“Kekuatan jiwa serta semangat hidup ada di dalam Tuhan! Kapan pun kita pergi dan di mana pun berada, Tuhan selalu ada dalam hidup kita,” kata P. Bernard Lie, Pr mengawali kegiatan Rekoleksi Pelajar SMP-SMA Murni Padang dalam rangka pastoral/bina iman, Senin (3/4).

Sebagai pembawa rekoleksi setengah hari ini, P. Bernard mengangkat tema seputar makna Paskah dalam kehidupan sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Rekoleksi diikuti 56 peserta di Aula Paroki St. Maria Bunda Yesus Padang. Kepada peserta, P. Bernard mengajukan pertanyaan, “Apakah Yesus merayakan Hari Paskah?” Jawaban peserta terbelah: merayakan dan tidak merayakan.

P. Bernard menjelaskan, “Yesus merayakan Hari Raya Paskah dalam konteks orang Yahudi yang berarti hari pembebasan orang-orang Yahudi dari penjajahan dan perbudakan Mesir. Lantas, apa makna Paskah bagi umat Kristiani? Paskah bermakna keselamatan. Sebagai pengikut Kristus, kita diselamatkan berkat darahNya yang tercurah di Kayu Salib. Yesus rela sengsara di salib demi menyelamatkan dan menghapus dosa umat manusia.”

Dalam rekoleksi ini, disampaikan materi seputar Pekan Suci, sebagai suatu pekan khusus bagi umat Katolik untuk mengenangkan kembali peristiwa Tuhan Yesus. Selama satu minggu, dalam Pekan Suci, umat Katolik mengingat kembali saat-saat Yesus masuk Yerusalem (peristiwa Minggu Palma) hingga kebangkitan-Nya (Minggu Paskah). Selama Pekan Suci dikenangkan kembali saat-saat Yesus ditangkap, diadili, menjalani ‘jalan salib’, wafat, dikubur, dan bangkit.

P. Bernard mengajak peserta rekoleksi menuliskan makna salib bagi kehidupan mereka. Peserta juga diajak menulis ‘daftar dosa’ yang diperbuat pada secarik kertas. “Saat kita berbuat dosa, sama halnya menambah beban Yesus memikul salibNya. Sebagai pengikutnya, kita mestilah sadar atas dosa yang telah diperbuat dan siap memikul salib bersama Kristus,” ucap P. Bernard. Jelang akhir rekoleksi, setiap peserta menempel ‘kertas daftar dosa’ pada kayu salib Yesus sebagai pertanda keberanian mengakui dosa. Kertas daftar dosa tersebut dibakar sebagai pertanda permulaan hidup baru yang lepas dari kungkungan dosa. Pada kesempatan ini, tidak hanya tentang seputar Paskah, P. Bernard mengingatkan peserta mengenai Sembilan Prinsip Dasar Kehidupan.

Usai rekoleksi, Oparlius Sarumaha (19), pelajar kelas XI SMA Murni berkomentar, “Rekoleksi ini menambah pengetahuan saya tentang hal-ikhwal tentang Paskah. Sebelumnya saya tidak terlalu memahaminya. Saya berharap kegiatan rekoleksi ini bisa lebih sering diadakan sekolah, karena dapat menambah pengetahuan seputar iman Katolik.” Di kesempatan sama, Friska Lusiana (17) siswa kelas X SMA Murni mengungkap, “Rekoleksi tentang Makna Paskah ini mengingatkan saya atas tantangan hidup yang saya jalani. Mengingat peristiwa sengsara yang dialami Yesus ini membangkitkan semangat dan keyakinan saya bahwa percaya kepada-Nya bakal bisa melewati tantangan hidup.”     

Salah satu guru senior – guru agama Katolik – yang ikut mendampingi peserta rekoleksi, Laurensia Susana Taslim (71) berkata,  “Melalui rekoleksi setengah hari ini, kita belajar tentang makna Paskah dan Pekan Suci, mulai dari sengsara hingga kebangkitan-Nya. Semoga pelajar lebih bisa belajar dan memperkuat iman dalam Kristus.” (and-hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *