ANAK-KU,  JANGAN TAKUT!
HARI MINGGU BIASA XVIII (6 Agustus 2023)
Dan. 7:9-10, 13-14; Mzm. 97:1-2, 5-6, 9;2Ptr. 1:16-19; Mat. 17:1-9

ADA BEBERAPA pengalaman menarik dialami para murid dalam Injil hari ini. Pertama, pengalaman bersama Yesus ke sebuah gunung yang tinggi. Dalam tradisi Israel, ekspedisi pendakian gunung ini mengingatkan mereka akan kisah Musa dan Elia ketika naik ke gunung Sinai. Mereka memahami Allah dapat ditemui di gunung yang tinggi. Penulis Matius sengaja membawa pembacanya ke arah itu, yaitu pengalaman bertemu dengan Allah.

Kedua, pengalaman melihat Yesus yang dimuliakan, bersama dengan Musa dan Elia. Kedua tokoh Perjanjian Lama ini merupakan tokoh penting dalam tradisi Israel. Bahkan Elia sendiri sering dikaitkan dengan Mesias. Peristiwa ini telah menggiring mereka pada sebuah kekaguman yang luar biasa akan kemuliaan Tuhan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga Petrus sendiri mengekspresikan rasa kagumnya itu dengan menawarkan pendirian tiga kemah. Tawaran Petrus untuk mendirikan “kemah” ini sendiri dapat mengingatkan akan kemah pertemuan pada zaman Perjanjian Lama; Musa bertemu dengan Allah.

Ketiga, pengalaman mendengar suara dari dalam awan yang memproklamasikan atau meneguhkan kemesiasan Yesus. Suara dari dalam awan tentu mengingatkan mereka peristiwa penting dalam Perjanjian Lama ketika Allah datang dan berbicara dari dalam awan kepada bangsa Israel. Pada waktu itu bangsa Israel gemetaran berhadapan dengan Tuhan dan itu juga yang terjadi dalam diri murid-murid ketika Yesus dimuliakan. Keempat, pengalaman mendapatkan ketenangan kembali dari Yesus setelah sebelumnya mengalami ketakutan yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa kuasa kemuliaan Allah memang menakutkan tetapi sekaligus menenteramkan.

Kisah ini merupakan kisah pengalaman akan kehadiran Allah yang hendak menyatakan kemesiasan Yesus dan memberitahukan bahwa kehinaan dan penderitaan pun pada akhirnya akan menjadi kemuliaan besar. Itulah yang telah terbukti melalui Yesus.

Hari ini kita diajak untuk “bersama-sama dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes” ikut “merasakan dan mengalami” kemesiasan Yesus itu, sehingga dengan demikian tidak ada lagi keragu-raguan dalam mengikut Yesus sebagai Tuhan. Percayakah kita bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap hirupan dan hembusan nafas? Percayakah bahwa Tuhan selalu hadir dan bersama dalam suka dan duka kehidupan? Kita  diajak untuk ikut mengalami kehadiran Tuhan yang penuh kuasa di saat-saat kesulitan, dan kecemasan. Dalam situasi yang seperti ini Tuhan datang dan menyentuh kita sambil berkata: “Anak-Ku, bangunlah, jangan takut!” Sabda yang meneguhkan dan menenteramkan ini bukanlah sekadar penghiburan kosong!

Setiap orang punya cara untuk memahami dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya.

Kita dapat menyorot-balik (flashback) cara yang dipakai Tuhan menolong dan menjawab setiap persoalan  dalam menjalani kehidupan yang sarat beban. Seringkali Tuhan memberikan pertolongan di saat-saat dan dengan cara yang tidak pernah diduga sebelumnya. Suara dari dalam awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”, boleh saja membuat kita gemetar dan tersungkur ketakutan, tetapi pada akhirnya Tuhan Yesus datang dan menguatkan dengan suatu perkataan yang sangat menyentuh kehidupan. “Anak-Ku, bangunlah, jangan takut!” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *