KRISTUSLAH ROTI HIDUP
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS  (11 Juni 2023)
Ul 8:2-3, 14b-16a;  Mzm. 147:12-13, 14-15, 19-20;
1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58

HARI MINGGU ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Di banyak tempat (paroki/stasi) dirayakan penerimaan Komuni Pertama bagi anak-anak. Di tempat-tempat tertentu “Perayaan Sambut Baru” ini dirayakan secara istimewa, baik di dalam keluarga maupun secara bersama dalam komunitas umat. Kesempatan  ini memang sungguh istimewa bagi anak-anak yang menerima Komuni Pertama karena untuk pertama kalinya menikmati santapa rohani, santapan jiwanya.

Pada malam Perjamuan Terakhir, Tuhan Yesus bersabda: “Inilah Tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu…. Inilah Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Pada hari itulah Tuhan Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi. Sejak saat itu, setiap merayakan Ekaristi, umat Allah mengenangkan Kristus yang memberi hidup. Kristuslah Roti Hidup. Hosti dan anggur yang disambut (disantap) umat beriman bukan lagi roti dan anggur biasa, tetapi sungguh-sungguh telah diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Tentang perubahan ini, telah terjadi banyak mukjizat antara lain di Lanciano, Italia dan juga di tempat lain. Pengertian dan pemahaman ini mesti ditanamkan kepada peserta “Pesta Sambut Baru”. Karena tanpa pengertian dan pemahaman yang benar dan tepat,  roti dan anggur yang disantap tidak akan memiliki daya dan kekuatan.

Allah menghendaki agar manusia tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga sehat mental, rohani, moral, dan spiritualnya. Allah Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya menjelma menjadi manusia, bukan hanya untuk mewahyukan  Allah Bapa, melainkan juga untuk menjadi makanan jiwa, spirtual bagi manusia. Karena “barang siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku”. Umat beriman percaya bahwa Tubuh Kristus adalah makanan kehidupan kekal. Jika umat Israel makan manna di padang gurun, maka umat beriman yang menyantap Tubuh Kristus akan hidup selama-lamanya. Dalam Ekaristi, umat beriman makan Tubuh Kristus sehingga Kristus  tinggal di dalam tubuhnya dan umat pun di dalam Dia.

Tubuh Kristus (Hosti) sungguh menyatukan umat dengan Kristus sendiri, sehingga umat pun hidup seperti Kristus yang telah disantapnya. Hosti (Tubuh Kristus) itu satu. Bila umat menyambut Tubuh Kristus yang satu itu, walaupun banyak dan berbeda-beda tetap satu tubuh, satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam komuni sesungguhnya umat beriman tidak hanya bersatu dengan Kristus, tetapi juga dengan sesamanya. Komuni menampakkan secara nyata kesatuan dengan Kristus dan kesatuan dengan sesama. Aspek kesatuan dengan sesama ini seringkali kurang disadari dan tampak  kurang dipentingkan umat beriman saat Misa. Aspek kesatuan sangatlah penting, karena umat beriman harus menjadi sumber persatuan, bukan sumber perpecahan. Di saat akhir Misa, imam menyatakan: “Marilah pergi, kita diutus” itu berarti umat beriman harus siap diutus untuk hidup seperti Kristus yang mempersatukan dan menyelamatkan dunia. Tubuh Kristus yang telah disantap mesti diyakini memberikan daya, kekuatan, dan keberanian untuk menjalankan perutusan itu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *