Sepertinya, semakin lama semakin banyak pasangan suami-istri (pasutri) yang mengalami kendala atau kesulitan untuk mendapatkan anak. Setidaknya terlihat dari data yang ada. Secara global, ditemukan 8% hingga 10% pasangan usia subur (PUS) yang telah satu tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Lima puluh juga hingga delapan puluh juta pasangan belum kunjung dikaruniai anak (infertilitas).

Infertilitas itu adalah suatu keadaan pasangan suami-istri yang tinggal bersama, bukan tinggal beda kota atau hubungan jarak jauh (long distance relationship – LDR). Pasutri tersebut telah melakukan hubungan yang adekuat tanpa kontrasepsi dua hingga tiga kali hubungan dalam satu minggu. Di Amerika Serikat, tahun 1982, angka infertilitas mencapai 8,4 persen. Angka tersebut meningkat pada tahun 1995 menjadi 10,2 persen. Sementara itu, secara global di dunia, angka fertilitas pada tahun 2021 menjadi 30 persen.

Secara khusus di negara-negara Asia, menurut hasil suatu penelitian, angka fertilitas di Indonesia sebesar 21 persen, Kamboja (30 persen), Turkmekistan (41 persen). Dapat disimpulkan semakin meningkat. Di Indonesia, tidak ada penelitian khusus mengenai angka fertilitas, namun dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, mencapai 10 persen hingga 15 persen (atau, setara dengan 4 juta hingga 6 juta pasangan) yang tidak mempunyai anak. Khusus di Sumatera Barat, tidak ada penelitian khusus; namun pada tahun 2017, jumlah pasutri yang tidak mempunyai anak mencapai 9,2 persen pasutri.

Pada tahun 2014, sebuah penelitian menyebutkan angka 65 persen penyebab infertilitas terjadi pada wanita, 20 persen pada pria. Sisanya, 15 persen, tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Secara umum, penyebab infertilitas bisa diakibatkan karena penyakit infeksi, berbagai macam virus; misalnya toksoplasma, rubella, cytomegalovirus/CMV, sifilis, herpes, dan sebagainya yang menyebabkan kelainan pada organ reproduksi. Termasuk penyakit gonore (yang lebih dikenal: kencing nanah) yang menyebabkan gangguan saluran reproduksi, terjadinya pelengketan dan berakibat tidak bertemunya sperma dan sel telur. Penyebab lainnya berupa kelainan pada organ reproduksi; misalnya ada miom, kista, penebalan dinding Rahim. Penyebab gangguan lainnya berupa hormone yang menyebabkan tidak terjadinya ovulasi.

Bila ditemukan kendala/kesulitan bagi pasutri, dapat dilakukan solusi berikut. Pertama, usahakan hamil pada usia reproduksi yang sehat, berkisar usia 16-36 tahun. Di luar usia tersebut biasanya muncul kesulitan. Kedua, usahakan menjaga kesehatan agar tetap stabil. Sebelum menikah, sebelum punya anak, lakukanlah pemeriksaan terlebih dulu untuk mengetahui: mutu/kualitas sperma, ada tidaknya infeksi virus, ada tidaknya miom maupun kista? Langkah ini bagus dilakukan sebelum menikah.

Selain itu, bagi pasutri haruslah sama-sama setia! Kalau tidak setia, misalnya suka ‘jajan’ di tempat yang tidak sehat bakal menimbulkan risiko terkena penyakit infeksi. Tentunya, bakal menyebabkan turunnya kemampuan untuk hamil pasutri tersebut. Kalau dijumpai kendala mendapatkan anak, segeralah melakukan pemeriksaan pada dokter kandungan. Upaya pertama, dokter mewawancarai pasutri mengenai siklus menstruasi, hubungan intim, ada tidaknya tanda-tanda beberapa penyakit. Pada wanita dilakukan pemeriksaan untuk mengecek ada tidaknya virus di tubuhnya, pengecekan saluran rahim dan tersumbat tidaknya indung telur.

Pada suami akan diperiksa lewat analisis sperma. Dari pengalaman selama ini, terlihat peluang kendala fifty-fifty pada wanita maupun pria. Apabila telah ditemukan atau tidak ditemukannya saluran tersebut, dilakukan langkah selanjutnya berupa: cukup pemberian obat-obatan saja?! Namun, bila tersumbat atau ovulasi sel telur tidak bagus, ketiadaan sperma maka butuh penanganan lebih spesifik dan khusus. Termasuk alternatif bayi tabung. Kalau saluran bagus, sperma juga bagus, dan sel telur bagus; maka bisa ditangani secara alamiah atau dibantuan dengan cara inseminasi buatan.  Sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan momongan lewat metode bayi tabung dalam dunia kedoteran. Saya pernah mengusulkan kepada pasutri ‘bermasalah’, terutama bila jumlah sperma sedikit sekali atau malah tidak ditemukan. Atau, kalau terjadi sumbatan yang tidak bisa diatasi dan pada pasangan yang bakal memasuki akhir masa reproduksi. Tentu saja, upaya ini tidak murah, setidaknya memakan biaya berkisar seratus juta hingga seratus lima puluh juta Rupiah.

Khusus untuk metode bayi tabung, di kalangan Gereja Katolik menjadi suatu dilemma; karena ada kemungkinan terjadinya aborsi yang tidak diharapkan. Pada metode ini, untuk keberhasilannya, pada pasangan wanita diberi obat kesuburan yang memungkinkan dihasilkan tiga sel telur. Satu di antaranya diambil dan siap dibuahi sperma pria – disuntikkan pada sel telur tersebut. Hal ini juga tergantung pada Teknik dan kualitas sperma pasangan pria. Sel telur yang telah dibuahi dimasukkan ke dalam rahim. Kalau didapat lebih satu sel telur, tidak dimasukkan ke dalam rahim dan disimpan dalam kulkas khusus – bisa bertahan bertahun-tahun. Seandainya yang disimpan tidak dimasukan ke dalam rahim dan tidak digunakan lagi bertahun-tahun akhirnya nanti tidak dipakai. Padahal, kita percaya setelah pembuahan sperma dan sel telur sudah menjadi makhlup hidup. Kalau tidak dilakukan proses penanaman di dalam rahim; misalnya dibuang atau tetap disana – sehingga terjadi kerusakan – hal ini sama dengan abortus. Inilah yang tidak bisa diterima di kalangan Katolik.  Untuk pasien-pasien yang selama ini saya sarankan ikut program bayi tabung karena memang terbatasnya sperma dan pada wanita kedua salurannya tersumbat, bahkan sudah diobati dengan peniupan dan tidak kunjung berhasil.  

Agar mendapat momongan segeralah berkonsultasi pada dokter kandungan untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG), analisis sperma, dan lain-lain untuk mendapatkan gambaran utuh dari pasutri bersangkutan. Untuk pasangan yang mau menikah, saya sarankan mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Akan lebih bagus bila ada dokter yang memberikan bimbingan dalam mempersiapkan kehamilan. Kepada siapa saja yang ingin mempunyai anak atau hamil: lakukanlah tindakan untuk mencegah kecacatan-kecacatan, mencegah terjadinya keguguran pada anak! Maka, empat bulan sebelum hamil, usahakan mulai mengonsumsi asam folat, Vitamin D, serta mengonsumsi zat penambah darah (zat besi) yang sangat dibutuhkan pada kehamilan sehingga dapat mencegah kecacatan ataupun abortus!
(dr. Ananto Pratikno, SpOG, MARS – Dokter spesialis kandungan RS Yos Sudarso Padang. Aktivis Paroki St. Fransiskus Assisi Padang)/olahan wawancara/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *