Banyak pemuda dan pemudi Katolik yang sedang mencari pasangan/pendamping hidup sebagaimana diharapkan. Terkadang, mereka tidak menyadari bahwa jodoh ada bersama dengan mereka selama ini, bahkan melekat sedari awal. Terkadang, jadi ‘kebodohan’ yang dialami sebagai umat Tuhan dan tidak mengerti faktor apa saja yang perlu untuk mencari dan menemukan pasangan hidup yang benar.

Akhirnya, pemuda maupun pemudi Katolik mencari pasangan hidup yang berada di luar iman, menggadaikan keselamatan demi pasangan hidup. Maka, tidak mengherankan bila seseorang – yang bahkan pada mulanya tampak aktif dalam berbagai keterlibatan menggereja tiba-tiba ‘mundur tanpa berita’ (disingkat muntaber) karena ternyata menikah dengan seseorang dari keyakinan lain; entah pindah denominasi gereja maupun menjadi seorang mualaf.

Maka, setidaknya ada empat hal tentang pasangan hidup yang sesuai firman Tuhan. Pertama, seiman dalam Yesus Kristus. Seiman berarti memiliki konsep Allah yang sama dengan pasangan. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (lih. II Kor. 6:14).

Kedua, takut akan Tuhan. Pasangan yang takut akan Tuhan membawa pasangan tersebut pada kebenaran atas firman Tuhan. Dialah yang memberikan karakter yang mampu menuntun pasangan tersebut pada jalan yang benar. Khusus bagi seorang lelaki yang (kelak) menjadi imam dalam rumah tangga. Sebagai kepala rumah tangga, suami harus dapat menuntun isterinya mendekatkan diri pada Tuhan. Isteri merupakan penolong suami untuk mewujudkannya. Pondasi yang kokoh dalam rumah tangga mestilah berpatokan pada hal ini. Pasangan hidup merupakan penyokong dalam segala aktivitas rohani agar bertumbuh lebih lagi.

Ketiga, satu visi dalam merancang masa depan. Berarti suami-isteri memiliki visi yang sama meski panggilan berbeda, melainkan saling mendukung untuk memuliakan Tuhan lewat pernikahan pemuda-pemudi Katolik. Keempat, tentu saja mendapat restu orangtua. Kita harus taat dan hormat pada orangtua sebagai pemilik otoritas dalam keluarga. Orangtua merupakan pribadi yang mewakili Tuhan di kehidupan di bumi ini. Sebagai anak, kita harus menaati perintah atau sikap orangtua, termasuk dalam hal pemilihan pasangan hidup. Dalam Kitab Ulangan, Tuhan berfirman, “Hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu …” (lih. Keluaran 20:12). Dalam hal memilih pasangan hidup, seharusnyalah kita, sebagai anak, meminta nasihat orangtua. Seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita haruslah orang yang juga menghormati orangtua kita.

Ada pepatah mengatakan jodoh di tangan Tuhan. Sebuah kalimat yang juga diyakini kalangan kita: jodoh adalah takdir yang ditetapkan Tuhan. Sebab itu, setiap kita mesti melibatkan Tuhan dalam upaya mencari pasangan hidup. Sebenarnya, terdapat sejumlah nats Kitab Suci terkait perjodohan atau pasangan hidup; diantaranya: Kejadian 2:18 (“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.“), Matius 19:5-6 (“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.“).

Nats lainnya diambil dari Kejadian 2:22 (“Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.“); 1 Korintus 7: 4-5 (Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa.“); 1 Korintus 11: 11-12 (Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.“).

Kutipan lain Kitab Suci terkait yang ‘terkenal’ berkaitan relasi suami-isteri: Efesus 5:22-24 (“Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu.“) dan Efesus 5:25-27 (Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.“)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *