Lanjut usia (lansia) merupakan satu siklus hidup manusia yang pasti dialami setiap orang. Seseorang dikatakan lansia ketika telah dan lebih berusia 60 tahun. Proses penuaan akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik aspek sosial, ekonomi dan memiliki banyak keluhan kesehatan. Padahal, lansia sebenarnya dapat berperan sebagai agen perubahan dalam mewujudkan keluarga sehat.

Ada banyak jenis perawatan lansia, yang meskipun menjengkelkan bagi anggota keluarga lainnya, karena harus mempertimbangkan begitu banyak informasi. Hal tersebut diperlukan untuk menangani beragam kebutuhan yang dimiliki lansia, tergantung pada masalah kesehatan mereka.

Setidaknya, ada enam jenis perawatan lansia. Pertama, Keperawatan Terampil: panti jompo adalah fasilitas tempat tinggal yang menawarkan perawatan medis sepanjang waktu bagi lansia yang tidak dapat hidup mandiri. Selain itu, juga diberikan di rumah pasien maupun di rumah sakit. Kedua, Bantuan Hidup: membantu menstabilkan rutinitas sehari-hari. Keluarga memilih fasilitas hidup berbantuan untuk orang yang mereka cintai guna memastikan bahwa bantuan profesional tersedia.  Ketiga, Perawatan Jeda: memberikan kelegaan jangka pendek bagi pengasuh, memungkinkan mereka untuk beristirahat dari pengasuhan anggota keluarga yang lanjut usia. Bisa berupa layanan di rumah yang bersifat sukarela maupun berbayar. Layanan ini dapat berlangsung beberapa jam hingga semalaman. 

Keempat, Hidup Mandiri: pengaturan rumahan yang dirancang untuk orang dewasa berusia di atas 55 tahun. Jenis perumahan mungkin termasuk tetapi tidak terbatas pada rumah dan apartemen satu keluarga terpisah. Fasilitas hidup mandiri memungkinkan penghuni hidup mandiri dan berpartisipasi dalam kegiatan; misalnya pertemuan liburan, malam film, dan seni dan kerajinan. Kelima, Perawatan Paliatif: untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan orang yang mereka cintai – dengan penyakit yang mengancam jiwa – dengan mencegah penderitaan (spiritual, psikologis, dan fisik).  Tujuannya untuk meringankan penderitaan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien. Keenam, Perawatan Akhir Kehidupan (Hospice): biasanya disebut sebagai perawatan rumah sakit adalah pendekatan holistik yang menawarkan kenyamanan maksimal bagi pasien yang sakit parah.

Suster Ivana Pangalila, SCMM (56) mengatakan, “Pengasuhan terbaik bagi lansia adalah pengasuhan yang dilakukan bersama anak dan cucu di rumah. Alasannya, karena bagi lansia, saat ini anak masih dianggap sebagai tempat bergantung ketika mereka sudah tua dan tidak sanggup hidup sendiri, baik karena kondisi fisik maupun alasan kesehatan. Di Wisma Cinta Kasih (WCK), kami melakukan dan memberi perhatian secara umum. Lansia masuk sesuai ketentuan yang benar; misalnya lansia masih bisa mengurus diri sendiri atau tidak ada yang bisa mengurus karena keluarga sibuk atau memang tidak ada keluarganya sama sekali.”

Selain itu, sambungnya, “Pengasuhan lansia yang kami lakukan, mulai dari membangunkan mereka di pagi hari, mandi. Ada lansia bisa mandi sendiri. Bila tidak bisa, kami mandikan. Dilanjutkan aktivitas minum susu, teh diberi roti tergantung konsultasi dari ahli gizi mengenai makanan yang perlu mereka makan. Selanjutnya, aktivitas berdoa, senam, dan sarapan. Keterampilan penghuni sangat minim. Beberapa di antaranya punya keterampilan sendiri, misalnya bisa menjahit baju sobek. Ada juga yang punya hobi bernyanyi lagu rohani maupun nostalgia.”

Bagi Sr. Ivana, jika hanya karena kewajiban mengasuh lansia, hal tersebut tidak cocok. Memang, kadang kala, tatkala mengurus orangtua muncul emosi dan rasa bosan. “Tetapi, karena ini adalah panggilan, kita lebih sabar. Memang, cerita dan kisah para lansia ini selalu berulang-ulang, bahkan kadang cerewet. Dalam hal ini, kita mestilah sabar mendengar cerita/kisah mereka. Kalau kita tidak mendengar cerita, mereka mudah sensitif, menangis dan marah. Yang pasti, mereka suka bila disapa/dipanggil namanya. Ada juga yang minta dipanggil bapak dan ibu, koko! Jangan panggil oma atau opa. Kita panggil sesuai kemauan mereka agar betah, nyaman, dan suka bergaul dengan teman-temannya,” ucap Sr. Ivana.

Bagi anak yang masih bisa mengurus orangtua, Sr. Ivana berpesan, “Tidak ada kesempatan yang paling indah selain mengurus dan mengasuh orangtua! Hanya itu yang bisa kita berikan pada orangtua semasih mereka ada. Rawatlah orangtuamu! Ketika mereka telah tiada, tidak lagi merasakan kasih sayang orangtua kembali,” ungkapnya mengakhiri.

Kepada GEMA, salah satu penghuni Wisma Cinta Kasih asal Pekanbaru, Johanes (75) mengatakan perhatian anak kepadanya cukup. “Sekali tiga bulan didatangi, sambil membawa makanan dan obat-obatan untuk penyakit stroke saya ini.  Saya ingin menikmati hari tua bersama anak di rumah. Hanya saja, anakku sibuk dengan pekerjaan dan alasan lainnya,” ucap Yohanes.

Sementara itu, salah satu warga Rayon St. Yosef Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang, Margareta Yanti Nurjani (78) mengungkap anaknya memberi perhatian cukup pada dirinya. “Anak memberi uang belanja dan makanan. Segala sesuatu yang menjadi permintaan diri saya selalu dicukupi anak. Sebelum diri saya sakit, anak sering ajak jalan-jalan ke luar kota. Saat sakit dua tahun terakhir ini, perhatian dan kasih sayang anak-anak terhadap saya tetap ada. Sekarang, sehari-hari, kegiatan saya adalah menonton televisi, membaca GEMA, buku-buku dan Alkitab. Sebulan sekali, saya dikunjungi prodiakon dan mendapatkan komuni,” ucapnya. 

Yanti mengisahkan, sejak sakit stroke dan sulit berjalan normal, dirinya terbatas bergerak; misalnya untuk membeli sesuatu di luar rumah. Kegiatan memasak di dapur pun tidak bisa dilakukan. “Kalau mau makan sesuatu, saya menunggu anak pulang kerja. Saya bersyukur pada Tuhan, karena masih berjalan dengan bantuan tongkat, makan dan mandi, meski perlu dibantu anak,” tukasnya.

Warga rayon yang sama, Maria Etty Kristanti Salim (64) mengatakan, “Pengasuhan orangtua adalah tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai anak.  Saya merasa senang memberi perhatian dan mengurus orang tua agar bisa menjadi contoh kepada anak-anak, kelak jika saya sudah tua bisa sebaliknya merawat dan mengurus saya dengan penuh kasih sayang,” ungkapnya

Sementara itu, istri dari Andreas Gho (64) telah lima tahun merawat mertuanya – dalam kondisi tidak bisa berjalan dan hanya bisa duduk dan berbaring di tempat tidur. Ibu tiga anak ini menuturkan banyak suka-duka merawat orangtua. “Sebelumnya, saya telah mengurus papa. Dulu, saat mengurus papa, kadang muncul sikap cerewet beliau. Kepada saya sering dikatakan ‘sudah kamu beli obat mati’. Kalau sekarang saat merawat mertua, keluhannya beli obat yang bisa sembuh sehingga bisa berjalan ke pasar. Di malam hari, kadang kita tidak bisa tidur, terdengar banyak omelan sepanjang malam. Ceritanya pun berulang-ulang setiap hari, terutama saat pemberian obat dan makanan, ucapnya. (ben)

1 Komentar

  1. Zaman sekarang ini, kita dihadapkan pada kondisi yang sulit untuk dipilih. Orang tua akan merasa kesepian walaupun tinggal bersama anak? Karena anak sibuk bekerja. Jika dititip di Panti Jompo, dikira anak tak mau merawat orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *