Lewat tulisan singkat ini, saya ingin berbagi secuil pengalaman sebagai guru agama Katolik sukarela di Stasi St. Ambrosius Tabing, Paroki St. Fransiskus Assisi Padang. Tanpa terasa, telah lebih sepuluh tahun menjalani peran sebagai guru/pengajar agama Katolik sukarela. Tentu, dalam rentang waktu tersebut, banyak pengalaman suka-duka, manis-pahit. Tanggungjawab lebih berat dan lebih luas, tidak hanya di Stasi Tabing, diberikan tatkala dipercaya sebagai Koordinator Tim Pengajar/Guru Agama Katolik DPP St. Fransiskus Assisi Padang masa bakti 2023-2027, pada Seksi Katekese, Bidang Pendidikan Agama Katolik.

Apa penyebab utama para orangtua di Stasi Tabing lebih cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri maupun swasta non Yayasan Prayoga Padang (selanjutnya disingkat yayasan-red.)? Saya mendapati fakta bahwa aspek pembiayaan atau ekonomi menjadi penyebab utama. Di waktu silam, sebelum Pandemi Covid-19, pengurus yayasan pernah mengunjungi pengurus Stasi Tabing dan rayon-rayon yang ada di stasi ini. Selain keperluan sosialisasi, sekaligus untuk menarik minat para orangtua menyekolahkan anak dan remajanya ke sekolah-sekolah binaan yayasan, apalagi menyangkut masalah pendidikan agama anak sedari dini. Dari pertemuan tersebut, muncul usul, saran, dan masukan agar pihak yayasan memberikan perhatian pada bidang pembiayaan. Biaya pendidikan dimurahkan! Selama ini dianggap masih tinggi dan banyak orangtua tidak sanggup, apalagi yang mempunyai anak lebih dari satu orang bersekolah.

Selain soal pembiayaan, saya menangkap ada kesan ‘pengalaman traumatis’ dialami di kalangan orangtua. Saya mendapati, orangtua merasa kurang simpatik akibat cerita kurang sedap maupun cerita miring yang berhembus dari mulut ke mulut – yang mesti dikonfirmasi kebenarannya lagi. Namun, di kalangan orangtua terlanjur kadung dipercaya seratus persen. Terakhir, berita miring yang bertiup kencang dari mulut ke mulut perihal pemanfaatan fasilitas bus sekolah. Berkembang ‘cerita’ bahwa bus yang semula ditujukan untuk peserta didik dari kalangan bawah, tidak mampu; ternyata dimanfaatkan juga oleh anak dari keluarga mampu. Tentu saja, hal ini menimbulkan kecemburuan sosial, terutama pada lapisan masyarakat bawah.

Seingat saya, dari sosialisasi yang baru pertama kali diselenggarakan tersebut, tiga tahun silam, kurang mendapat respon/tanggapan meriah dari para orangtua yang berdomisili di Stasi Tabing. Tidak semata-mata karena masalah pembiayaan, tetapi juga karena ada ‘penyerta’ berupa pengalaman trauma masa lalu yang kurang menyenangkan.

Berkaitan pembiayaan dana sekolah bulanan, saya mendapati kabar, standar di SD Setia Tabing Padang sebesar seratus dua puluh ribu rupiah. Tentu saja, ada orangtua yang sanggup/mampu dan ada pula yang yang kurang mampu dengan angka tersebut. Juga, ada peserta didik yang mendapat bantuan dari paroki, lewat ‘tangan’ Karitas. Tentu saja, untuk kalangan peserta didik/murid Katolik. Menurut saya, itu suatu hal wajar untuk memprioritaskan murid Katolik beroleh bantuan – semacam beasiswa. Kalau ada kelebihan, barulah untuk membantu anak dari agama lain.  Di paroki kami, ada satu kelompok yang menaruh terhadap peserta didik SD dan SMP yang mengalami kesulitan pendanaan dana sekolah, bernama Karitas. Tidak hanya bantuan bagi anak dari keluarga tidak mampu juga kepada orang yang berusia lanjut. Karitas memberikan bantuan dana/finansial.

Berbela rasa kepada mereka atau kalangan yang kurang mampu, kepengurusan DPP periode 2023-2027 ini segera bergerak ke basis-basis (keluarga dan rayon). Untuk mencari dan menjaring. Didapat informasi, terdapat banyak anak yang tidak melanjutkan setamat SMP. Umumnya, mereka menganggur, tidak bekerja. Wilayah penyisiran kami hingga ke Tiku (Kabupaten Padangpariaman). Atas hasil ‘penjaringan’ ini, ada rencana untuk mereka. Sebelumnya, kami akan melakukan pendekatan, komunikasi terlebih dulu terhadap para orangtua. Intinya, agar anak tidak sampai putus sekolah. Bisa jadi, orangtua ingin anaknya menyambung pendidikan ke jenjang lebih tinggi, tetapi terkendala dana. Untuk hal ini, akan dibantu paroki.

Terlibat Kegiatan Paroki/Stasi

Berdasarkan data peserta didik beragama Katolik Stasi St. Ambrosius Tabing pada tahun pelajaran 2022-2023, ternyata terdapat seratusan orang (dari berbagai jenjang pendidikan) belajar agama Katolik di stasi. Untuk tingkat sekolah dasar (SD) terdapat 40-an murid Katolik. Tingkat SMP sebanyak 30-an peserta didik. Tingkatan SMA/SMK sebanyak 30-an murid Katolik. Memang, penyampaian materi pelajaran agama beda dengan di sekolah yayasan. Mereka yang bersekolah di luar yayasan, hanya berlajar agama satu jam dalam seminggu, di gereja stasi.  Kalau ada upaya pengayaan lainnya, selain satu jam pelajaran agama tersebut, tergantung pada guru agama bersangkutan. Yang pasti, kami selalu mengupayakan agar anak selalu terlibat dalam kegiatan paroki/stasi, baik di tingkat BIA-BIR-Misdinar-OMK. Mereka terlihat antusias.  Diharapkan, peserta didik tidak hanya punya pemahaman intelektual, tetapi juga punya pemahaman memadai hidup menggereja, punya bekal rohani dan iman katolik yang mantap di tengah kehidupan yang majemuk, serta banyaknya tarikan untuk berpindah keyakinan.

Saya melihat tren atau kecenderungan peningkatan jumlah peserta didik beragama Katolik yang bersekolah di sekolah negeri maupun swasta non yayasan. Orangtua terutama, lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di luar yayasan. Saya mendapat informasi terbaru dan aktual bahwa sekolah negeri mempermudah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tidak pilih-pilih lagi, tetapi menggunakan cara rayonisasi. Peserta didik bisa bersekolah di dekat lokasi rumah/domisili anak. Tidak harus masuk ke sekolah favorit. Jelas, hal ini menjadi satu daya tarik tersendiri yang menggiurkan orangtua dan anak. Kalau ada sekolah yang dekat (dari rumah), kenapa mesti pergi ke sekolah yang berjarak jauh. Dan, yang pasti, dana sekolahnya lebih murah, meski tidak gratis murni. (diolah dari wawancara dengan Yohanes Prihpatmono)/hrd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *