Sekarang, saya berada di sebuah sekolah, tingkat sekolah menengah pertama (SMP) yang terdapat di daerah Maileppet, Siberut Selatan, Mentawai. Hampir satu tahun saya mengecap pendidikan di sekolah ini dan tinggal di asrama yang diasuh sebuah yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Boleh dikatakan sekolah berasrama.

Hanya saja, jelang hampir satu tahun pelajaran di sekolah berasrama ini, muncul niatan saya untuk pindah ke sekolah lain – yang juga berasrama. Jujur, saya kurang tahu perasaan dan pendapat dari teman lain seasrama. Saya merasa tidak betah dan nyaman akhir-akhir ini. Padahal, pada awal tahun pelajaran 2022-2023, saya bertekad tidak mau pindah sekolah dan pindah asrama. Namun, kini, saya mengubah pikiran tersebut. Sekarang, saya berniat pindah ke SMP Yos Sudarso 2 Siberut dan asrama milik Paroki Siberut.

Keinginan saya pindah sekolah dan asrama ini telah disampaikan kepada orangtua di kampung. “Terserah padamu! Yang penting, sekolahmu harus selesai!” demikian kata ayah waktu itu. Semula, saya dan beberapa kawan di kampung diajak bersekolah di tempat ini oleh seseorang yang datang ke kampung saya. Gratis. Tanpa pungutan. Memang benar. Namun, sekarang, kami mesti membeli buku tulis, lembaran kerja siswa (LKS) hingga bulan dua belas, Desember 2023. Bukankah, hal tersebut berarti sama saja dengan orangtua yang membelikan buku untuk kami. Sementara janji pada mulanya, kami dibantu sepenuhnya. Memang, tidak ada pungutan dana sekolah setiap bulan. Pun, tidak ada uang asrama bulanan.

Memang beda dengan sekolah baru yang akan saya tempati mendatang. Tentu ada dana sekolah di SMP Yos Sudarso 2 Siberut dan Asrama Putera Paroki Siberut. Maka, untuk menghemat biaya, sesuai keadaan ekonomi orangtua, saya berencana, kalau jadi pindah sekolah, saya tinggal di rumah atau pondokan kecil yang ada di Puro, milik keluarga. Saya anak ketiga dari 4 bersaudara. SMP Yos Sudarso 2 Siberut lebih meyakinkan sekolahnya. Usia sekolah ini sudah puluhan tahun. Banyak tamatannya. Sebelum di tempat ini, saya pernah mengecap pendidikan di TK Margaretha Buttui dan SD Negeri 24 Madobag, Siberut Selatan. Saya pernah dengar cerita dari teman SD mengenai keadaan/kondisi sekolah di SMP Yos Sudarso 2 Siberut. Sungguh berbeda dengan sekolah saya sekarang. Yang pasti, belajar-mengajar di SMP Yos Sudarso 2 Siberut tetap berlangsung pada hari Sabtu. Sementara sekolah sekarang, kami libur.

Yang sungguh berbeda antara sekolah saya sekarang dengan SMP Yos Sudarso 2 Siberut, khususnya pada pembelajaran agama Katolik, pada semester ganjil silam. Kini, di semester genap tahun pelajaran 2022-2023, terhitung di Bulan Januari 2023, telah ada pelajaran agama Katolik, setiap hari Jumat, di sekolah. Semester silam, praktis tidak ada pelajaran agama Katolik di sekolah ini, meski 90 persen pelajarnya beragama Katolik. Akibatnya, tidak ada daftar nilai agama Katolik di tangan pelajar Katolik. (Yosep P. Salalatek)/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *