Berbeda dari biasanya, kali ini, Senin (1/5) malam, di ballroom Hotel Axana Padang, sejumlah meja bulat terisi penuh sejumlah undangan khusus acara gala dinner yang digelar Persekutuan Doa Usahawan, Profesional, dan Executive Karismatik Katolik Indonesia (PERDUKI) Kota Padang. Diperkirakan hadir 300-an peserta.

Terasa lebih spesial, penyelenggara mengundang pembicara kondang yang kerap tampil di berbagai kesempatan dan direkam berbagai saluran platform Youtube, Rm. Eko Wahyu, OSC. Sebelum barisan gala dinner dari hotel melayani hadirin di setiap meja bulat, Koordinator PERDUKI Kota Padang, Elisabet Corry menyampaikan sambutan singkat, “Kami berharap santapan jasmani dan santapan rohani yang didapat pada kesempatan ini menjadi ‘oleh-oleh’ yang dibawa pulang ke tempat masing-masing. Terkhusus santapan rohani dari Romo Eko dapat dihidupi, baik dalam relasi keluarga maupun sesama sekitar kita.”

Sekilas tentang PERDUKI Kota Padang juga dibeberkan Corry. “Sebenarnya, PERDUKI telah ada tiga puluh tahun silam di Padang, namun kurang aktif. Pada 6 Februari 2022 diaktifkan kembali. Puji Tuhan, akhirnya, PERDUKI Kota Padang diresmikan dan pengurusnya dilantik Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin pada 29 Juni 2022. Kegiatan bulanan dilakukan pada salah satu hari Minggu setiap bulan. PERDUKI Kota Padang juga menyelenggarakan aksi sosial berupa pembagian paket sembako pada Desember 2022, serta makan bersama dengan umat yang kurang beruntung, sebanyak 150 orang. Aksi sosial akan terus diupayakan berlangsung terus di masa mendatang, sesuai situasi kondisi dan kemampuan yang ada,” ucap Corry.

Kepada GEMA, Corry mengungkapkan gala dinner makin berbobot, PERDUKI Kota Padang menghadirkan Romo Eko untuk santapan rohani dengan pilihan topik “Keluarga Yang Berkenan di Hadapan Allah”. Moderator PERDUKI Kota Padang, P. Alexander I. Suwandi, Pr yang berhalangan hadir berkesempatan menyampaikan sambutannya secara virtual. P. Alex menyambut baik penyelenggaraan gala dinner ini serta menyambut terbuka kedatangan Rm. Eko ke Kota Padang.

Usai dua sambutan singkat tersebut, tim singer Perduki membuka pujian awal setelah doa makan sekaligus pembuka. Dua solo singer (Joan dan Tejo) beserta tim singer Perduki menghibur hadirin. Setelah santap malam dan dihibur, hadirin disiapkan tenang dan hening. Pemimpin pujian (worship leader) memberikan prolog tentang firman. Berhubung penyelenggaraan gala dinner bersamaan dengan pembukaan Bulan Maria, berlangsung perarakan patung Bunda Maria. Hadirin mengiringinya dengan lagu Ave Maria.

Saat menyampaikan renungan – yang diselingi gurauan dan canda untuk menghangatkan suasana, Romo Eko mengatakan, “Kita sering menyalahkan pihak lain kalau tidak bahagia. Padahal, sebenarnya, bahagia atau tidak dalam hidup berumah tangga merupakan pilihan setiap orang/individu. Maka, setiap saat, kita harus mengupayakan agar keluarga kita mempunyai sukacita. Beranikah kita meluangkan waktu bersama dengan anggota keluarga lainnya?! Apalagi pada masa kini ada benda bernama gadget yang berpotensi merusak hubungan dan komunikasi. Sebab itu,  kita mesti berani mengambil keputusan ‘tinggal di dalam Tuhan’! Bukan tinggal di dalam luka batin dan mau menyakiti pasangan. Keluarga Nasaret adalah contoh keluarga yang berkenan kepada Allah. Keluarga tanpa noda dosa. Mungkin, keluarga kita adalah keluarga yang bergelimang kepahitan hidup dan dosa.”

Sementara itu, berkaitan dengan pembukaan Bulan Maria, Romo Eko membahas tentang Bunda Maria. “Maria adalah manusia yang dipilih oleh Allah. Maria tidak punya berkat. Sebab itu, keliru bila kita berdoa kepada Maria. Yang benar, kita berdoa kepada Tuhan dengan pertolongan Maria. Bunda Maria menjadi kudus karena anugerah Tuhan, karena Maria menjadi bunda Yesus Kristus. Maria Bunda Allah, karena melalui Bunda Marialah, Yesus lahir dan hadir ke dunia ini.  Maria menjadi Bunda Allah dalam hubungannya dengan Yesus. Doa Rosario adalah doa untuk merenungkan Yesus bersama dengan Bunda Maria. Lewat peristiwa Gembira, Terang, Sedih, Mulia, kita merenungkan tentang Yesus,” ujar Romo Eko.

Terkait dengan perkawinan, Romo Eko melanjutkan, “Perkawinan merupakan karya Tuhan. Maka, perkawinan dan keluarga bisa bertahan bila hanya bersama Tuhan. Yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Tujuan perkawinan adalah untuk saling menyejahterakan setiap pasangan.”  Pada bagian akhir renungannya, Romo Eko mengajak hadirin memberikan persembahan kasih untuk kegiatan bakti sosial mendatang. Saat bersamaan, pada layar monitor, ditampilkan foto dan video saat Aksi Sosial PERDUKI Kota Padang pada Desember 2022. Pengamatan GEMA, hadirin tampak beramai-ramai berarak menuju kotak persembahan, memenuhi ajakan Romo Eko, sembari diiringi lagu persembahan “Berkat Anak Cucu”.

Pelayanan dan Kerendahan Hati

Hari kedua di Padang, Selasa (2/5), Romo Eko memimpin Perayaan Ekaristi di Kapel Santu Yusuf Paroki Katedral Padang. Meski tidak seramai saat gala dinner, karena berlangsung pada siang hari kerja, namun hampir seratus umat mengikuti Perayaan Ekaristi tersebut. “Pada jalan yang benar mencintai Allah tidak cukup dengan doa, tidak cukup dengan persembahan! Allah menginginkan kita menjadi gembala yang memiliki hati tulus. Bersyukur atas kasih yang telah dilimpahkan Tuhan,” ungkap Romo Eko Wahyu, OSC saat homili.

Pada bagian lain homilinya, Romo Eko mengingatkan tentang pelayanan dalam Gereja. “Bukan tentang mencari kemuliaan diri sendiri.  Pelayanan itu terjadi karena perasaan cinta kasih kita terhadap Tuhan. Pelayanan bukan sebagai ‘pelarian hidup’. Pelayanan yang berbelas kasih adalah pelayanan yang berani merangkul yang salah, yang tidak layak, dan mendekatkan mereka kembali dengan Kristus. Dalam pelayanan mestilah ditanamkan semangat kerendahan hati. Gunakanlah berkat, talenta yang diberi Tuhan untuk melayani serta memusatkan diri kepadaNya. Pelayanan itu menyucikan hati kita. Bersyukurlah ketika di dalam pelayanan bertemu dengan orang-orang yang sulit,  Justru merekalah penguji iman dan kesetiaan kita dalam menjalankan pelayanan,” ucap Romo Eko bersemangat.  

Setelah Perayaan Ekaristi, berlangsung santap siang bersama Romo Eko dengan umat. Pada kesempatan ini, selain dari PERDUKI Kota Padang dan Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik (BPKPKK) Keuskupan Padang, tampak jajaran pengurus PSKP Santu Yusuf Keuskupan Padang. Sore hingga malam hari kedua diisi Kebangunan Rohani Katolik (KRK) dan Adorasi di ballroom Hotel Axana Padang.

KRK dan Adorasi, bertajuk “Jangan Khawatir Bersukacitalah Senantiasa”, diselenggarakan BPKPKK Keuskupan Padang diikuti 250-an peserta yang berasal dari tiga paroki di Kota Padang. KRK dimulai dengan lagu bernuansa karismatik dilanjutkan sambutan singkat secara virtual oleh Pastor Moderator P. Alexander Irwan Suwandi, Pr.

Saat pembahasan materi, Romo Eko menjelaskan bahwa manusia mengalami pengalaman Calvaria (tempat tengkorak). “Mengidentifikasi tempat tengkorak dalam diri manusia terdapat di dalam tubuh. Ketika kita mengalami sakit dan menderita, pikiran memberi perintah yang bisa menggelisahkan, sehingga kita mempunyai keinginan yang harus diwujudkan. Tentu, untuk mencapai keinginan itu ada perasaan kekhawatiran, takut, dan kecemasan yang memberi tekanan emosional dalam tubuh,” ungkap Romo Eko.

Tujuh Ribu Janji Tuhan

Romo Eko melanjutkan, “Dalam Kitab Suci terdapat tujuh ribu janji Tuhan. Salah satunya dalam  Injil Yohanes 14:1,16-17 (“Janganlah gelisah hatimu; percayalah  kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran”)  Untuk mengalami janji Tuhan manusia harus taat kepada Tuhan. Pada saat krisis, meminta kita untuk mengambil keputusan memilih untuk tetap tinggal di tempat tengkorak atau melampaui tempat tengkorak (Flp 4:4-7) “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu  dalam Kristus Yesus.”

Selain itu, Romo Eko menegaskan kepada peserta KRK, “Ada empat syarat mengalami damai sejahtera yang melampaui segala akal. Pertama, jangan kamu khawatir tentang apupun juga (lih. Mat. 6: 25). Kekhawatiran itu bukanlah ‘bawaan lahir’ (unnatural). Khawatir terjadi karena pengalaman kehidupan. Kekhawatiran akan hal-hal yang tidak bisa dirubah dalam kehidupan adalah sebuah kebodohan dan tidak berguna. Kedua, bicaralah segalanya dengan Tuhan (Yak. 4:2b). Ketiga, bersyukur dalam segala hal (1 Tes. 5:17-18). Keempat, pikirkanlah hal-hal yang baik dan positif (Flp 4:8).”

Usai KRK, Romo Eko Wahyu, OSC melakukan Adorasi dengan memegang Sakramen Maha Kudus dan berjalan mengelilingi umat. Di saat Sakramen Maha Kudus melewati tempat duduk, umat berlutut menyembah. Kala penyembahan, yang harus dilakukan saat Adorasi, tutur Romo Eko, kita mencurahkan isi hati kepada Kristus. Sembahlah Dia! Memohon ampun kepada Tuhan dan berdoalah bagi orang- orang lain. Atau, duduk dengan tenang dan alami hadirat Tuhan.  Romo Eko menjelaskan, “Adorasi Sakramen Maha Kudus adalah tindakan penyembahan kepada Tuhan yang hadir dalam rupa Hosti Kudus yang telah dikonsekrasikan. Melalui janji yang diberikan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, yang mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, dan oleh kuasa Roh Kudus; maka dalam doa Konsekrasi yang diucapkan imam, hosti diubah menjadi Tubuh Kristus, dan anggur menjadi Darah Yesus. Dengan demikian hosti yang telah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan itu menjadi Tubuh Kristus, Sang Allah Putra. Lewat  Tubuh dan Darah-Nya, Yesus Kristus secara istimewa hidup dan hadir bagi kita, tandas mengakhiri (ben/and/hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *