Romo Kebet sedang duduk santai di teras depan pastoran. Sembari menikmati kopi panas, Romo Kebet dihampiri sebelas Orang Muda Katolik (OMK) yang baru pulang latihan sepak bola. Rombongan disambut hangat Romo Kebet yang mempersilakan mengasoh bersama.

Salah satu OMK iseng bertanya kepada Romo Kebet, “Mengapa kita mempunyai anggota Dua Mata, Dua Telinga, Satu Mulut, Satu Kepala, dan Satu Leher?” Teman OMK lainnya semakin melongo tatkala pertanyaan tersebut disambung, “Mengapa dua mata di depan? Mengapa tidak satu di depan dan satu di belakang, sehingga kita bisa melihat 360 derajat? Mengapa dua telinga dengan dua daun telinga menghadap ke depan? Mengapa tidak satu ke belakang, agar bisa mendengar suara dari belakang lebih jelas?”  Pertanyaan sang OMK terus mengalir, “Mengapa koq hanya satu mulut, satu kepala, dan satu leher?”

Mendapati pertanyaan seperti itu, Romo Kebet terdiam sejenak. Teman sang OMK pun tertawa dengan pertanyaan yang rada aneh namun tak terduga tersebut. Namun, akhirnya semua terdiam. Sepertinya para OMK ingin mengetahui tanggapan Romo Kebet dengan pertanyaan aneh tersebut. Suasana hening sore itu berlangsung cukup lama.

Setelah mulai terdengar kasak-kusuk OMK lainnya, Romo Kebet angkat bicara, “Bagi saya, itu berarti Yang Kuasa dan alam meminta kita untuk lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, daripada banyak bicara (kecuali sedang mengajar/memberi pelatihan dan yang sejenis). Mata dan telinga menghadap ke depan punya arti; yakni lebih banyak memandang ke depan dan lebih mendengar “suara” dari depan, yaitu ke masa depan untuk bergerak maju! Dan tidak selalu melihat ke belakang. Sesekali melihat ke belakang untuk mengingat dan belajar dari masa lalu.”

OMK yang tadinya kasak-kusuk mulai terdiam mendengar seksama. Romo Kebet menambahkan, “Tentang dua lubang hidung yang juga menghadap ke depan, artinya untuk ‘mengendus’ apa saja yang akan ada di masa depan. Begitupun dengan kepala yang selalu menghadap ke depan agar kita selalu menghadapi apapun yang ada sekarang dan yang akan datang di masa depan. Satu kepala dengan satu otak agar kita bersikap tegas, jelas dan tidak mendua! Satu leher agar kita sesekali melihat ke atas untuk memotivasi diri dengan melihat orang-orang sukses!

Tentang leher, Romo Kebet mengatakan, “Bisa membuat kepala menunduk dan melihat ke bawah agar sesekali melihat ke bawah untuk mensyukuri apa yang sudah dicapai dan dimiliki. Bisa memutar ke kiri kanan agar melihat ke sekeliling dan berbagi kepada sesama. Bisa menengok ke belakang agar bisa merefleksi diri dan belajar dari masa lalu.” (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *