“Ketika memasuki salah satu gereja Katedral di Batam, saya melihat Tabernakel. Terasa ada sesuatu yang ‘menarik’ saya. Saat saya melihat patung Yesus yang tersalib di sana, hati saya terasa ngilu. Saya bertanya dalam hati ‘mengapa ada orang yang tega melakukan hal seperti ini kepadanya?’ Bahkan, kala itu, sempat terlintas dalam pikiran saya untuk membalas perbuatan orang yang telah menyalipkannya. Di dalam gereja tersebut, saya merasa seperti ada sesuatu yang mengatakan welcome home. Saya merasa kembali ke rumah, ada rasa nyaman yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata,” ucap Ilhamza Insami.

Pria kelahiran Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat tanggal 7 April 1996 ini terlahir dari keluarga muslim. Ia merasa belum menemukan Tuhan dalam dirinya. Semasa kecilnya, Ilham sering menonton siaran televisi yang menampilkan khutbah pastor dan pendeta. Ia pun sempat menonton drama yang memiliki sound-track “bukan dengan barang yang fana”. Lirik lagu tersebut sungguh menyentuh hati dan membuatnya penasaran. Ilham ingin mengenal Kristus lebih dalam lagi.

Akibat sering mengikuti siaran televisi yang mengupas/membahas tentang kekristenan, orangtuanya pun melarangnya menonton televisi. Bahkan, sering diawasi. Alumni SMK Negeri 1 Painan ini mengatakan, “Tatkala menyanyikan sound-track lagu ‘bukan dengan barang yang fana’, orangtua kerap mengatakan bahwa saya tidak boleh menyanyikan lagu-lagu orang kafir.”

Tahun 2013 adalah waktu Ilhamza mengenal Kristus lebih baik, tatkala beranjak dari rumah untuk melanjutkan program praktik kerja lapangan (PKL) di Batam. Di tempat ini, dirinya bertemu dengan banyak orang yang beraneka ragam latar belakangnya, termasuk beda agama. Bahkan, mungkin berjumpa dengan orang yang tidak beragama. Berbeda dengan remaja seusianya yang memikirkan lawan jenis. Ilhamza fokus memikirkan ‘keadaan beragama dan mental dalam beragama’. Ia pun kerap diajak beberapa teman mengunjungi sejumlah tempat beribadah dari beberapa agama. Namun, dirinya merasa nyaman memasuki gereja. Ia pun mulai mencari berbagai informasi di internet tentang Yesus Kristus. Dirinya sering ikut serta di berbagai forum Katolik dan berdiskusi tentang iman Katolik.

Seusai PKL, dirinya tidak mempunyai rasa (feeling) pada agama sebelumnya. Meski dirinya termasuk siswa pintar semasa sekolah, namun nilai agamanya selalu jelek. Kala itu, sebagaimana pengakuannya, sempat terpikir pindah agama. Namun dirinya masih khawatir dan takut atas ‘tanggapan’ orangtuanya. Ia merasa dirinya masih menjadi tanggungan orangtuanya. “Saya mengurungkan niat hingga tamat sekolah,” tegas Ilhamza.

Selesai sekolah, Ilhamza memantapkan niat keluar dari rumah dan menemukan suasana baru. Saat itu, ia bertemu seorang pemuda Mentawai beragama Katolik, bernama Joni, yang kelak menjadi teman akrabnya. Lewat pertemanan dengan Joni, dirinya banyak belajar tentang agama dan iman Katolik. Dirinya kerap menannyakan, “Bagaimana caranya menjadi pengikut Kristus?” Padahal Joni tidak pernah memaksanya belajar agama dan iman Katolik.

Suatu ketika, Joni mengajaknya ke Mentawai. Ia pun tertarik. Di tempat ini, Ilhamza tertarik ingin menjadi Katolik dan ingin dibaptis. Ternyata, tidak semudah itu untuk menjadi Katolik. Seseorang harus melewati serangkaian proses. Dalam proses tersebut Ilhamza banyak belajar dan merasa yakin bahwasannya memang Kristuslah ‘jalan kebenaran’ baginya. “Sempat di suatu ketika saat berada di Batam dan mengalami kesulitan keuangan, saya bercerita pada teman-teman Katolik. Mereka menyarankan saya berdoa. Dalam keadaan ragu, saya mulai berdoa dan meminta pertolongan kepada Tuhan. Esok harinya, saya ditelepon ibu yang mengabari pengiriman uang ke rekening saya. Pengalaman itu membuat saya merasakan Kristus hadir dalam doa saya,” ucap Ilhamza.

Berbagai proses telah dilalui Ilhamza. Tahun ini (2023), ia resmi menjadi Katolik. Ia melibatkan diri dalam berbagai kegiatan Gereja. Ia pun menjadi salah satu pendamping kelompok Bina Iman Remaja (BIR) Gereja Katolik Santo Guido Maria Conforti Stasi Maileppet, Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Siberut, Mentawai. Ternyata, kepindahannya menjadi Katolik menjadi masalah besar dalam lingkungan keluarganya. “Jujur hingga kini pun, saya masih merasakan tanggapan negatifnya. Saat pertama tahu saya pindah agama, menjadi Katolik, papa bilang terserah kalau itu memang jalanmu. Tidak demikian halnya dengan mama yang masih tidak terima kenyataan ini. Boleh dikatakan hubungan dengan mama menjadi renggang. Meskipun demikian, saya masih tetap menelepon mama untuk memberi kabar,” ungkap Ilhamza.

Bahkan surat kepindahan domisilinya agak berlarut-larut pengurusannya. Butuh waktu dua tahun. Barulah, akhir-akhir ini surat tersebut diberikan. Surat pindah domisili tersebut tampaknya dikait-kaitkan dengan kepindahan agama. Namun, akhirnya surat pindah yang diminta pun diberikan. Hingga sekarang, masih banyak orang menolak dirinya menjadi Katolik. “Puji Tuhan, semakin banyak orang yang menolak kehadiran saya, malah semakin banyak pula orang yang saya temukan dan dapatkan, serta mau menerima keadaan saya. Karena adanya penolakan tersebut, saya menetap di Maileppet. Saya merasa nyaman dan disambut baik meski orang baru di lingkungan ini. Saya berjualan kue dan lauk bagi anak sekolah yang merantau. Itulah mata pencarian saya untuk melengkapi kehidupan di perantauan,” ucapnya. (and)

1 Komentar

  1. Puji Tuhan. Biarlah rahmat Tuhan meneguhkan iman katolik Ilhamza.
    Demikian juga lingkungan selalu menguatkan iman Ilhamza. Mengajak aktif dlm komunitas di gereja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *