Suatu ketika, Romo Kebet diundang untuk misa syukuran ulang tahun salah satu anggota rayon di parokinya. Romo Kebet tidak sendirian. Ia mengajak dua OMK turut serta. Lokasi rumah umat tersebut memang agak di pelosok. Medan jalan yang dilalui tidak terlalu bagus namun masih bisa dilewati mobil.

Di tengah perjalanan, Toni, OMK nyeletuk, “Mo, sulit juga yaa menjadi seorang imam!” Mendengar pernyataan itu Romo Kebet heran. “Lho, kenapa, Ton?” tanya Romo Kebet. “Iyaa, Mo. Tidak menikah. Ke mana-mana sendirian. Urus diri sendiri. Apalagi kalau pelayanan seperti ini melewati jalanan yang rusak dan pergi ke pelosok-pelosok. Belum lagi ketika menghadapi umat yang rewel,” celetuk Mikel.

Oalahh, kamu ngejek yaa. Mentang-mentang saya jomblo abadi,” guyon Romo sambil tertawa. Bak tersulut api, Toni pun ikut menambahkan, ”Iya, Mo. Menjadi Imam itu pasti terikat. Tidak bebas.”

Sambil mengendarai mobil dan memperhatikan jalan, Romo Kebet bertanya pada mereka, ”Memangnya kalau tidak menjadi Romo bisa lebih asik yaa?” Penuh semangat Toni menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Iya, Mo. Kalau tidak jadi Pastor, nanti bisa menikah, nggak sendirian, ada yang temenin. Lalu, nggak menghadapi umat yang rewel. Selain itu, juga nggak boleh pegang banyak uang, Mo karna ada kaul kemiskinan.”

Romo Kebet berpikir sejenak sambil menghela nafas dan berkata, “Hufhh, kalian ini. Keinginan daging pikirannya. Romo mau bertanya. Apa iya panggilan berkeluarga itu tidak juga berat? Apa tidak ada persiapan untuk menikah? Apa sudah siap berbagi pikiran dan kehidupan bersama pasangan? Apakah tidak butuh persiapan menjadi orangtua? Nanti, kalau anak sudah besar, anak-anak bakal lepas dari orangtua karena mereka sudah memiliki keluarga sendiri? Kamu, Toni, nanti kalau menjadi kepala keluarga, yakin tidak memiliki tanggung jawab yang besar perihal seperti apa keluarga yang akan kamu bentuk? Bagaimana dengan ekonomi keluarga?”

Mendengar pertanyaan itu, Toni dan Mikel terdiam sejenak. “Udah. Berkeluarga itu adalah panggilan hidup. Menjadi seorang pastor juga panggilan hidup. Pasti ada konsekuensi setiap pilihan. Tidak selalu berat dan tidak selamanya mudah. Belum tentu juga memilih pilihan hidup berkeluarga adalah pilihan yang mudah dan menyenangkan. Yang terpenting kita sadar memilih dan bersuka cita saat memutuskan pilihan dan panggilan hidup kita,” ucap Romo Kebet.

Mikel pun menjawab, ”Iyaa, Mo. Betul juga yaa. Kami kira hidup berkeluarga itu tidak berat. Ternyata berat juga. Pantas papa saya beberapa hari ini banyak termenung karena kondisi ekonomi keluarga kami sedang tidak baik, Mo.”

Nggak apa-apa jomblo! Yang penting ke mana-mana sendirian. Dari pada kamu Ton, sudah ada pasangan tapi ke mana-mana tetap sendirian. Tidak ada bedanya kita. hahahaa,” Romo Kebet tertawa. Toni masih terdiam dengan pertanyaan refleksi Romo Kebet. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *