Masih segar dalam ingatan kita, kalimat yang diucapkan Presiden RI Joko Widodo, “Kerja, kerja, kerja!” Apakah hal tersebut menunjukkan harapan presiden agar rakyat menjadi pekerja keras atau pecandu kerja. Ternyata dua istilah tersebut berbeda walau dalam konteks yang sama: kerja dan bekerja.

Candu kerja (workaholic) adalah satu keadaan tatkala seseorang atau individu melakukan pekerjaan dalam waktu yang sangat panjang. Apabila individu tersebut tidak bekerja, maka yang bersangkutan akan melakukan pekerjaan itu lagi. Dalam workaholic ada suatu adiksi atau kecanduan. Workaholic termasuk dalam kategori gangguan psikologis, yakni pada bagian adiksi/kecanduan kerja. Individu bersangkutan sangat membutuhkan kerja dan bisa dilakukan kapan saja bekerja.

Orang workaholic tidak hanya bekerja dalam waktu yang lama, tetapi juga ‘membenamkan diri’ dalam keadaan pekerjaan tersebut. Bahkan, dewasa ini ada pula tingkatan ‘lebih parah’ daripada workaholic yaitu “hustle culture” atau budaya gila kerja yang berbahaya.  Sebagaimana diketahui, dewasa ini, banyak orang bekerja di bidang usaha start-up, yang kerjanya bersifat remote dan freelance. Satu situasi tidak ada jam kerja yang tepat dan pasti. Di waktu silam, ada jam kerja karyawan; misalnya pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, atau jam 9 pagi hingga jam enam sore. Beda dengan generasi sekarang, lebih bebas, mereka cenderung bekerja kapan pun dan di mana pun. Dalam situasi ini, menjadi salah satu penyebab ‘hustle culture’.

Kecenderungan atau tren hustle culture dimaknai sebagai suatu keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan, hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Tiada hari tanpa bekerja, sehingga tidak ada lagi waktu untuk kehidupan pribadi. Budaya gila kerja inilah yang telah menjadi standar bagi sebagian orang untuk mengukur hal-hal seperti produktivitas dan kinerja.  Seseorang bekerja, terus bekerja, dan membenamkan dirinya dalam pekerjaan. Sehingga hal tersebut menjadi satu bagian dari hidupnya (culture). Individu bersangkutan merasa ada yang kurang kalau tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukannya.

Ada berbagai sebab individu kecanduan kerja. Pertama, bisa jadi dari sisi kepribadian individu bersangkutan. Ada kebutuhan untuk diakui orang lain, sehingga dirinya ‘membenamkan diri’ dalam pekerjaan. Sebab lain, karena ‘gila’ untuk suatu pencapaian/target (yang harus tinggi dan bagus). Makanya, mesti kerja, kerja, dan terus bekerja.  Sebab lain, individu bersangkutan merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sendiri, seakan ada kekosongan/kehampaan dalam hidup. Bisa jadi, individu bersangkutan mengalami kesulitan bersosialisasi dengan orang lain sehingga di waktu luang pun, individu bersangkutan bekerja dan bekerja lagi.  Orang kesepian pun bisa menjadi individu yang workaholic. Bisa jadi juga tipikal kepribadian obsesif seseorang. Ada obsesi dalam kerja yang punya pemikiran tinggi dan jauh, yakni visi dan misi tersendiri. Akhirnya, individu bersangkutan workaholic untuk mencapai visi-misinya.

Individu workaholic punya sisi negatif dan positif. Diakui, aspek positifnya sedikit, yakni adanya tujuan atau target jelas yang mesti dicapai. Namun, ada banyak efek negatif: kelelahan yang teramat sangat. Muncul pertanyaan, “Apakah pekerjaan yang dilakukan tersebut efektif atau tidak?!” Jawabannya, tidak efektif! Selain itu, ada keterpengaruhan relasi/hubungan dengan orang lain di sekitar. Prinsipnya, apa pun yang melebihi batas bakal menimbulkan efek tidak baik, termasuk orang dengan workaholic. Sebaiknya, kalau bekerja, kita  punya jam kerja yang pasti. Kalau sudah melebihi, pasti tidak baik jadinya.

Perlu dibedakan pekerja keras dengan orang workaholic. Individu pekerja keras masih mempunyai kehidupan, masih mempunyai sahabat-sahabat, mampu menikmati kehidupan, masih punya keluarga yang harmonis. Orang ini juga bisa mengakomodir berbagai kebutuhan lainnya.  Pekerja keras bisa membagi atau mengelola waktunya, mampu menjelaskan kepada orang-orang di sekitarnya: mengapa harus bekerja lebih keras atau lebih lama. Orang workaholic atau adiksi pasti punya sesuatu yang kurang (miss). Dampaknya: waktu makan tidak teratur lagi, terganggungnya kesehatan, relasi/hubungan sosial ikut terganggu. Ada sisi kehidupan yang terganggu.

Di tengah masyarakat, saya merasa aneh, karena workaholic seakan dimaklumi bahkan diharapkan. Seolah-olah orang yang sibuk dan tenggelam dalam pekerjaannya merupakan suatu hal yang bagus. Saat bertemu orang lain, muncul ujaran, “Hai, apa kabarnya? Lagi sibuk apa sekarang? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Ini menyiratkan workaholic ada.  Dewasa ini, saya melihat generasi Z rela bekerja di luar jam kerja. Beda dengan generasi sebelumnya yang bakal  bertanya uang lembur bila bekerja di luar jam kerja. Generasi Z tidak merasa dirinya lembur, karena dapat melakukan pekerjaan sekaligus bertamasya di suatu tempat, atau bisa spend time di luar negeri sembari mengerjakan dan membuat laporan suatu proyek pekerjaan tertentu. Mereka tidak menyadari bahwa waktu pribadinya atau waktu yang seharusnya dinikmati malah digunakan untuk bekerja. Mereka seakan ‘dicetak’ menjadi workaholic.

Diakui, di zaman kini, workaholic seakan telah menjadi ‘gaya hidup’ generasi sekarang. Alangkah baiknya, kita tahu sebatas mana kita bekerja dan menyeimbangkan waktu kerja, urusan/keperluan pribadi, dan waktu untuk diri sendiri. Andaikata semua hal tersebut tercukupi, kita menjalani hidup yang seimbang (life balance). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *