(Dalam Rangka Hari Komsos Sedunia Tahun 2023)

Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-Keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, Vatikan menerbitkan Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57, pada tanggal 24 Januari 2023, tepat pada hari Pesta Santo Fransiskus de Sales, pelindung para wartawan Katolik.

Dalam rangka peringatan 400 tahun wafatnya, Bapa Suci menulis tentang figur ini dalam Surat Apostolik Totum Amoris Est (‘Segalanya tentang Cinta’). Fransiskus dari Sales adalah seorang Uskup Jenewa pada awal abad ke-17, seorang intelektual brilian, penulis hebat, dan teolog besar yang hidup pada masa-masa sulit yang ditandai oleh perselisihan sengit dengan kaum Calvinis. Sikapnya yang lemah-lembut dan sabar untuk berdialog dengan semua orang, terutama dengan mereka yang tidak sependapat dengannya, membuat dirinya menjadi saksi luar biasa akan cinta Tuhan yang berbelas kasih. Oleh karenanya, pada tanggal 26 Januari 1923, seratus tahun yang lalu, Fransiskus dari Sales ditetapkan oleh Paus Pius XI sebagai Santo Pelindung Jurnalis Katolik melalui Ensiklik Rerum Omnium Perturbationem (Tentang Segala Gangguan).

Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-57

Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-57 tahun ini akan kita peringati pada hari Minggu sebelum Pentakosta, tanggal 21 Mei 2023. Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini adalah “Berbicara dengan Hati: Veritatem Facientes in Caritate” (Melakukan Kebenaran dalam Amal). Tema tersebut mengingatkan kita akan tema sebelumnya tahun 2022 yang berjudul “Mendengarkan dengan Telinga Hati”. Pesan tahun ini mendesak para komunikator untuk berkomunikasi dengan ramah dan tidak pernah mengejar komunikasi yang bermusuhan.

Dalam pesan itu, Paus memuji St. Fransiskus de Sales karena memberikan teladan yang berharga bagi para komunikator. Bagi orang suci itu, kata Paus, komunikasi adalah “cerminan jiwa” dan manifestasi cinta. Fransiskus de Sales menunjukkan “kita adalah apa yang kita komunikasikan,” dan memberikan kesaksian “melawan arus” ketika komunikasi sering “dieksploitasi sehingga dunia dapat melihat kita seperti yang kita inginkan dan bukan seperti kita.” Paus Fransiskus mengimbau para komunikator untuk selalu berbicara dari hati, dan menemukan kata-kata yang tepat untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Di dunia yang “sangat condong ke arah ketidakpedulian dan kemarahan, kadang-kadang bahkan atas dasar disinformasi yang memalsukan dan mengeksploitasi kebenaran,” kata Paus, sangat penting ada ruang untuk mewartakan kebenaran, “bahkan jika kadang-kadang tidak nyaman.” Paus menyerukan kata-kata yang mampu berbuat baik untuk orang lain dan menyentuh bahkan “hati yang paling keras”. Dia mendesak para komunikator, bahkan dalam iklim global kita yang dramatis, untuk menyampaikan “kekuatan cinta yang lembut.”

Sementara pesan itu terutama diarahkan pada mereka yang bekerja dalam komunikasi, Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk berkomunikasi “dengan hati dan tangan yang terbuka.” Jadi komitmen itu tidak hanya berlaku bagi mereka yang berada di bidang komunikasi, melainkan harus menjadi tanggung jawab semua orang beriman.

Paus melihat kembali konteks konflik global yang kita alami dan menegaskan kembali betapa perlunya “suatu bentuk komunikasi yang tidak bermusuhan” untuk mempromosikan “budaya damai”, yang mampu mengatasi kebencian dan permusuhan. Eskalasi perang yang ditakuti umat manusia saat ini, tulis Paus, “harus dihentikan secepat mungkin, juga pada tingkat komunikasi” karena kata-kata sering kali berubah menjadi tindakan seperti perang dengan kekerasan yang keji. Dia menambahkan, “Kita membutuhkan para komunikator yang terbuka untuk berdialog, terlibat dalam mempromosikan pelucutan senjata integral, dan berkomitmen untuk menghentikan sikap emosional agresif yang bersarang di hati kita.” Itulah sebabnya “mengapa semua retorika perang dan kekerasan harus ditolak. Tidak ada tempat untuk setiap bentuk propaganda yang memanipulasi kebenaran dan merusaknya untuk tujuan ideologis. Sebaliknya, yang harus dipromosikan adalah komunikasi yang membantu menciptakan kondisi untuk menyelesaikan perselisihan antarbangsa.”

Peperangan selalu menyisakan sakit hati, kekacauan, dan rasa saling tak percaya. Meninggalkan luka yang sewaktu-waktu bisa berdarah lagi. Namun, rasa kemanusiaan dan kebaikan hati masih bisa jadi pemberi harapan.

Dalam akhir pesannya, Paus berdoa untuk para jurnalis, dan untuk kita semua yang harus menjadi komunikator, agar Yesus membantu kita untuk membuat komunikasi kita jelas, terbuka dan sepenuh hati… agar kita mampu “mendengarkan detak jantung” dan “menemukan kembali diri kita sebagai saudara dan saudari, untuk melucuti permusuhan yang memecah belah dan membantu kita berbicara kebenaran dalam kasih, agar kita dapat merasa seperti pelindung satu sama lain.”

Pesan Paus di tengah Harapan dan Kenyataan Seksi Komsos Paroki

Dalam rangka menanggapi tantangan kebangkitan dunia maya, yang bahkan dipercepat oleh situasi pandemik yang memaksa banyak orang untuk membatasi perjumpaan langsung, Gereja harus mampu mengintegrasikan teknologi baru di dalam pelayanannya, sejauh hal itu berguna untuk pewartaan Kabar Gembira. Gereja telah berusaha menanggapi kebutuhan ini sejak masa pandemik yang baru berlalu, dengan menggiatkan seksi Komsos di tingkat keuskupan maupun paroki-paroki.

Di beberapa tempat dinamika dan aktivitas Seksi Komsos dalam memanfaatkan teknologi dan media komunikasi sosial digital itu membuahkan hasil yang memuaskan, bahkan boleh dikatakan turut membantu pemasukan dana atau sumbangan bagi Gereja Paroki. Akan tetapi, di beberapa paroki di tempat yang susah sinyal, umat tetap harus dilayani dengan cara-cara kunjungan dan perayaan liturgi yang tradisional.

Memang benar dari data survey ada penurunan drastis kehadiran umat di Gereja sejak masa pandemik itu karena banyak orang merasa cukup ikut dalam pelayanan virtual saja. Sambil tetap “mengangkat jempol” dan berterima kasih pada usaha serta perjuangan Seksi Komsos Paroki untuk menjawab kebutuhan semacam ini, seharusnya kita tetap sadar juga bahwa perayaan sakramen dengan perjumpaan langsung itu tidak pernah tergantikan. Persis seperti pernah diamanatkan oleh Gereja: “Kenyataan virtual tidak dapat menggantikan kehadiran real Kristus dalam Ekaristi, realitas sakramental dari sakramen-sakramen yang lain dan kultus peribadatan yang dirayakan secara intim oleh satu komunitas insani yang memiliki darah dan daging.  Di internet tidak ada sakramen.” (Dokumen dari Komisi Komsos Kepausan 22 Februari 2002).

Paus Fransiskus juga pernah berpesan bahwa “jaringan internet membantu kita untuk menjadi lebih dekat, tetapi perlu dikurangi sikap instant untuk mengembalikan kemampuan mendengar. Perlu juga menghindari resiko pengisolasian diri dan penyingkiran yang lain.” (Pesan Paus Fransiskus pada hari komunikasi sosial ke-48 pada tahun 2014).

Oleh karena itu, kiranya Seksi Komsos Paroki memang harus “punya gengsi” dan harga diri! Mereka adalah corong utama Kabar Gembira dan kehadiran Sang Gembala sendiri di tengah umat. Maka teamnya harus selalu kreatif dan siap sedia untuk belajar menjangkau sebanyak mungkin umat, mendengar dan menyuarakan keluh kesah serta luapan sukacita mereka. Seksi Komsos Paroki harus pertama-tama juga keluar dari diri sendiri dan membangun jejaring dengan belajar seperti jemaat Kristen perdana. Pada masa itu juga Gereja dibangun dalam jejaring yang kompleks sebagaimana diberikan kesaksiannya oleh Kisah Para Rasul dan Surat-Surat Paulus.

Para misionaris gereja perdana memaksimalkan wahana yang ada pada jaman itu untuk membangun jejaring, dalam arti komunitas Kristiani, baik melalui jalan-jalan Romawi, perairan, surat, dan sebagainya. Semuanya rindu untuk dapat disapa dan menyapa, sebagaimana dikatakan dalam salah satu surat St. Paulus: “Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’ ” (Rom. 10:14-15).

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *