Dewasa ini, sangat banyak kasus mengenai kekerasan dan pelecehan seksual di dunia, khususnya terhadap kaum wanita dan anak-anak. Anak-anak adalah mereka yang sedang berkembang dalam proses awal. Mereka biasanya dalam kelompok rentan, karena mereka tidak dapat melakukan apa pun, termasuk untuk melindungi diri sendiri. Biasanya, orangtua dan keluarga menempatkan mereka pada posisi: akan dijaga oleh orang lain, membuat keputusan atas nama mereka, dan menopang penuh kehidupan mereka.

Pada umumnya anak-anak harus patuh dan mengikuti apa yang dikatakan orang dewasa terhadapnya. Dalam kondisi ini sebenarnya anak-anak tidak sepenuhnya dihormati dan dianggap sebagai orang/insan yang mandiri serta berhak menentukan arah diri mereka. Syukurlah masih banyak orangtua sangat memperhatikan dan merawat anak-anaknya dengan baik dan penuh cinta. Namun, tidak dipungkiri bahwa Gereja dan Keluarga justru sering menjadi tempat yang tidak aman bagi anak-anak, karena banyaknya orang yang mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Anak-anak merupakan kelompok orang yang lemah dan rentan terhadap pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan. Akhir-akhir ini, lewat media sosial, muncul berbagai kisah tentang pelecehan terhadap anak-anak di berbagai tempat, bahkan dalam lembaga pendidikan keagamaan. Umumnya, hal ini terjadi karena penyalahgunaan kuasa oleh orang dewasa di dalamnya. Setidaknya ada beberapa kasus yang sering terjadi; misalnya pelecehan seksual, kekerasan fisik, kekerasan psikologis (bullying), serta penelantaran anak. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak tentunya sangat menyedihkan karena seharusnya anak mendapatkan kehangatan dari orang-orang sekitarnya bukan justru mendapat melapetaka.

Pelecehan Seks

Dalam menanggapi kasus pelecehan seksual terdapat anak, seorang filsuf bernama Luce Irigaray berpendapat bahwa hal ini adalah masalah serius yang perlu diatasi. Apalagi dalam banyak kasus, perempuan sering menjadi korban.  Ini kerap terjadi karena menempatkan laki-laki paling tinggi statusnya dari pada perempuan. Dengan demikian, perempuan sering dijadikan objek seksual oleh laki-laki. Padahal semua orang lahir dari seorang ibu, tetapi dalam banyak hal perempuan justru ditempatkan di posisi yang rendah. Fokus dari pemikiran Luce ini bisa dilihat bahwa ia ingin melawan budaya maskulin. Dari pemikiran Irigaray ini dapat dikatakan bahwa sudah sepatutnya kesetaraan gender ini direalisasikan dalam kehidupan masyarakat.

Cara untuk mencegah kekerasan dan pelecehan seksual haruslah dimulai dari pendidikan. Memberikan pendidikan seks yang tepat memang tidak mudah dalam konteks budaya kita. Hal-hal berbau seksual sering dianggap tabu dalam masyarakat, bahkan dalam pendidikan di sekolah-sekolah. Orang sering menganggap bahwa pendidikan seks itu hanya untuk orang dewasa. Tidak untuk anak-anak. Padahal justru dimulai dari anak-anaklah pendidikan tentang seks harus diberikan. Memberikan pendidikan yang baik tentang seksualitas pada anak tentu bertujuan bukan untuk mengajari mereka berbuat seks, tetapi supaya mereka mempunyai pengetahuan untuk menjaga diri.

Permasalahan tentang kekerasan dan pelecahan seksual tentunya masalah kita bersama. Oleh sebab itu, kita sebagai orang dewasa mempunyai peran untuk memberikan teladan yang baik terhadap anak-anak. Meskipun anak-anak akan selalu patuh, tetapi sebagai orang dewasa (orangtua, pastor, suster, frater, bruder, OMK, dan semua orang dewasa) mengambil inisiatif lebih besar dalam saat mendampingi pertumbuhan mereka. Secara sederhana, orangtua mengajarkan anak-anaknya tentang pendidikan seks yang baik, frater mengajarkan tentang pendidikan seksualitas pada anak-anak misdinar dan anak-anak sekolah, OMK mengadakan pertemuan lewat pembahasan seputar pendidikan seksualitas.

Dari uraian dan refleksi ini, saya mau mengajak kita sebagai umat Keuskupan Padang untuk bersama-sama mengemakan dan melaksakan pentingnya pendidikan seksualitas kepada anak-anak. Yesus juga bersabda “ingat, jangan menganggap rendah seorang anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 18:10).  Tidak ada seorang pun yang berharap akan memberikan sesuatu yang buruk  kepada anak-anak mereka. Maka, memberikan hanya apa yang baik berarti membantu anak-anak berperilaku dengan baik dan benar saja. 

(Fr. Robeht Sitorus – Frater Tingkat 1 Keuskupan Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *