Para pemimpin Gereja Katolik telah menyerukan warga di Negara Bagian Manipur, India Timur Laut, untuk tetap tenang setelah 37 orang dilaporkan tewas dan sekitar 23 ribu orang mengungsi dalam kekerasan etnis sejak pekan lalu.

“Gereja Katolik sangat peduli terhadap orang-orang Manipur, terlepas dari suku atau komunitas mana mereka berasal,” kata Konferensi Waligereja India (CBCI) dalam sebuah pernyataan pada 5 Mei 2023.

Kerusuhan bermula pada 3 Mei, saat anggota kelompok suku mengadakan pawai sebagai protes terhadap kemungkinan komunitas non-suku Meitei diakui sebagai “Suku terjadwal”, membuat mereka memenuhi syarat untuk kuota yang disediakan di lembaga pendidikan dan pekerjaan pemerintah, selain  tunjangan dan perlindungan pemerintah. Suku Meitei berjumlah sekitar 53 persen dari tiga juta penduduk Manipur. Kelompok suku seperti Kukis dan Naga berjumlah sekitar 40 persen.

Pernyataan CBCI yang ditandatangani Ketua CBCI Uskup Agung Mgr. Andrews Thazhath, uskup agung Trichur mengatakan, “Saya meminta semua uskup untuk menyebarkan pesan agar mengadakan  doa di paroki-paroki dan komunitas religius untuk perdamaian di negara bagian dan agar pihak yang bertikai berdialog dan membangun kembali Manipur menjadi tempat cinta damai yang indah.”

Kardinal Anthony Poola (Uskup Agung Metropolitan Hyderabad), dalam sebuah pernyataan pada 7 Mei menyatakan solidaritas dengan semua komunitas yang terkena dampak.  “Sambil mengecam tindakan tercela itu, kami meminta umat Kristiani yang setia dan pembela demokrasi untuk tidak bereaksi dengan kekerasan. Penting bagi kita, sebagai komunitas yang cinta damai,  bersama melawan tindakan penganiayaan semacam itu dan memastikan perlindungan agama minoritas, termasuk umat Kristiani,” kata Kardinal Poola.

Kardinal juga mendesak pemerintah dan semua pihak terkait untuk terlibat dalam upaya perdamaian melalui dialog dan negosiasi.  “Saya meminta pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas serangan ini dan membawa pelakunya ke pengadilan,” tambahnya.

Uskup Bareilly, Mgr. Ignatius D’Souza saat mengecam kekerasan tersebut mengatakan “tidak ada ideologi yang dapat membenarkan pembunuhan manusia. Pikiran kami bersama keluarga orang mati di saat yang sulit ini.  Saya mendesak semua orang yang memiliki pengaruh atas situasi ini untuk menggunakannya demi perdamaian;  mengakhiri kekerasan, memulihkan ketertiban dan kembali ke kehidupan normal,” katanya.

Sementara itu, Dewan Uskup Katolik Kerala (KCBC) pada 6 Mei mendesak pemerintah federal untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk memulihkan perdamaian di negara bagian tersebut.  “Pemerintah federal harus siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan perdamaian di Manipur. Kerusuhan yang terjadi di Manipur selama beberapa hari terakhir menimbulkan banyak kekhawatiran,” kata Ketua KCBC Kardinal Baselios Cleemis, uskup agung Trivandrum dalam sebuah pernyataan. (Sumber: ucanews 8 Mei 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *