JANGAN MENJADI LALANG KEHIDUPAN
HARI MINGGU BIASA XVI (23 Juli 2023)Keb. 12:13, 16-19; Mzm. 86:5-6, 9-10, 15-16a; Rm. 8:26-27; Mat. 13:24-43 (Panjang) atau Mat. 13:24-30 (Singkat)

SEORANG PETANI mengolah sepetak  tanahnya yang subur. Petani itu menanam aneka sayuran. Karena tanahnya subur, gulma atau tumbuhan liar berpacu tumbuh dengan sayuran itu. Si petani tidak menyerah. Disianginya rumput liar itu supaya tidak mengganggu sayuran yang ditanamnya. Petani itu memisahkan antara tanaman sayur dan gulma.

Lalang dalam perumpaan Injil hari ini adalah tanaman yang menyerupai gandum bila baru tumbuh. Lalang yang tumbuh di antara gandum susah dipisahkan karena akarnya saling berjalinan. Lalang berdaun mirip sekali dengan gandum, tetapi perbedaannya mencolok jika keduanya dibiarkan tumbuh sampai musim panen. Pada musim panen petani akan memisahkan mana yang lalang dan mana yang gandum. Petani akan mengumpulkan lalang tersebut dan membakarnya. Sedangkan gandum akan dikumpulkan dan disimpan dalam lumbung

Tuhan Yesus mengambil perumamaan tersebut untuk menunjukkan kepada kita. Di dunia ini banyak sekali lalang yang menyatu dengan gandum sehingga sulit membedakannya. Manakah yang lalang dan mana yang gandum.

Kehidupan umat  Kristiani di dalam Gereja seperti gandum dan lalang. Bukan berarti semua orang yang pergi beribadah ke tempat-tempat ibadah (gereja) semua adalah gandum. Karena banyak juga orang yang beribadah ke gereja namun hatinya tidak sungguh-sungguh percaya pada Tuhan Yesus. Banyak orang yang ke gereja namun sikap dan perbuatannya tidak mencerminkan karakter Allah. Banyak orang yang rajin beribadah, tetapi sikap dan perilakunya mencerminkan ajaran iman dan agamanya. Ada orang bahkan kelompok orang, setelah keluar dari tempat ibadahnya mengkafir-kafirkan sesamanya. Orang seperti itu yang disebut lalang oleh Tuhan Yesus.

Dalam kehidupan bersama, baik di dalam Gereja dan masyarakat seringkali kita menjadi “lalang kehidupan. Kita menjadi pengganggu, penghambat bahkan menjadi batu sandungan bagi orang lain yang ingin menjadi orang baik. Saat ini belum dipisahkan-Nya lalang dari gandum. Tetapi saat waktu Tuhan tiba, akan ada masa penuaian, antara lalang dan gandum akan dipisahkan-Nya. Masing-masing akan diletakkan-Nya sesuai tempatnya. Lalang akan dibakar masuk dalam api, sedangkan gandum akan disimpan masuk ke Sorga.

Renungan kita adalah: “Seperti apakah aku? Lalang atau gandum?” Kalau kita merasa seperti lalang, Tuhan senantiasa memberi waktu supaya berubah. Tuhan bagaikan petani yang rajin dan setia merawat tanaman sayurnya. Caranya dengan bertobat. Tuhan selalu menunggu kita untuk datang kepada-Nya. Mumpung masih ada kesempatan untuk berubah, maka marilah berubah! Jadilah gandum yang akan dituai Tuhan dan dimasukkan dalam lumbung-Nya yaitu sorga yang kekal. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *