Sebelum berusia empat puluh tahun, saya dan suami memang kerap merasa sedih bila melihat satu keluarga lengkap ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus. Atau, lain waktu merasa sedih melihat satu keluarga yang lengkap dengan anak-anaknya. Tentu lumrah dan wajar bila sebagai pasangan suami-istri menginginkan kehadiran anak dalam keluarga, apalagi kami telah sekian tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak.

Saya menikah dengan Budi Pranyoto, kini berusia 54 tahun, di Kapel Santo Leo Padang pada tanggal 11 Juli 1999. Suami sebagai konsultan perpajakan, sementara saya memberikan bimbingan belajar (bimbel) di rumah. Hingga sekarang, atau dua puluh empat tahun usia pernikahan, kami belum dikaruniai seorang anak. Namun, seiring waktu pula, perasaan sedih pun ikut berlalu. Di sini, Pekanbaru, juga ada keponakan dan kemenakan dari keluarga besar kami. Begitupun dalam pelayanan kami di gerakan Choice Pekanbaru – yang selalu ramai dengan anak muda.

Lewat berbagai pelayanan kami di gereja, saya dan suami menjadi layaknya orangtua mereka. Bahkan, ada yang memanggil mama papa kepada kami. Kini, saya dan suami tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan karena belum kunjung dikaruniai anak. Saya pribadi merasa sepertinya Tuhan menginginkan sesuatu dari kami dalam keadaan seperti sekarang ini. Jadi, meskipun kami tidak mempunyai anak secara fisik atau hubungan darah secara langsung, namun punya banyak anak; terutama dalam pelayanan di gereja. Kami pun tidak merasa kesepian walau tidak mempunyai anak kandung. Saya pribadi dan suami sudah dapat menerima keadaan ini.

Memang, pada mulanya di waktu silam, banyak pertanyaan dari sanak-famili, kerabat, dan keluarga besar kepada suami saya, Budi, “Sudah berapa orang anaknya?” Lain waktu muncul pertanyaan, “Mengapa belum punya anak juga?” Pertanyaan yang sama juga dialamatkan kepada saya. Tentunya bukan tanpa usaha/upaya, sebab kami pun berusaha memeriksakan diri dan pengobatan di salah satu rumah sakit yang ada di Malaka, Malaysia. Hanya saja, belum ada hasilnya. Waktu berlalu. Kini, kami pun sudah bisa menerima situasi kondisi dan tidak merasa sedih lagi.

Mulanya, untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari berbagai pihak, biasanya kami menjawab, “Belum dapat. Kalau Tuhan berkenan dan memberikan, tentu kami terima dengan suka cita dan senang hati.” Memang, dalam pertemuan bersama dalam keluarga besar tahunan tersebut kerap muncul pertanyaan, “Apakah sudah dapat?” Kini, pada usia telah mencapai lima puluh tahun, kami sadari semakin tipis kemungkinan mendapat momongan.

Sejalan waktu pulalah, kini pertanyaan tentang anak sudah mereda. Bahkan, tidak ada lagi yang bertanya. Jujur, sebelum usia masuk 40 tahun, kami berharap bakal mendapat momongan. Namun, setelah 40 tahun, kami sadari tidaklah mudah lagi. Ada resiko tersendiri yang bakal dihadapi wanita yang melahirkan di atas usia 40 tahun. Resiko cukup tinggi. Semakin lama, kami semakin bisa menerima kenyataan tidak dikaruniai anak. Sekarang, kami pun jadi lebih fokus pada pelayanan di gereja; misalnya sebagai Seksi Pastoral Keluarga Paroki St. Maria A Fatima dan Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Santa Theresia Pekanbaru.

Kemungkinan adopsi atau angkat anak? Di kalangan masyarakat kita, ada anggapan keliru seakan adopsi untuk ‘memancing’ kehadiran anak kandung. Kami kurang setuju dengan pandangan atau anggapan demikian, karena kami percaya anak adalah karunia Tuhan. Kalau Tuhan beri, kami terima. Begitupun kalau Tuhan tidak beri, kami pun dapat memahaminya. Memang, sempat terlintas dalam pikiran untuk mengadopsi anak, namun bukan dalam konteks untuk memancing kehadiran anak. Namun, akhirnya, kami lebih suka mengurus keponakan dan kemenakan yang kami anggap sebagaimana anak kami sendiri.

Adopsi Anak

Sempat terlintas pemikiran untuk adopsi anak, namun kami tetap dengan sabar menunggu kemungkinan hadirnya seorang anak kandung sendiri. Tetapi, kini, dengan mempertimbangkan faktor usia, telah berusia di atas 50 tahun, pemikiran adopsi anak sudah tidak ada lagi! Apalagi, kalau adopsi anak, terasa terlalu jauh beda usia anak tersebut dengan usia kami. Kami berkonsentrasi ‘mengurus’ keponakan, kemenakan dari keluarga besar kami yang dianggap layaknya anak sendiri.  Memang, punya anak, suasana rumah jadi sungguh berbeda ketimbang tidak punya anak. Karena kami belum memiliki anak, tentu tidak bisa merasakan suasana tersebut. Namun, dengan melihat pada keluarga-keluarga yang mempunyai anak, memang terasa bedanya: lebih semarak dan meriah, ada penyaluran rasa sayang orangtua kepada anak.

Penyaluran naluri dan rasa keibuan juga tersalurkan pada anak les saya. Bahkan, kami punya sejumlah anak yang menjadikan kami sebagai wali baptis, ayah-ibu serani. Mereka memanggil kami mami papi. Begitupun dalam gerakan Choice Pekanbaru. Para choicer layaknya anak kami. Dan, kami pun layaknya orangtua mereka. Saat mereka datang ke rumah, terasa ada kehangatan layaknya sebuah keluarga. Kami dikaruniai Tuhan dengan banyak ‘anak’.

Memang, jujur, sempat pula terbersit ‘kekhawatiran’ kami di saat usia lanjut/uzur kelak. Bagi sebagian keluarga yang mempunyai anak, ada harapan ada anak yang bakal memerhatikan orangtuanya di usia lanjut. Kalau tidak punya anak bakal kesepian. Memang, dengan melihat pengalaman keponakan dan kemenakan kami yang tinggal terpisah dari orangtuanya, sempat muncul dan terlintas kekhawatiran: bagaimana kalau sudah tua dan sakit-sakitan? Apakah istri sanggup sendirian mendampingi, karena tidak punya anak? Tentu, kami ingin tetap berguna bagi orang lain hingga akhir hayat dan tidak menjadi beban. Tetapi, saya yakin pemeliharaan Tuhan kepada umatNya. Begitupun dengan kami di waktu uzur kelak. Tentu, kami berdua saling mendukung sejalan pertambahan usia. Kami sadar kenyataan memang tidak punya anak; maka kami harus menyiapkan diri untuk satu  kondisi tua/uzur kelak, termasuk menyesuaikan diri dengan keadaan.  Kalau memang tidak memungkinkan lagi, kami siap menjadi penghuni panti jompo kelak. (disarikan dari wawancara GEMA dengan pasutri Siang-Wawa)/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *