Selama dua tahun saya sebagai Koordinator Guru Agama Katolik bagi anak-anak sekolah negeri maupun swasta non Yayasan Prayoga Padang, jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK), saya mendapati kenyataan sangat minimnya pemahaman dan pengetahuan agama Katolik.

Selanjutnya, upaya untuk menumbuhkembangkan iman mereka sebagai orang Katolik, kami – para guru agama Katolik – mengimbau dan mengajak peserta didik agar mengikuti dalam kegiatan rohani dan hidup menggereja; misalnya terlibat dalam kelompok Legio Maria dan Orang Muda Katolik (OMK), dan kelompok doa Koronka. Selama ini, waktu pelajaran agama Katolik bagi mereka yang belajar agama di Paroki Katedral Padang hanya pada kesempatan pelajaran agama selama satu jam dalam satu minggu. Murid SD belajar tiap Minggu, usai Misa II, pukul 10.30 WIB. Siswa SMP-SMA tiap Jumat, pukul 16.00-17.00 WIB. Juga ada kesempatan pelajar SD-SMA/SMK mengikuti rekoleksi, adorasi bulanan (tiap minggu kedua), Misa Jumat Kedua di gereja, serta lock-in.

Mungkin, ada di antara anak dan remaja Katolik yang ingin bersekolah di lingkungan Yayasan Prayoga Padang, namun terkendala biaya/pendanaan. Akhirnya pilih bersekolah di luar, apalagi sekolah negeri menggratiskan dana sekolah. Saya berpandangan lain. Dari pengamatan saya pribadi selama ini. Sebenarnya, di kalangan orangtua bisa membiayai anaknya bersekolah di lingkungan Yayasan Prayoga Padang. Hanya saja, terlihat kurang kesadaran orangtua menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik. Kalau dari segi ‘harta’, sebenarnya mereka (para orangtua) tidak miskin sama sekali. Buktinya, anak-anak yang belajar agama di gereja/paroki berpenampilan baik. Muncul pertanyaan: siapa sebenarnya yang menjadi orang miskin di sini?

Di sini, saya melihat bukanlah miskin harta! Namun, mereka miskin karena kurang dicintai. Apakah mereka miskin karena tidak punya harta? Tidak selalu demikian. Dari segi fisik, mereka tidak miskin. Tetapi, dari dimensi kerohanian, mereka sangat butuh dan ingin disapa, didengarkan, dihargai, dan dicintai. Itulah yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak, remaja, serta orangtua yang memilih untuk menyekolahkan anak dan remajanya di sekolah negeri dan swasta non Prayoga.

Saya juga salah satu tenaga pendidik SMA Katolik Xaverius Padang. Dari pengalaman selama ini, enam tahun, jujur, sebenarnya, sekolah ini untuk anak dari keluarga/kalangan menengah ke bawah. Di sekolah ini sudah diterapkan semangat option for the poor! Uang sekolahnya berbeda dengan sekolah swasta lainnya. Sejumlah pelajar mendapat bantuan program Gerakan Orang Tua Asuh (GOTA) PSKP Santu Yusuf maupun dari Yayasan Prayoga Padang bagi anak-anak Panti Asuhan Santo Leo Padang.  

Hingga kini, diakui, SMA Katolik Xaverius lah satu-satunya sekolah yang menyandang nama Katolik di Kota Padang. Cukup banyak orangtua antusias menyekolahkan anaknya di sini. Sekolah ini menerapkan disiplin yang tinggi. Juga, di sekolah ini, pembentukan karakter siswa bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Kelak, mantan pelajarnya diharapkan menjadi pemimpin berkarakter di tengah masyarakat dan Gereja. Pemimpin yang berkualitas, kreatif, inovatis, dan punya integritas yang baik. Dari sekolah ini juga bisa menjadi tempat persemaian dan tumbuhnya bibit panggilan rohani (sebagai calon suster, calon imam).

Sekolah ini memang berbeda dengan sekolah lainnya. Saya dapati, yang menjadi dengan sekolah non Katolik: pelajarnya mendapat pendidikan iman Katolik lewat serangkaian aktivitas pembiasaan setiap hari. Contohnya, dilakukan ibadat pagi sebelum memulai pelajaran. Setiap siswa, bukan guru, bergiliran memimpin ibadat pagi (dimulai dengan doa pembukaan – bacaan harian Injil – renungan singkat – doa penutup). Selain itu, siswa memiliki disiplin diri yang tinggi. Lima menit sebelum pengajaran dimulai, pelajar telah berada dalam ruang belajar. Selain ibadat pagi, juga Doa Angelus, setiap jam 12 siang, serta doa penutup sebelum pulang sekolah. Pada waktu tertentu, di sekolah berlangsung kegiatan rohani: rekoleksi (bagi pelajar kelas XII), lock-in (pelajar kelas X), live-in, serta Pra Kaderisasi (Praka) bagi siswa kelas XI.

Hasilnya, ada calon suster, calon pastor. Selain itu, juga banyak alumninya yang menjadi ‘orang hebat’ dan orang baik. Di sekolah ini – terkenal dengan disiplinnya ini – tidak hanya berlaku pada bagi siswa tetapi juga kepada para gurunya. Sekolah Katolik ini juga terkenal dengan lingkungan yang ramah, nyaman, dan hidup sosial tinggi. Idealnya, anak dan remaja Katolik mengecap dan mengenyam pendidikan Katolik. Juga, terbentuk karakternya. Kalau orangtua ingin anaknya bertumbuh dan berkembang dalam iman dan menjadi pribadi yang baik; maka bergabunglah ke sekolah Katolik ini. Memang, akhirnya, semua terpulang dan kembali pada pilihan dan keputusan pribadi tiap anak maupun orangtua. 

Sr. Franselin Nago, SCMM
Tenaga Pengajar SMA Katolik Xaverius Padang.
Koordinator Guru Agama Katolik Paroki Katedral dari Kanak-kanak Yesus Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *