Pada suatu sore, usai istirahat, Romo Kebet hendak keluar dari Pastoran untuk santai sejenak duduk di depan teras. Saat di depan pintu, langkah Romo Kebet terhenti sejenak. Dari kejauhan, ia melihat empat anak sedang dimarahi Bu Ani, petugas kebersihan Pastoran. Wajah Bu Ani terlihat merah, seperti sangat kesal, seolah-olah mereka melakukan kesalahan yang fatal.

Romo pun menghampiri mereka dan bertanya pada Bu Ani, “Bu Ani, ada apa ini? Apa yang terjadi?” Lalu, sambil menahan emosinya, Bu Ani menjelaskan, “Begini Romo, tadi, anak-anak ini mengambil jambu yang belum waktunya di panen. Lalu mereka melawan saya.”

Loh, melawan bagaimana?” tanya Romo Kebet kaget. “Betul, Romo, saya akui saya salah. Hanya saja saya tidak terima dikata-katain oleh Bu Ani yang mengatakan orangtua saya bodoh, tidak becus mendidik saya. Menurut saya itu kasar, Romo. Lagian saya mengambil jambu ini bukan untuk saya, tapi untuk adik saya. Dia ingin sekali merasakan buah jambu itu.” jawab Doni, anak yang memanjat pohon jambu itu.

Romo Kebet yang memahami persoalan itu pun menasihati mereka sambil tersenyum ramah, “Oalah, begitu toh persoalannya. Ya sudah, untuk Andi dan teman-teman, lain kali kalau mau memetik jambu, tunggulah sampai berbuah masak. Tapi, jangan lupa meminta izin pemiliknya.”

“Melakukan perbuatan baik belum tentu bisa dikatakan benar. Sebaliknya, melakukan hal benar belum pasti akan dianggap perbuatan baik. Bisa saja sesuatu yang salah justru dianggap baik. Yang tampaknya baik belum tentu benar, yang terlihat jahat bisa saja itu suatu kebenaran. Sejatinya bahwa orang benar pasti bisa melakukan perbuatan baik. Tetapi perbuatan baik pun bisa dilakukan orang yang jahat. Yang lebih baik dan benar adalah belajar benar-benar menjadi orang baik dengan cara yang benar,” lanjut Romo Kebet.

Mendengar itu, mereka meminta maaf kepada Bu Ani. Pun dengan Bu Ani yang juga meminta maaf karena menyadari tersulut rasa kesal, karena sering berhadapan dengan kenakalan anak-anak itu, sehingga terkesan membentak dan terlalu menghakimi. Akhirnya dengan kehadiran Romo Kebet, suasana menjadi sejuk kembali dan Romo Kebet berkelakar dengan mereka semua di sore itu. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *