PADANG – Hari Minggu Paskah IV (30/4) di Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Padang menjadi momen spesial bagi umat, terkhusus bagi anak dan remaja. Momen ini diperingati sebagai Hari Panggilan Sedunia ke-60, yang digagas Santo Paulus VI pada tahun 1964 – selama Konsili Ekumenis Vatikan II. Paus Fransiskus dalam pesannya mengatakan panggilan sebagai suatu rahmat dan perutusan.

Dalam misa II, terlihat anak-anak mengenakan pakaian atau jubah seolah menjadi imam, biarawan dan biarawati seperti paus, uskup, pastor, dan suster dari berbagai kongregasi. Anak-anak juga ambil bagian sebagai petugas liturgi dalam Perayaan Ekaristi (lektor, pemazmur, pembawa persembahan, dan kelompok paduan suara/koor.

P. Daniele Cambielli, SX memimpin misa Minggu Doa Panggilan – bertemakan “Yesus Gembala Yang Baik Mengenal dan Memanggilmu”. Misa diawali perarakan para petugas liturgi bersama dengan sejumlah anak yang mengenakan kostum panggilan. Momen Minggu Doa Panggilan juga diisi dengan ‘kisah’ dan kesaksian para seminaris Seminari Menengah Maria Nirmala Padang, pada saat homili. Hal serupa juga dilakukan di Gereja Stasi St. Ambrosius Tabing dan Gereja Kristus Bangkit Pasarusang.

Pada kesempatan memberi kesaksian, Gerard Yohanes Manullang, seminaris asal Paroki Santa Maria a Fatima Pekanbaru berbagi pengalaman hidupnya, bahwa panggilannya dipengaruhi oleh orangtuanya. “Cinta kasih yang diberikan orangtua menentukan masa depan dan pilihan anak. Pilihan harus berdasarkan cinta kasih. Orangtua adalah wakil Allah untuk mencintai diri saya dan dengan saya merasakan cinta orangtua, maka saya percaya bahwa Tuhan itu ada,” ungkapnya.

Gerard menambahkan, ia menemukan jawaban dari dirinya sendiri saat di seminari. “Pencarian diri sendiri yang sejalan dengan pencarian Allah. Kehendak Allah adalah segala sesuatu yang berasal dari dorongan hati nurani dan berdasarkan pengalaman cinta kasih itu. Saya mengajak orang muda bertanya pada hati nurani agar sungguh menemukan panggilan Tuhan,” ujarnya.

Usai bagi pengalaman hidup dan kesaksian Gerard, Pastor Danielle menyampaikan homili sekaligus menanggapi kesaksian Gerard. Dalam homilinya, Pastor Danielle mengatakan “Akulah” pintu. Artinya, kalau seseorang mau masuk untuk hidup yang penuh, maka mesti melalui Yesus. Yesus adalah gembala. Ia mengenal domba-dombanya dan seharusnya kita, domba-dombaNya, mengenal Dia. Untuk mengetahui panggilan Tuhan, jangan menunggu bunyi khusus yang dapat didengar telinga. Namun, melalui hal sederhana seperti ketika menyadari cinta dari orangtua dan hati kita yang mengarahkan kepada Yesus,” kata Pastor Daniele.

Terkait Minggu Panggilan ini, Arman Ginting, orangtua Kenzo – pelajar sekolah dasar – mengomentari anaknya yang ikut mengenakan jubah pastor dalam momen ini. “Momen ini sebagai bentuk dorongan dari umat bagi Gereja. Hal ini juga menjadi awal serta bekal bagi anaknya. Mana tahu ada benih panggilan menjadi imam, sehingga sejak dini sudah diperkenalkan jalannya dan tidak kaget. Sebagai orangtua, saya terus mendorong demi pertumbuhan imannya, orangtua tidak membatasi. Kalau memang ada panggilan, orangtua akan mendukung,” kata Arman. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *