serikat berkisah ‘Ms. Gita is my mom at school, can we go to her house?’ (Miss Gita adalah ibu saya ketika di sekolah, bisakah kita pergi ke rumahnya? – Red) saat akhir pekan. Sampai saat jam pulang, murid tersebut mengatakan ‘I wanna stay here forever’ (Saya ingin tinggal di sini selamanya – Red.) Sungguh beda pada awal masuk karena bilang ‘I don’t wanna be here forever (Saya tidak ingin berada di sini selamanya – Red.).” (and)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *