Mulanya, masyarakat Tinambu berjumlah 38 keluarga Katolik (atau 175 jiwa) berupaya mendirikan sebuah bangunan gereja. Di tahun 2009, karena umat setempat sangat bersemangat serta berkat pertolongan Tuhan, berdirilah gereja baru. Memang, saat itu, bentuk bangunannya masih darurat, tetapi sudah layak dipakai umat Tinambu untuk beribadah.

Selanjutnya, pada Agustus 2010, umat Katolik Tinambu mengundang Pastor Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut (P. Antonius Wahyudianto, SX) untuk membentuk dan mengesahkan menjadi sebuah stasi. Disetujui dan dipilih nama pelindungnya yakni Santo Thomas. Saat itu, sekaligus berlangsung pemilihan baja’ gereja yang bernama. Terpilih Yohanes Imsyal sebagai baja’ gereja pertama Stasi St. Thomas Tinambu. 

Pada tahun 2018, gereja Stasi St. Thomas ini rusak berat akibat faktor usia gereja yang dibangun sembilan tahun sebelumnya. Gereja stasi tersebut tidak bisa dipakai umat untuk beribadah. Akhirnya, sebagian di antara umat pindah ke agama lain (Islam). Sementara sebagian umat masih tetap mempertahankan agamanya (Katolik). Di tahun 2019, pemerintah desa setempat – seorang Katolik – bernama Nicolaus Sakodobat mengizinkan umat Stasi Tinambu  beribadah di Balai Dusun Tinambu. Walau bersifat sementara waktu hingga dibangun gereja yang lebih baik.

Di tahun yang sama (2019), pelayanan pastoral umat di Stasi Santo Thomas Tinambu dialihkan dari Paroki Siberut ke Paroki Santo Damian Saibi Muara, Siberut Tengah.  Saat itu, terdapat 14 keluarga Katolik (atau 54 jiwa). Sekarang, umat Katolik di Tinambu telah memiliki sebuah bangunan gereja terbuat dari kayu. Pembangunan gereja dimulai 15 Agustus 2022. Gereja dengan nama pelindungnya Santo Paulus Miki telah selesai pembangunannya. Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto memberkati dan meresmikan gereja baru ini (27/3) sore. (Sumber: Arsip Paroki St. Damian Saibi Muara, Siberut Tengah, Kepulauan Mentawai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *