PADANG – “Kepada kita diingatkan lagi ‘tugas perutusan’ yang diterima saat dibaptis dan menerima Sakramen Krisma. Setiap kita diutus sebagai pewarta Sabda Allah, saksi Kristus. Serta, meneladani Yesus Kristus yang lemah lembut, pembawa damai, rendah hati, hidup penuh kebijaksanaan dalam pola hidup dan tingkah laku sehari-hari. Ini merupakan kesempatan bagi peserta pelatihan bersaksi lewat karya-karya kita tentang kebenaran lewat media sosial,” kata Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Padang, P. Bernard Lie, Pr., Minggu (18/6).

Hal tersebut disampaikan P. Bernard saat homili Perayaan Ekaristi bernuansa inkulturatif Mentawai di Gereja Paroki Santo Petrus Tuapeijat, Sipora Utara, Kepulauan Mentawai. Jelang akhir Perayaan Ekaristi, berlangsung upacara perutusan peserta oleh Vikaris Episkopalis Mentawai, P. Agustinus Agus Suwondo, SSCC. Suasana inkulturatif terasa sejak pembuka, pengantar persembahan, dan penutup.  Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) dan Komisi Komsos Keuskupan Padang menyelenggarakan “Pelatihan Video Jurnalistik OMK se-Kevikepan St. Fransiskus Xaverius Mentawai”, di Tuapeijat (15-17/6). Pelatihan diikuti 35 peserta dari tujuh paroki.

Sembari memanfaatkan waktu pengumuman dan akhir Perayaan Ekaristi, Vikaris Episkopalis (Vikep) St. Fransiskus Xaverius Mentawai, P. Agustinus Agus Suwondo, SSCC berterima kasih kepada penyelenggara yang telah membantu peserta, OMK Mentawai. Ucapan terima kasih juga diarahkan kepada Parokus St. Petrus Tuapeijat, semua pihak yang terlibat di antaranya Asrama Santo Petrus Tuapeijat – yang menampung peserta pada kesempatan pembekalan pendahuluan, para pejabat pemerintah daerah. “Sehingga banyak celah dan peluang untuk paroki, keuskupan, dan terutama untuk pertumbuhan di Mentawai, agar semakin dikenal luas. Tidak sebatas surfing semata.  Banyak hal dapat dilakukan peserta untuk karya pewartaan, sebagai ‘corong keuskupan’. Corong visi-misi Bapa Uskup. Menjadi corong Gereja. Bijaksanalah dalam mewartakan, terutama agar semakin menguatkan iman umat di Mentawai yang bangkit dan semakin bersinar,” ucap P. Wondo lagi.

Sementara itu, pada kesempatan sama, dalam sambutannya, Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI, P. Antonius Steven Lalu, Pr. mengatakan, “Kami memberikan dukungan kepada komsos-komsos keuskupan. Pada hari-hari ini, secara khusus di Kevikepan Mentawai. Sebenarnya, dana yang digunakan bukan dari Komsos KWI melainkan dana yang dihimpun dari umat.  Setiap tahun, sekitar bulan Mei, minggu ketujuh setelah Paskah, selalu dirayakan Hari Minggu Komunikasi Sosial. Pada tahun 2023, berlangsung 21 Mei. Pada hari ini, derma dikumpulkan ke keuskupan, KWI, dan Vatikan. Dana itulah yang digunakan untuk pemberdayaan karya komsos.”

Steven menambahkan, “Saat kini, karya komsos menjadi sangat penting, terutama saat Pandemi Covid-19. Kala itu, orang/umat segera mencari karya komsos. Umat ingin Misa Online. Boleh dikatakan, karya komsos ‘naik daun’. Mengapa? Karena teknologi sekarang sangat berkembang dan mempengaruhi kehidupan manusia, kebiasaan, cara berbahasa, perilaku manusia. Bisa dilihat kondisi sebelum dan setelah ada handphone. Saat belum dan setelah ada sinyal. Perilaku orang sangat berubah setelah ada hp dan sinyal. Cara berbahasa, berelasi, dan menyampaikan informasi pun berubah. Maka, karya di bidang ini pun harus ‘dikuasai’. Kita bersyukur sejumlah anak muda yang bersedia menjadi ‘corong-corong pewartaan’ di bidang pewartaan. Peserta yang telah dilatih janganlah ‘panas’ bersemangat di awal dan seturut waktu menjadi ‘dingin’. Hendaknya selalu panas.”

Tiga hari pertama (12-14/6), peserta menjalani ‘pembekalan awal’ dari Komisi Komsos Keuskupan Padang. Dua materi dasar diberikan berupa “Pengenalan Dunia Jurnalistik” dan “Mengenal Videografi”. Pelatihan yang berlangsung di Asrama Santo Petrus, Km. 10 Tuapeijat, juga didukung pemberian materi “Relasi Yang Saling Menguntungkan” oleh mantan Bupati Kepulauan Mentawai dua periode, Yudas Sabaggalet. Tidak hanya berteori, peserta menjalani praktik lapangan di SD Santo Petrus Tuapeijat (13/6) dan Kawasan Wisata Mapadeggat (17/6). Dua staf Komisi Komsos KWI menyajikan materi “Etika Melakukan Interview”, sejumlah hal teknis terkait video jurnalistik, serta manajemen media sosial (medsos) paroki/Gereja.

Tahu Manfaatkan Smartphone

Pada akhir pelatihan, Sabtu (17/6) sore, utusan tiap paroki menyampaikan kesan dan pesannya. Rudi Hartono Taelagat (Paroki Stella Maris Betaet) menyatakan senang dan bahagia mendapat kesempatan ikut pelatihan. “Meski datang terlambat tiba di lokasi, akibat faktor cuaca dan keterbatasan alat transportasi, namun kami tetap penuh semangat mengikutinya. Memang, beberapa materi tidak bisa kami ikuti sedari awal, sebagaimana dijalani peserta yang tiba awal sebelumnya. Kami sangat senang bisa berlatih dan belajar video jurnalistik ini. Walau jaringan internet tidak terlalu bagus di Betaet, kami tetap berusaha dapat menghubungi narasumber yang bisa membantu di waktu mendatang; misalnya tentang jurnalistik dan editing video,” ucap Rudi.

Peserta lain paroki, Kristoforus Salimu (Paroki St. Damian Saibi Muara) menyatakan terima kasih atas dampingan selama pelatihan berlangsung. “Inilah kesempatan pertama saya ikuti berkaitan jurnalistik dan video jurnalistik. Kini, saya lebih tahu memanfaatkan smartphone. Marilah kita membangun relasi bersama-sama untuk melibatkan teman yang belum aktif menggereja dan kebersamaan,” ujar Kristo lagi.

Yashinta br. Silaban, utusan Paroki St. Yosef Sioban, mengungkap pelatihan ini sangat membantu peserta serta memberikan sesuatu yang baru. “Kita belajar menggunakan medsos dan menyampaikan laporan berita yang dapat menarik perhatian orang lain.  Saya pribadi sangat terbantu dengan kegiatan ini karena belajar pembuatan video jurnalistik. Pun, agar tidak tertinggal dan bisa berkembang, sejalan dengan media yang terus berkembang – sesuai perkembangan zaman. Semoga, usai pelatihan, komunikasi peserta dan pendamping tetap berlanjut; serta saling mendukung dengan hasil karya di masa mendatang,” tukas Yashinta bersemangat.

Di ujung pelatihan, disepakati beberapa hal terkait Rencana Tindak Lanjut (RTL). Pertama, sepulang di paroki masing-masing, peserta pelatihan akan melapor dan mendiskusikan tentang aksi nyata tindak lanjut dari pelatihan. Kedua, peserta pelatihan meminta persetujuan dari parokus setempat untuk pembukaan medsos paroki. Ketiga, bila disetujui parokus, dimungkinkan pembentukan tim Komsos diperluas yang melibatkan mantan peserta pelatihan maupun dari pihak lain yang bisa diharapkan dukungannya; misal ketua Stasi atau baja’ gereja. Agar terukur, peserta pelatihan bersepakat menargetkan waktu RTL pada akhir Juni 2023. “Paling lambat sudah mulai bergerak pada bulan Juli 2023, mumpung penuh semangat. Semoga hasil RTL benar-benar dapat ditindaklanjuti dan kita mendapat kabar dari peserta utusan paroki,” ungkap salah satu pendamping dari Komsos Padang. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *