Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) melakukan ‘penyesuaian’ Kurikulum Merdeka Belajar. Langkah ini diambil setelah tes membaca, menulis, dan menghitung (calistung) dihapus dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang Sekolah Dasar (SD) atau atau Madrasah Ibtidaiyah (MI).  Hal tersebut disampaikan Direktur Sekolah Dasar Kemdikbudristek Muhammad Hasbi, Kamis (30/3).

Ditambahkannya, “Kini, Kurikulum Merdeka Belajar lebih menekankan pada keselarasan capaian pembelajaran antara jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan SD kelas awal.  Anak tidak lagi diharuskan dan ditekan untuk bisa membaca, menulis dan berhitung sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar kelas awal.  Kemampuan literasi dan numerasi dapat diperoleh hingga kelas dua akhir di fase A SD.”

Terkait ‘penyesuaian’ ini, Hasbi menuturkan, “Harus diikuti penyesuaian strategi pembelajaran.  Pada proses awal penerimaan peserta didik, anak-anak dan para orangtua perlu dikenalkan dengan lingkungan belajar mereka. Diharapkan tumbuh rasa aman dan nyaman yang akan melahirkan konsep positif terhadap belajar. Guru pun perlu melakukan kegiatan belajar untuk memperoleh informasi awal terkait kemampuan setiap anak, dan menjadikan informasi tersebut sebagai landasan untuk mengembangkan pembelajaran yang berdiferensiasi (berpusat kepada anak).”

Sebelumnya, Mendikbidristek Nadiem Makarim menghapus calistung dalam PPDB Jenjang SD lantaran masih saja terjadi miskonsepsi (atau kesalahpahaman) mengenai calistung pada pendidikan anak usia dini (PAUD). “Mas Menteri’ Nadiem menilai pengajaran calistung pada anak selama ini menggunakan metode yang salah. Akibatnya, anak menganggap sekolah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. “Tatkala ada persepsi mengenai calistung sebagai satu-satunya yang penting dalam pembelajaran PAUD menimbulkan dampak pada anak. Penghapusan tes calistung bukan berarti calistung tidak lagi menjadi topik yang tidak penting diajarkan di PAUD,” ucapnya.

Menurut Nadiem, persepsi mengenai calistung adalah satu-satunya yang penting dalam pembelajaran PAUD menimbulkan sejumlah konsekuensi pada anak. Ia menilai konsekuensi paling menakutkan: anak merasa bahwa belajar itu tidak menyenangkan sejak usia dini.  “Jika anak merasakan belajar bukan proses yang menyenangkan sedari masa PAUD, maka sangat sulit memutar balik persepsi anak bahwa bersekolah itu menyenangkan. Suatu hal yang membuat saya kesal bahwa tes calistung dijadikan kriteria anak masuk SD/MI. Suatu hal yang tidak bisa lagi ditolerir,” ungkap ‘Mas Menteri’ Nadiem.

Sehubungan penghapusan tes calistung pada PPDB jenjang SD,  maka Kurikulum Merdeka Belajar Episode ke-24 memadatkan satuan pendidikan untuk pertama, menghilangkan semua jenis tes calistung dari proses penerimaan murid di SD. Adalah hak anak masuk SD. “Jangan terjadi seakan SD tidak memiliki tanggung jawab sama sekali untuk mengajarkan calistung pada anak didik, sebab dianggap menjadi ‘tugas’ PAUD. Masih banyak anak di Indonesia tidak berkesempatan masuk PAUD sebelum masuk SD. Lagipula, tes calistung sebagai bagian proses PPDB di tingkat SD melanggar PP No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan serta Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 1 Tahun 2021 tentang PPDB.

Sementara itu, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta Mendikburistek Nadiem Makarim serius menghapus tes membaca, menulis, dan menghitung (calistung) dalam penerimaan siswa Sekolah Dasar (SD).  Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim khawatir kebijakan tersebut hanya sekedar ‘pemanis kata’ (lips service) Nadiem kepada media massa. Bahkan, Satriwan mengingatkan penghapusan tes calistung bukan kebijakan baru Nadiem, sudah lama ada, sejak tahun 2010, melalui Peraturan Pemerintah. Sebab itu, lanjutnya, Mendikbudristek Nadiem mesti menyosialisasikan rencana penghapusan calistung masuk SD ke seluruh sekolah Indonesia sekaligus pemberian sanksi kepada sekolah yang melanggar.

Tidak Wajibkan Pembelajaran Calistung!

Tatkala dimintai komentarnya, Pelaksana Kegiatan Yayasan (PKY) Yayasan Prayoga Padang, Dra. Poppy Fransiska menyatakan, “Yayasan Prayoga Padang tidak mewajibkan adanya pembelajaran calistung secara terstruktur! Walaupun ‘TK tetangga’ sudah melaksanakan calistung dan mengakibatkan TK di Yayasan Prayoga menjadi berkurang peserta didiknya, namun kita tetap meyakini bahwa PAUD adalah Taman Kanak-Kanak yang wajib menjadi taman belajar yang menyenangkan dengan fun learning. Belajar sambil menyanyi, mewarnai, gerak dan lagu, praktik bermain lainnya yang akan membentuk kemampuan fondasi   yang benar.”

Poppy menegaskan bahwa anak usia dini seharusnya mendapatkan pendidikan yang menyenangkan, pendidikan yang mengutamakan kemampuan pondasi, terdiri enam aspek holistik, untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak, yakni: (1) mengenal nilai agama dan budi pekerti yang baik untuk landasan keimanan anak, (2) kemampuan sosial dan bahasa yang memadai untuk berinteraksi secara sehat dengan teman sebaya dan orang lain di sekitarnya, (3) kematangan emosi yang cukup untuk berkegiatan di lingkungan belajar, (4) kematangan kognitif yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar seperti dasar literasi dan numerasi serta hal-hal mendasar yang terjadi dalam kehidupan keseharian anak, (5) pengembangan ketrampilan motorik dan perawatan diri untuk dapat mandiri di lingkungan sekolah, dan (6) pemaknaan terhadap belajar yang positif.

Mantan Kepala SMA Katolik Xaverius Padang ini menambahkan, “Pembelajaran holistik ini penting dan sangat diharapkan terjadi dalam dunia PAUD. Pembelajaran yang menyenangkan; membenarkan dulu sikap dan toleransi anak beragama serta berperilaku baik dan benar. Membenarkan dulu bahasa anak yang masih belum lancar; Mengajarkan anak mampu bersosialisasi dengan teman sebaya dan orang-orang di lingkungannya; Mengajarkan anak bagaimana merawat diri dengan baik (misalnya memotong kuku yang panjang, menyisir rambut, menyikat gigi yang benar). Anak hendaknya memaknai semua pembelajaran ini dengan menyenangkan.”

Poppy mengibaratkan rencana pembangunan sebuah rumah/gedung yang kokoh, maka pondasinya harus benar dan kuat, serta dibangun dengan materi-materi yang tepat dan benar.  “Begitulah halnya dengan Pendidikan anak.

Mari izinkan anak senang pergi PAUD tanpa rasa takut jika tidak bisa menghafal hitungan atau menulis angka dengan baik, apalagi belajar menambah dan mengurang serta menulis huruf dan kata-kata. Antarlah anak ke PAUD tanpa perlu khawatir mereka menangis karena mereka dididik dengan konsep pendidikan yang benar dan menyenangkan. Mereka memiliki jadwal makan dan dilatih bagaimana makan dan minum yang benar. Anak tidak perlu menangis jika ditinggalkan orangtuanya. Anak merasa aman dan nyaman bersosialisasi dengan teman sebayanya. Itulah yang mesti mereka rasakan dunia PAUD. Belajar dengan menyanyi, mengenal warna, mewarnai dengan benar, mengenal lingkungan sambil mengembangkan motorik dan pengetahuan yang dibutuhkan. Semuanya serba menyenangkan,” paparnya lagi.

Mantan Kepala SMA Don Bosco Padang ini menyayangkan orangtua yang merasa sangat bangga jika anaknya – yang masih usia dini – sudah bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). “Orangtua tidak memahami bahwa mampu membaca tanpa tahu makna kata berarti miskonsep! Anak mampu menghafal tanpa tahu maknanya adalah pendidikan yang keliru! Anak mampu berhitung namun belum memiliki kesadaran bilangan adalah konsep yang salah! Belum terbinanya kemampuan emosi serta mengatur dirinya adalah kekeliruan yang pasti!” tandasnya.

Poppy melihat banyak orangtua puas jika anaknya bisa calistung dan meyakini bahwa anaknya tergolong pintar dan menganggap ‘sekolah PAUD’ bagus dan bermutu jika anak usia dini (di bawah usia enam tahun) sudah mengajarkan calistung. “Jika anak belum mampu calistung, maka anak dipaksa les privat agar mampu calistung. Orangtua hanya menilai keberhasilan pendidikan anaknya jika bisa calistung sebelum masuk SD. Padahal membangun kemampuan pada anak tidaklah sebuah proses yang instan! Ada tahapan yang perlu dilalui anak dan penting dilakukan dengan menyenangkan. Orangtua mestilah menyadari bahwa proses belajar bagi anak usia dini tidak harus berfokus pada kemampuan intelektual atau kognitif saja,” ungkapnya.

Poppy menyatakan dirinya sejak dulu menyadari bahwa di TK (Taman Kanak-Kanak) adalah tempat anak bermain dan bersosialisasi. “Namanya juga Taman. Makna kata taman tentu saja sebuah tempat yang menyenangkan, di taman kita merasa segar, nyaman, senang. Jangan jadikan taman itu tempat yang menyesakkan, memenjarakan, mengkarantina anak dengan hafalan dan rumus. Sedari dulu, pemerintah telah mengimbau PAUD adalah tanpa calistung! Tetapi, sekolah-sekolah tertentu masih tetap saja melaksanakannya. Bisa jadi hal itu terjadi karena tuntutan orangtua atau ketidakmengertian oknum sekolah yang bukan linear,” tukasnya.

Penghapusan tes calistung dalam PPDB SD, sambung Poppy, mestilah kita dukung. “Pendidik di SD, khususnya kelas 1, wajib memiliki cara, strategi, dan metoda mengajar calistung yang tepat dan benar. Kurikulum Merdeka PAUD dirancang untuk menguatkan kemampuan pondasi anak secara holistik dan terintegrasi melalui kegiatan bermain yang bermakna dan dijabarkan jam belajar dan Struktur Kegiatan Pembelajarannya,” ucap Poppy mengakhiri.

Seakan Prestise Tersendiri

Ujaran senada disampaikan PKY Yayasan Pendidikan Murni Padang, Veridiana Somanto, M.Pd. “Seharusnya tidak boleh tes! Tetapi, adakalanya, sekolah yang mengadakan tes seakan sebuah gengsi atau prestise tersendiri. Seakan, kalau sekolah tersebut menyelenggarakan tes, sekolah itu adalah sekolah unggul dan bagus. Sedangkan kebijakan Menteri sebelum yang sekarang ini, di TK tidak boleh diberikan pelajaran calistung. Yang diperbolehkan adalah bermain sambil belajar,” ucap Veridiana.

Dirinya mengakui kerap mendengar percakapan guru SD, terutama kelas I, “Anak ini berasal dari TK mana?” Muncul anggapan, seakan kalau anak tersebut berasal dari TK “X” bakal payah karena tidak ada yang bisa calistung. Beda dengan anak yang berasal dari TK “Y”. Sementara itu, ada kekhawatiran orangtua kalau anaknya belum kunjung bisa calistung. Begitupun dengan sekolah, karena menyangkut nama baik sekolah yang bakal diperbincangkan – bahkan dipertaruhkan.”

Menanggapi situasi tersebut, sambung Veridiana, di lingkungan sekolahnya setelah satu semester anak berada di TK Murni – atau setidaknya tiga bulan sebelum wisuda TK jelang masuk SD – diperkenalkan dengan kemampuan calistung. Jelang akhir semester pertama, lanjutnya, orangtua sudah mulai bertanya-tanya, “Kapan anak kami diajari baca, tulis, dan berhitung?” Terhadap hal tersebut, biasanya kami tanggapi “Ya, nanti setelah semester berikutnya, Bapak/Ibu!” Di semester kedua, kita berikan kepada anak-anak, sehingga saat SD, mereka tidak ada kesulitan lagi mengenal calistung. Jangan khawatir, Bapak/Ibu!” Itulah respon kami terhadap para orangtua murid,” tukas Veridiana.

Merujuk pada pengalaman masa kecilnya, Veridiana mengatakan, “Pengenalan dan kemampuan calistung berlangsung saat saya berada di sekolah dasar. Tidak saat TK. Hanya saja, sepertinya kini menjadi tuntutan – seturut perkembangan waktu – terutama dari kalangan guru SD bila anak ‘belum dibekali’ dengan kemampuan calistung. Mereka bakal kasak-kusuk. Anak ini berasal dari TK mana? Koq, payah sekali kemampuan calistung mereka?! Sementara itu, banyak juga TK, apalagi yang terkenal, berlomba-lomba mengajarkan calistung. Malahan, orangtua mengikutsertakan anaknya les di luar sekolah dengan harapan anak-anak tersebut bisa bersaing, berkompetisi dengan anak-anak lainnya, yang telah mampu calistung. Beda dengan anak kami di sini! Tidak ada ‘les’ di luar jam sekolah, apalagi mayoritas orangtua tidak mampu membiayai les. Maka, tidak tepatlah orangtua ‘memaksa’ anak ikut les calistung.”

Dalam pengamatan Veridiana, kebijakan Menteri Nadiem bagus. “Tetapi apa boleh buat, tuntutan di lapangan berkata lain. Di sini, Murni Padang, pada semester dua, anak telah diperkenalkan dengan calistung. Sehingga selesai TK, anak tidak mengalami kesulitan calistung.  Hal tersebut tidak luput persaingan ketat antarsekolah dan gengsi. Sebelum masukkan anaknya ke TK, orangtua suka bertanya, “Apakah di TK ini, anak belajar calistung?” Kalau dijawab, “Belum belajar calistung semasa TK. Nanti sewaktu SD, barulah belajar calistung?” Dalam situasi seperti itu, yang terjadi, orangtua malah memilih TK lain yang ada calistungnya. Tentu saja, hal ini berbahaya bagi ‘kelangsungan hidup’ TK kami. Untuk masuk kelas I SD Murni, pasti tidak dilakukan tes calistung sebagai syarat kelanjutan dari TK,” ungkapnya.

Dari pemantauannya selama ini, sembilan tahun sebagai PKY, Veridiana memang mendapati kemampuan calistung alumni TK Murni saat kelas I SD lebih baik. “Sebab sudah mendapat pembelajaran calistung pada semester dua atau setidaknya tiga bulan sebelum selesai TK. Hanya saja, tampak banyak yang terkendala calistung, karena berasal dari PAUD atau TK swasta lainnya, termasuk PAUD yang terdapat di kompleks perumahan, sebab mereka tidak terlalu intens dalam proses belajar-mengajar (PBM). Porsi waktu lebih banyak dihabiskan untuk bermain semata. Tidak ada pengajaran calistung. Pun, jarang kegiatan luar ruangan (outdoor),” katanya.

Ada hal menarik disampaikan Veridiana, “Kami, sebagai lembaga pendidikan, berusaha dapat memenuhi harapan dua pihak, yakni pemerintah dan orangtua. Orangtua menginginkan anaknya bisa calistung saat meninggalkan TK, supaya tidak malu-maluin saat anak di kelas I SD. Selama 9 tahun sebagai PKY Pendidikan Murni Padang, tidak pernah ada tes calistung bagi anak masuk kelas I SD!  Kami terima murid sebanyak-banyaknya, termasuk dari TK luar Murni. Dalam pelaksanaannya nanti, barulah akan ditanyakan penilaian dari guru kelas I SD. Bisa terlihat setelah satu bulan pertama. Kerap, guru kelas I SD mesti kerja ekstra menghadapi murid yang lambat calistungnya. Anak yang lambat calistung tinggal di kelas sementara temannya sudah pulang duluan untuk belajar calistung. Kami sadari anak tidak bisa ikut les calistung karena kondisi ekonomi keluarga tidak mendukung. Kami berharap orangtua ikut bantu kemampuan calistung anaknya di rumah.”

Ungkapan sama diutarakan Kepala TK Murni Padang sejak tahun 2015, Paula Lindawati, S.Pd., katanya, “Memang, sebenarnya, untuk anak TK diprogramkan hanya bermain.  Tidak ada calistung sama sekali. Tetapi, tatkala di SD, mereka dianggap sudah siap calistung. Terjadi kesenjangan, karena pada satu sisi, pemerintah mengatakan tidak boleh ada calistung saat PAUD/TK. Di luar sekolah, terlihat orangtua tidak sabaran menginginkan pembelajaran calistung bagi anak-anaknya.  Situasi di TK, pada umumnya terdiri dari anak TK (usia 5- 6 tahun) yang siap masuk SD namun ada pula yang masih ingin terus bermain. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *