Apa nilai plus dari SMA Xaverius Bukittinggi? Pertama, yang pasti ada semangat saling menghargai perbedaan suku, agama, dan budaya. Buktinya, setiap Jumat, jam pertama ada kegiatan bina iman untuk semua penganut agama dan peserta didik belajar sesuai agama yang dianut. Belajar agama dengan guru agama masing-masing. Kedua, penerimaan siswa tanpa tes/ujian. Peserta didik yang mulanya biasa saja mampu berprestasi hingga tingkat nasional – bahkan internasional – dalam lomba non-akademik; misalnya tenis, karate, wushu.

Selain itu, yang membanggakan, cukup banyak ‘jebolan’ sekolah ini berhasil masuk perguruan tinggi ternama, misalnya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur tes. Ada pula alumni yang berkuliah dengan beasiswa penuh di luar negeri, tentu melalui tes, di Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. Cukup banyak pula yang lolos dan lulus menjadi polisi, tentara, polisi wanita/polwan, dan sebagainya setelah berhasil melewati sejumlah tes.

Hingga kini, tahun pelajaran 2022-2023, tercatat 226 peserta didik di SMA Xaverius Bukittinggi. Animo masyarakat lumayan besar, apalagi dana pendidikan tergolong ringan. Uang masuk dua juta dan ada subsidi di awal sekolah bagi pelajar baru. Sekolah ini juga menerima siswa berkebutuhan khusus. Sekolah ini boleh dikategorikan ‘semi SMK’ dan punya program ‘going to campus’. Setiap tahun, ada siswa yang terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (paskibraka) dan Duta Genre tingkat kota maupun provinsi. Boleh dikatakan, masyarakat Bukittinggi antusias dan menganggap sekolah ini sebagai sekolah favorit.

Memang, kalau ditilik dari namanya, “Xaverius” seakan bernuansa Katolik, namun bila ditelusuri lebih jauh lagi, ternyata, dari 226 peserta didik, hanya 17 persen beragama Katolik (38 orang). Peserta didik Muslim sebanyak 74 persen (atau 166 orang). Selebihnya, 10 persen, Kristen dan Buddha. Sementara dari kalangan pendidik, 88 persen adalah Muslim (20 orang). Selebihnya, 12 persen, guru beragama Katolik dan Kristen (3 orang). Memang, di sekolah ini, kalangan Muslim dominan, baik di kalangan pelajar maupun tenaga pendidiknya. Meski demikian, ciri khas kekatolikan tetap diupayakan ada dan tidak hilang. Kita tidak menghilangkan ciri khas yang dimiliki. Dalam rapat-rapat, kita selalu memulai dengan memimpin doa secara Katolik. Yang lain menyesuaikan. Di masa puasa, kantin sekolah ditutup setiap Jumat.

Kita memang menyediakan satu tempat/ruang doa sebagai tempat salat peserta didik maupun guru. Memang, untuk hal ini, kita mesti mampu ‘meniti buih’ atas kearifan lokal Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah (ABS-SBK), apalagi dari segi jumlah, kalangan Muslim dominan. Pesantren Ramadan dan Pastoral Sekolah di SMA Xaverius Bukittinggi berlangsung lancar. Diadakan di sekolah untuk semua penganut agama. Khusus untuk pelajar beragama Katolik, kami merangkul anak-anak Katolik yang bersekolah di sekolah negeri. Pada umumnya, pelajar Katolik di sekolah negeri karena pertimbangan gratis biaya di sekolah negeri dan anggapan punya kemungkinan besar ‘jatah’ di perguruan tinggi negeri kelak. Walau sebenarnya ‘dapat jatah’ PTN tergantung akreditasi sekolah. Sama saja sekolah negeri dan swasta. Tahun ini,  delapan pelajar kami diterima di PTN melalui jalur rapor. Kami tidak bisa menyaingi nilai yang diberikan (sekolah) negeri kepada siswa. Kami memberikan nilai sesuai kemampuan anak.

Selain aspek akademis, bagaimana spiritualitas Katolik dalam pendidikan karakter berlangsung di sekolah ini? Nah, ini memang menjadi kesulitan kami. Tetapi, kami merangkul suster yang baru bertugas di Bukittinggi ‘menangani’ hal tersebut. Dalam pembinaan, semua siswa wajib masuk kegiatan Orang Muda Katolik (OMK). Pembinaan siswa Katolik di sekolah negeri pun dilakukan lewat wadah OMK. Menjadi ‘kesulitan’ tersendiri karena kuantitas pelajar yang minoritas di lingkungan sendiri. Lagipula, kami tidak mempunyai Guru Agama Katolik (GAK). Maka, sebagai solusi, kami mengupayakan kolaborasi sekolah dengan paroki. Saya bersyukur Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum (Wakakur) SMA Xaverius juga adalah Seksi Kepemudaan DPP St. Petrus Claver Bukittinggi. Dulu ada GAK, seorang suster. Namun, setelah pindah pelayanan ke Flores, maka saya berdayakan Wakakur sebagai penyuluh dan seorang prodiakon paroki untuk mengajar agama Katolik.

Sekolah kami terbatas pendanaannya untuk mendatangkan seorang GAK. Upaya pemberdayaan katekis paroki sebagai GAK di sekolah atau berdayakan GAK SMP sekaligus SMA. Katekis paroki seorang diri. Dulunya, memang mengajar di SMA sewaktu SMA Xaverius berdiri. Kini, penuh waktu di SMP Xaverius, serta sangat sibuk di paroki karena pastor paroki sendiri yang mesti juga menangani Padangpanjang dan Panti, selain Paroki Bukittinggi.  Untuk pelajaran agama Katolik tiap rombongan belajar berlangsung tiga jam pelajaran seminggu.

Berkaitan topik “Sekolah Katolik dalam Pusaran Option for the Poor”, saya berpandangan bahwa sekolah Katolik tetap harus memperhatikan the poor. Sekolah kita harus melayani masyarakat miskin (the poor) yang ingin bersekolah di tempat kita. Mereka berharap dapat mengubah nasib mereka dengan menyekolahkan anaknya di sekolah yang punya disiplin dan dengan kasih mau melayani. Di sekolah kami, banyak anak miskin yang sebenarnya bisa bersekolah di negeri, tetapi orangtuanya menginginkan anaknya di tempat kita, walau harus berupaya mencari dana untuk pendidikan anaknya. Sekolah kita bernama Xaverius adalah sekolah swasta umum. Karena, kalau mengemban nama sekolah Katolik mestilah punya pelajaran agama Katolik secara khusus. Kita tidak punya gurunya. Kurikulum kita bersifat umum, tidak khusus keagamaan.

Dra. Silvia Rosnani
Kepala SMA Xaverius Bukittinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *