SAIBI, KEP. MENTAWAI – Kunjungan pastoral Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin ke Paroki St. Damian Saibi selama enam hari (25-30/3) terasa spesial.  Ikut serta dalam kunjungan ini Superior Jenderal Kongregasi SSCC (P. Alberto Manuel Toutin Cataldo) serta Anggota Dewan Jenderal SSCC (P. Jean Blaise). Dalam rombongan ini, turut Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia (Dirdios KKI) Keuskupan Padang, P. Alfonsus Widhiwiryawan, SX bersama tim KKI.

Stasi St. Maria Ratu Rosario Cimpungan merupakan stasi pertama yang disinggahi Uskup Vitus, Sabtu (25/3). Setahun sebelumnya, Maret 2022, Uskup Vitus pernah berkunjung ke Paroki Saibi, namun karena padatnya jadwal dan banyaknya stasi mesti dikunjungi, Stasi Cimpungan belum sempat dikunjungi. Pada kunjungan kali ini, rombongan langsung menuju lokasi selepas dermaga Pokai, Siberut Utara. Di stasi ini berlangsung penerimaan Sakramen Krisma dan peresmian gedung gereja.

Kedatangan rombongan Bapa Uskup disambut antusias masyarakat setempat, termasuk dari kalangan non Katolik. Di Cimpungan, kehidupan masyarakat harmonis dalam keberagaman dan toleransi sangat dijunjung tinggi. Relasi antarumat beragama terjalin baik. Saat penyambutan, terlihat dan terasa kental nuansa khas Mentawai. Rombongan disambut tarian khas Mentawai, turuk laggai dan pengalungan bunga. Rombongan juga direciki air – yang menurut penjelasan Darman Saguruk, Kepala Desa Cimpungan – berfungsi untuk menyelamatkan Bapa Uskup dan rombongan dari roh jahat ketika datang di desa ini.  Usai seremoni penyambutan, rombongan Bapa Uskup singgah sejenak di Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) dan dilanjutkan makan siang di salah satu rumah umat.

Sore harinya, Bapa Uskup memimpin Perayaan Ekaristi secara konselebrasi. Di kesempatan ini, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma pada tiga krismawan/krismawati. Juga, diberkati dan diresmikan gedung gereja stasi. Dalam homilinya, Bapa Uskup mengatakan, “Betapa bangga umat di Stasi St. Maria Ratu Rosario Cimpungan karena pada Hari Raya Kabar Sukacita ini selain dikunjungi Bapa Uskup juga Superior Jendral SSCC bersama Anggota Dewan SSCC.  Pastor Alberto tak menyangka Desa Cimpungan punya acara sebesar ini. Selain itu, jemaat GKPM turut merasakan seakan gereja stasi ini juga milik mereka – yang juga ikut serta membangun bersama GKPM. Sungguh satu kehidupan umat beriman, bukan hanya umat Katolik dan Kristen tetapi juga umat Islam.”  

Kepada tiga penerima Krisma, Bapa Uskup berpesan agar mampu menjadi saksi Kristus seperti Bunda Maria, pelindung stasi ini. Usai Misa dilanjutkan ramah-tamah rombongan bersama seluruh umat, hiburan dan lelang. Turut hadir tokoh umat; antara lain Kepala Desa Cimpungan dan GKPM. Akhir kebersamaan di Stasi Cimpungan berupa  nonton bareng (nobar) oleh Tim KKI.

Kepada GEMA, Pastor Paroki Saibi, P. Agustinus Agus Suwondo, SSCC menyatakan banyak jemaat GKPM ikut terlibat dalam pembangunan bangunan gereja Stasi Cimpungan ini. P. Wondo mengapresiasi kerja keras umat dalam pembangunan gereja ini. Meski telah diresmikan Bapa Uskup, namun pembangunan gereja ini belum tuntas yakni teras depan dan pagar gereja. P. Wondo berpesan umat melanjutkan pembangunan bangunan gereja selesai.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa juga jemaat GKPM, Darman Saguruk mengungkap, “Telah menjadi tradisi masyarakat di desa ini, ketika ada suatu pekerjaan maka dikerjakan bersama-sama. Bukan hanya pekerjaan pembangunan rumah ibadat namun juga rumah tempat tinggal. Pemerintah desa bangga atas kunjungan peresmian bangunan gereja Katolik ini. Suatu momen luar biasa karena kalangan Katolik dan GKPM dapat berkomunikasi baik.”

Sementara itu, Ketua Stasi (Baja’ Gereja) Cimpungan, Silvester Pajok, mengaku senang atas pemberkatan dan peresmian gereja ini. “Kelak, bangunan gereja makin bagus dan lengkap. Tetangga bukan Katolik juga turut merasa senang dengan kedatangan rombongan Bapa Uskup. GKPM sangat membantu dan kalangan Islam pun turut membantu. Itulah keunikan Cimpungan,” tukasnya.

Hari kedua, Minggu (26/3) pagi, usai sarapan pagi bersama umat, rombongan Bapa Uskup berperahu meninggalkan Cimpungan menuju Saibi Muara. Setiba di lokasi, rombongan Uskup Vitus disambut umat serta sejumlah tokoh umat Katolik yang ada di pemerintahan Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Cabang Mentawai.

Kerinduan Umat Berdevosi

Di Saibi, Bapa Uskup memimpin Misa Kudus konselebrasi di Gedung Serba Guna (GSG) Beato Eustaquio. Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma bagi sepuluh krismawan/krismawati, memberkati dan meresmikan Goa Maria Santa Maria Fatima, serta meletakkan batu pertama pembangunan Gereja Paroki St. Damian Saibi Muara.  Dalam homilinya, kepada penerima Sakramen Krisma, Bapa Uskup berpesan, “Menjadi saksi Kristus berarti mewartakan kebangkitan Tuhan. Menjadi saksi-saksi Kristus bukan berarti meminta sesuatu yang bisa didapatkan dari iman kepercayaan gereja, melainkan menyumbangkan sesuatu untuk Gereja.”

Setelah Komuni, dilanjutkan upacara peresmian Goa Maria Santa Maria Fatima dan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Paroki St. Damian Saibi. Bapa Uskup, para imam, petugas liturgi, dan seluruh umat berjalan keluar Gedung Serba Guna Beato Eustaquio menuju Goa Maria Santa Maria Fatima – terletak di depan Gedung Pastoran Paroki. Usai memberkati dan meresmikan Goa Maria Santa Maria Fatima, Bapa Uskup meletakkan batu pertama pembangunan gereja yang terletak bersebelahan dengan Goa Maria Santa Maria Fatima.

Terkait peresmian Goa Maria Santa Maria Fatima, Perwakilan DPP St. Damian Saibi Muara juga Panitia Pembangunan, Eliasman Sageilepak, menjelaskan kepanitiaan dibentuk pada Desember 2022. Umat pusat paroki, sebanyak 130 keluarga Katolik, berswadaya membangun Goa Maria Santa Maria Fatima. Setiap keluarga menyumbang setengah kubik pasir. Telah terkumpul 60 kubik pasir. 95 persen umat berkontribusi untuk pembangunan ini. Umat juga berswadaya mencari bahan material lainnya, seperti koral. Setelah pengerjaan Goa Maria berakhir dilanjutkan pembangunan gedung gereja paroki. “Kami berharap dukungan dari paroki lain dan juga keuskupan dalam proses pembangunan ini. Kehadiran Goa Maria tidak lepas dari kerinduan umat berdevosi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua ISKA Cabang Mentawai, Dominikus Saleleubaja’ yang juga hadir mengatakan, “Ini merupakan momen yang baik untuk perkembangan umat, karena aneka fasilitas yang dibutuhkan untuk membangun kerohanian umat juga semakin baik. Ketika melihat patung Bunda Maria yang diletakkan dalam Goa Maria ini,  saya teringat sosok seorang bunda yang bisa mengayomi dan mendoakan kita agar lebih dekat pada Tuhan. Saya terharu atas pendirian Goa Maria ini karena merupakan satu-satunya Goa Maria di Saibi. Kelak, pembangunan jangan hanya sekitar pusat paroki tetapi dapat berkembang terus. Perkembangan yang cukup signifikan dalam pembangunan fisik dan umat.  Paroki ini termasuk paroki baru. Kemajuan-kemajuan yang terlihat menjadi motivasi bagi paroki atau wilayah yang akan menjadi calon paroki berikutnya di Kepulauan Mentawai,” tukas Dominikus.

Kini, Gereja Telah Ada!

Sore harinya, rombongan Bapa Uskup menuju Saliguma dan beristirahat malam. Keesokan harinya, Senin (27/3), rombongan Bapa Uskup berkunjung ke Stasi Tinambu untuk meresmikan pemakaian bangunan gereja Stasi St. Paulus Miki Tinambu. Perjalanan menuju Tinambu dapat ditempuh melalui jalur sungai – menggunakan perahu – maupun jalur darat – berjalan kaki. Untuk tiba ke lokasi, anggota rombongan menelusuri hutan, melewati sungai dan tiga bukit dengan waktu tempuh sekitar empat jam.  Rombongan perjalanan dibagi tiga kelompok.

Kelompok pertama berangkat terlebih dulu (pukul 06.30 WIB) terdiri P. Wondo, P. Alberto, P. Jean Blaise, dan umat. Kelompok kedua berangkat satu jam setelahnya, terdiri dari Uskup Vitus, P. Alfons bersama tim KKI, OMK, Misdinar dan umat. Kelompok ketiga terdiri P. Goran dan umat. Umat yang ikut perjalanan berasal dari Saliguma dan Saibi. Sesampai di Tinambu, rombongan Bapa Uskup disambut turuk laggai. Turut hadir Pastor Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut, P. Antonius Wahyudianto. Dahulu, Stasi Tinambu bagian daerah pelayanan Paroki Siberut.

Saat Misa, Bapa Uskup menyatakan terharu dengan peresmian gereja ini. “Tinambu adalah tempat yang jauh, bahkan Pastor Jean Blaise mengatakan dirinya hampir menjadi martir karena melewati medan yang tidak mudah. Perjuangan umat dan para imam menuju stasi ini merupakan bukti Gereja mencintai umat Tinambu. Gereja ini merupakan contoh dan teladan bagi gereja stasi lain. Kalian bisa menyelesaikan pembangunan ini dan umat dari wilayah lain ikut turut memperhatikan proses pembangunan gedung gereja ini,” kata Uskup Vitus.

Bapa Uskup mengajak umat menjaga bangunan gereja ini agar tidak roboh. “Menjaga dengan cara memanfaatkan gedung ini untuk beribadah, perayaan sakramen-sakramen, dan kegiatan-kegiatan di tengah umat. Direncanakan, tahun depan, setelah Tahun Keluarga, kita akan meningkatkan perhatian dan fokus pada pembangunan komunitas di stasi dan rayon. Kita berpikir cara menghidupkan umat melalui berbagai kegiatan; misalnya pertemuan atau sermon, kunjungan BIR dan umat wilayah lain, pelatihan misdinar dan liturgi.  Kini, gereja sudah ada! Kita isi kegiatannya,” ucap Bapa Uskup.

Baja’ Gereja Stasi St. Paulus Miki Tinambu, Alexander Sabailaket, merasa senang dengan peresmian bangunan gereja ini. “Umat Katolik Stasi Tinambu tidak mengalami persoalan terkait proses pembangunan gedung gereja ini. Umat dapat mengatasi persoalan itu. Yang terpenting adalah cara terbaik agar bangunan gereja bisa selesai,” kata Alexander.

Kepala Dusun Tinambu, Paulus Iman Sakoddobat pun mengaku tidak ada kendala dalam pembangunan bangunan gereja ini. “Kendalanya sejak pendirian dasar bangunan, pada 15 Agustus 2022, adalah tenaga tukang, karena pembangunan ini dikerjakan secara swadaya oleh umat. Situasi umat, banyak telah yang berusia tua. Namun demikian, berkat Tuhan juga memberikan semangat kepada umat walaupun tidak seberapa. Akhirnya, kayu-kayu material itu bisa terkumpul. Sedari awal pembangunan, umat telah berkomitmen, terutama pengurus gereja Stasi Tinambu agar tetap bersemangat hingga tuntas dan gereja diresmikan. Meskipun pembangunan gedung gereja telah selesai, umat masih berusaha melengkapi benda-benda rohani untuk kelengkapan gereja; misalnya patung-patung, rangkaian peristiwa Jalan Salib, dan alat-alat liturgi,” ungkapnya.

Terkait proses pembangunan gereja Stasi Tinambu, Pastor Rekan Paroki Saibi, P. Felix Capitan Goran, SSCC mengungkap semua bahan material pembangunan gereja dibawa lewat jalur sungai, menggunakan perahu. “Kayunya, dicari di hutan terdekat. Perlu waktu tiga jam perjalanan menuju arah hulu.  Tujuh operator chainsaw – satu orang dari Pastoran, umat di Saliguma, dan sisanya umat dari Tinambu,” tukas P. Goran.

Contoh Gereja Yang Melayani

Hari keempat kunjungan pastoral Bapa Uskup, Selasa (28/3), P. Alberto dan P. Jean melanjutkan perjalanan kembali ke Roma melewati sungai menggunakan perahu. Tinambu merupakan destinasi terakhir kunjungan dua imam SSCC tersebut di Paroki Saibi. Usai sarapan pagi, rombongan Bapa Uskup melanjutkan perjalanan pulang menuju Saliguma lewat jalur darat, menelusuri perjalanan yang sama sewaktu berangkat dari Saliguma. Siang hari, rombongan tiba di Saliguma. Sore hari, Bapa Uskup – didampingi sejumlah  imam – memimpin Perayaan Ekaristi bersama umat Stasi Saliguma.

Dalam homilinya, Bapa Uskup mengatakan peresmian gereja di Tinambu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan dan dukungan tokoh umat Saliguma. “Jumlah umat Saliguma sangat banyak. Tokoh umat selalu siap sedia memberikan pelayanan sejak kedatangannya. Anak-anak misdinar, bukan hanya dari Saibi tetapi juga dari Saliguma, turut serta mengantar rombongan Uskup sampai ke Tinambu. Ini contoh Gereja yang saling melayani. Stasi yang menjadikan stasi yang lain seperti satu saudara. ‘Pekerjaan Rumah’ bagi pastor paroki: sesudah membangun sejumlah gereja stasi, harus juga membangun gereja di paroki,” ucap Bapa Uskup lagi.

Usai Misa Kudus, rombongan Bapa Uskup berperahu segera bergegas menuju Stasi St. Andreas Gotab. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit. Rombongan Bapa Uskup tiba malam harinya disambut tarian dan pengalungan bunga. Rombongan bermalam di Gotab. Rabu (29/3) pagi, Bapa Uskup memimpin Misa Kudus di gereja stasi. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerimakan Sakramen Krisma bagi 31 krismawan/krismawati dan Komuni Pertama bagi 10 penerima. Terlihat suasana yang istimewa. Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, berlangsung prosesi penyambutan. Dalam prosesi ini, Bapa Uskup bersama para imam dan petugas liturgi berjalan menaiki anak tangga sambil diiringi tarian khas Mentawai.

Dalam homilinya, Bapa Uskup mengatakan, “Gereja bangga dengan Gotab karena umat di sini sungguh istimewa. Setiap kali kunjungan Bapa Uskup, Gotab selalu mendapat giliran. Pada tahun lalu, kita berkumpul di sini bersama pejabat pemerintah. Gereja masih dalam proses pembangunan. Kami datang ke sini lagi dari perjalanan jauh. Tangga yang dibangun di depan gereja membuat gereja ini terlihat megah.”

Batu- Batu Yang Hidup

Bapa Uskup mengungkap umat Gotab adalah ‘batu-batu yang hidup’. “Gereja tidak hanya dibangun dari batu-batu yang mati. Maka, pantas juga hari ini kita rayakan Krisma meskipun altar belum diberkati dengan minyak krisma agar nantinya saudara-saudari kita ini semakin semangat menyelesaikan pembangunan gereja. Pada tahun depan (2024), kita resmikan gereja ini bertepatan dengan perayaan 100 tahun kehadiran pastor SSCC hadir di Indonesia serta 10 tahun di Mentawai,” tukas Uskup Vitus.

Usai Perayaan Ekaristi berlangsung ramah-tamah bersama umat. Dalam kesempatan ini, Pengurus Stasi, Anjelo Sagulu menyampaikan informasi perkembangan gereja dan umat. Jumlah umat di Stasi St. Andreas Gotab sebanyak 53 keluarga (atau 315 jiwa). “Pengurus gereja terus memberikan katekese setiap minggu. Kegiatan organisasi seperti OMK hanya membantu pekerjaan di gereja, karena banyak berstatus pelajar dan bersekolah di luar Gotab. Kegiatan sermon setiap Sabtu bagi para pengurus gereja masih terus dilakukan. Pengurus berharap umat terus berjuang melanjutkan pembangunan gereja Stasi Gotab ini,” tuturnya.

Terkait kunjungan Bapa Uskup, Nikolaus Sakodobbat sangat mengapresiasi kehadiran Bapa Uskup. Diakuinya, pertumbuhan iman umat agak melemah selama ini. “Dengan kunjungan Bapa Uskup dan pastor, iman umat bertumbuh kembali dengan kegiatan dan perayaan sakramen ini. Tentulah menggugah hati umat kembali aktif. Kunjungan Bapa Uskup – setidaknya mengingatkan umat yang tidak aktif bahkan ‘lari’ ke agama lain – untuk menoleh kembali ke belakang. Selama ini, memang karena kurangnya kegiatan pembinaan iman umat, pembinaan remaja menjadi hal yang menyebabkan pertumbuhan iman umat berkurang. Lewat kunjungan ini dan kegiatan selanjutnya, iman umat semakin kuat,” tandas Niko mengakhiri.

Gotab adalah stasi terakhir yang dikunjungi Bapa Uskup. Setelah kunjungan ini, rombongan Bapa Uskup bertolak kembali ke Saibi dan selanjutnya menuju Padang. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *