Pertemuan pendamping Serikat Kerasulan Anak dan Remaja Misioner (Sekami) Kevikepan St. Fransiskus Xaverius Mentawai terpusat di Aula Paroki St. Maria Diangkat ke Sorga Siberut, Mentawai, 29 April – 2 Mei 2023. Acara diikuti perwakilan pendamping Sekami dari tujuh paroki sekevikepan Mentawai.

Pada awal acara, berlangsung perkenalan masing-masing peserta dan panitia penyelenggara, dilanjutkan pembagian kelompok terdiri dari perwakilan tiap paroki. Malam hari pertama, berlangsung doa ala Taize. Hari kedua, Minggu (30/4) usai Misa Kudus dan sarapan pagi, sesi pertama bertajuk “Apa Itu KKI?” dipandu Ketua KKI Keuskupan Padang, P. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, mengajak peserta mengisahkan dan menceritakan kelebihan maupun kekurangan yang dialami peserta sebagai pendamping Sekami paroki maupun stasi.

Setelah makan siang dan istirahat, berlangsung sesi tentang Formasi Leader – Public Speaking. Hari kedua ini juga diisi acara gerak dan lagu – dipandu Tim KKI – serta ibadat sore. Usai santap malam bersama, berlangsung sesi Filocalia (?), serta diakhiri ibadat malam. Sementara itu, pada hari ketiga (1/5), selain rutinitas yang dijalani pada hari sebelumnya, juga berlangsung sesi materi “Symphony”. Setelah makan siang dan istirahat, berlangsung acara yang ditunggu-tunggu. Acara out-bond. Sorenya berlangsung misa perutusan, santap malam bersama, dan menonton video kaleidoskop selama kegiatan berlangsung.

Berdasarkan informasi yang diperoleh GEMA dari kontributor setempat – juga salah satu peserta – Yosia Andesman, pertemuan diikuti 100-an peserta, dominan dari Paroki Siberut. Ada hal menarik, sebagaimana diutarakan Andesman, selain para anak muda yang menjadi pendamping Sekami, selama kegiatan/pertemuan berlangsung, juga diikuti sejumlah dewasa/orangtua. “Walau berstatus orangtua, semangat dan jiwa muda mereka bergelora mendampingi peserta Bina Iman Anak (BIA) maupun Bina Iman Remaja (BIR). Usia boleh tua tetapi jiwa semangat melayani tetap muda. Sebab itu, bagaimana orang muda mempunyai semangat sama halnya dengan pendamping dari kalangan dewasa/orangtua,” ungkap Andes kepada GEMA.

Memang, pada mulanya, pendamping Sekami – terutama dari kalangan orang dewasa maupun orang tua –  agak malu-malu mengikutinya. Namun, disampaikan Andesman, seiring berlangsungnya waktu, rasa tidak percaya diri (PD) menghilang, bahkan berkobar semangat baru.  Begitupun pada kegiatan luar ruangan (out-bond), banyak ragam permainan ditampilkan dan dilakukan. Sebelum kegiatan out-bond berlangsung, setiap kelompok menampilkan yel-yel bertema kegiatan pendamping Sekami. Pendamping Sekami yang lebih dewasa – bahkan orangtua pun – tidak malu-malu lagi. Andes melaporkan, peserta kegiatan out-bond tampak berbaur kalangan remaja OMK, dewasa, bahkan orang tua. “Semoga lewat kegiatan ini, tercapai kualitas rohani dengan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu, terutama untuk generasi Gereja di waktu mendatang,” tutur Andesman mengakhiri. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *