Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-Keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, Takhta Suci Vatikan melalui Kongregasi Kepausan untuk Pendidikan Katolik pernah mengeluarkan suatu dokumen yang berjudul The Catholic School (Sekolah Katolik), yang menjabarkan tentang garis-garis besar sehubungan dengan pendidikan Katolik. Sekolah-sekolah Katolik mempunyai tugas untuk melengkapi pembentukan Kristiani dari para muridnya. Tugas ini menjadi penting dewasa ini, karena tugas pembentukan anak-anak tidak lagi dapat secara memadai diberikan oleh keluarga dan masyarakat. (lih. The Catholic School, 12)

Tanggungjawab pendidikan

Pendidikan anak memang pertama-tama merupakan tanggung jawab orangtua, namun sekolah maupun Gereja, juga terlibat di dalamnya. Pentinglah bagi kita semua untuk memberikan perhatian kepada masalah pendidikan anak, karena kita semua bertanggung jawab untuk membekali generasi penerus kita dengan pengetahuan dan iman, agar mereka kelak dapat menjadi orang-orang yang tidak hanya pandai, namun juga berhati mulia sebagai anak-anak Tuhan. Anak-anak perlu diarahkan agar tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga; agar mereka tidak hanya mengejar kebaikan dalam kehidupan di dunia ini, tetapi juga di kehidupan yang akan datang.

Ada satu kisah yang menarik dari situs katolisitas tentang keluhan seorang ibu di zaman ini, yang mungkin pernah juga Anda dengar.

“Anakku pandai, tetapi sekarang ia jadi tak percaya Tuhan.” Anak perempuan ibu ini, yang berusia sekitar 14 tahun, termasuk anak yang kritis dan pandai luar biasa, sehingga di sekolahnya ia termasuk dalam kelas istimewa, yang dikhususkan untuk anak-anak super pandai. Namun, kebanggaan sang ibu juga dibarengi dengan rasa prihatin yang sangat, sebab kepandaian anak itu diikuti dengan sikap penolakan akan Tuhan.

Sang anak yang gemar membaca itu, telah melahap berbagai macam buku, baik tentang filosofi modern maupun tentang aneka tokoh dan peristiwa di dunia, yang menghantarnya kepada keyakinan itu. Sang ibu tak berdaya, dan mulai bertanya-tanya, apakah kesalahannya sehingga ia gagal mewariskan iman kepada anaknya? Siapakah yang bersalah dalam hal ini? Sang ibu ataukah sekolahnya, sehingga anak itu tidak lagi mengakui adanya Sang Pencipta?” https://www.katolisitas.org/apakah-sekolah-katolik-sungguh-katolik/

Atas Dasar Visi adikodrati dan Antropologi Kristiani

Dua ciri khas sekolah Katolik menurut Mgr. J, Michael Miller, CSB, Uskup Agung Vancouver, Canada, dalam tulisannya tentang ajaran Gereja tentang Sekolah Katolik. Ia menyebut bahwa Sekolah Katolik itu diinspirasikan oleh visi adikodrati dan didirikan atas dasar antropologi kristiani. Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga.

Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga. Maka tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak-anak agar dapat menjadi warga yang baik bagi dunia, dengan mengasihi Tuhan dan sesamanya dan memperkaya masyarakat dengan ragi Injil, dan yang kelak akan menjadi warga Kerajaan Surga.

Dewasa ini terdapat kecenderungan banyak orang, baik pemerintah, atau mereka yang berkecimpung di dunia bisnis maupun media, yang menganggap pendidikan hanya sebagai sarana untuk memperoleh informasi yang dapat meningkatkan kesuksesan duniawi dan standar kehidupan yang lebih nyaman – itu saja. Nah, visi pendidikan yang sempit semacam ini, bukan visi pendidikan Katolik.

Sekolah Katolik yang hanya menekankan kemampuan dan mutu peserta didik untuk dapat bersaing dalam era globalisasi dewasa ini, tanpa sedikit pun menanamkan dalam diri anak didik satu keterarahan yang adikodrati hanya akan menciptakan “manusia-manusia robot” yang tidak berperasaan, atau seandainya ada, sensibilitas emosional yang tidak terarah ke luar itu akan berujung pada pemujaan diri dan kesenangan diri sendiri.

Penekanan kepada tujuan akhir kepada setiap anak didik, yaitu kepada kekudusan, akan mengakibatkan penghargaan yang mendalam akan kebutuhan untuk melengkapi anak-anak dalam segala segi, agar mereka semakin dapat bertumbuh sesuai dengan gambar dan rupa Tuhan (lih. Kej 1:26-27). Iman Katolik mengajarkan bahwa rahmat Allah menyempurnakan kodrat, “grace perfects nature“. Dalam hidup manusia ada kesatuan antara hal-hal yang sifatnya kodrati dan adikodrati. Maka, penting bagi semua pendidik untuk mempunyai pemahaman akan kepribadian manusia yang utuh, baik ditinjau dari hal jasmani maupun rohani. Para pendidik perlu membentuk anak didik mereka agar mencapai kesempurnaan baik dari segi lahiriah maupun rohaniah.

Dalam Pusaran “Option for the Poor”

Mengingat tugas dan tanggung jawab Sekolah Katolik sebagai komunitas pendidikan manusiawi yang integral itu, menjadi amat pentinglah suasana kebersamaan dan kekeluargaan. “… Sekolah-sekolah dasar harus berusaha untuk menciptakan iklim komunitas sekolah yang menghasilkan, sedapat mungkin, atmosfir kehidupan keluarga yang hangat dan akrab. Karena itu, mereka yang bertanggung jawab untuk sekolah-sekolah ini akan melakukan segalanya yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan semangat kebersamaan untuk saling percaya dan spontanitas. Tambahan lagi, mereka akan memperhatikan untuk mendorong kolaborasi yang dekat dan konstan dengan para orang tua murid. Integrasi antara sekolah dan rumah adalah keadaan yang esensial bagi lahirnya dan perkembangan semua potensi yang dapat dinyatakan oleh anak-anak ini…. termasuk keterbukaan mereka terhadap agama dan segala sesuatu yang menjadi konsekuensinya.” (Religious Dimension of Education in a Catholic School, 40)

Suasana keterbukaan semacam inilah yang kiranya mampu membuat para pelaku pendidikan di sekolah-sekolah Katolik menjadi orang-orang yang terlibat di tengah kehidupan masyarakat sekitarnya. Sekolah Katolik bukan menjadi gedung yang memisahkan anak-anak peserta didik dari kenyataan duniawi yang mengelilinginya.

Sulit dipahami bahwa seorang anak penjabat atau seorang anak pengusaha terkenal sesudah mengenyam pendidikan di sekolah katolik hanya merasakan kenangan masa sekolah yang nyaman, karena pergi dan pulang dengan mobil ber-AC, studi di ruang kelas yang mewah dan modern, bersahabat dengan teman-teman yang dianggap “sekelas” dalam status dan gaya hidup, ekstrakurikuler (ekskul) dan les privat yang mendukung untuk pencapaian prestasi internasional, demi melanjutkan studi di luar negeri dan kelak kembali untuk mengambil jabatan penting dalam perusahaan keluarga atau dalam percaturan bisnis politik orang tua, tanpa pernah menyadari bahwa di sekitar sekolahnya yang elit itu banyak perumahan kumuh dengan segala persoalan kemiskinannya. Jadi, mau ke mana sekolah katolik yang elit semacam ini?

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *