Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, sembari menjalani bersama Tahun Keluarga Keuskupan Padang ini, banyak pasangan yang datang pada saya dalam rangka kunjungan pastoral untuk minta didoakan supaya segera bisa memperoleh anak. Ada yang sudah bertahun-tahun menantikan kehadiran si buah hati itu, ada pula yang sudah berusaha dengan berbagai macam cara sampai memakai inseminasi buatan.

Sebenarnya yang menggembirakan saya pertama-tama adalah melihat bahwa pasangan-pasangan keluarga Katolik yang memohon doa ini nampaknya tetap rukun dan ceria. Benar bahwa cita-cita perkawinan katolik harus terbuka pada keturunan, tetapi tidak semua pasangan memperoleh karunia tersebut dengan segera.

Tujuan perkawinan Katolik pertama-tama adalah kesejahteraan keluarga yang dapat menjadi sakramen, tanda nyata dari hubungan cinta kasih Kristus sendiri dan Gereja-Nya, Allah dan umat-Nya. Namun, memang pantas pula kita sadari bahwa kehadiran anak-anak dalam keluarga Katolik mempunyai makna istimewa. Seperti kata Bapa Suci Paus Fransiskus, anak-anak adalah pembawa citra Allah dalam keluarga.

Kehadiran mereka di dalam rumah tangga kristiani dapat membuka jalan-jalan baru dalam usaha orang tua mereka untuk mencari wajah Allah dalam ikatan perkawinan mereka. Pada gilirannya nanti, anak-anak juga akan mampu belajar menemukan wajah Allah yang setia dalam pendampingan dan usaha pembinaan dari orang tua mereka.

Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia dewasa ini, Gaudium et Spes artikel 48, menyatakan bahwa “Anak-anak, selaku anggota keluarga yang hidup, dengan cara mereka sendiri ikut serta menguduskan orang tua mereka. Sebab mereka akan membalas budi kepada orang tua dengan rasa syukur terima kasih, cinta mesra serta kepercayaan mereka, dan seperti layaknya bagi anak-anak akan membantu orang tua di saat-saat kesukaran dan dalam kesunyian usia lanjut.” Paus Paulus VI dalam Ensiklik Evangelii Nuntiandi artikel 71 kembali kepada tema tersebut: “Pada saat-saat yang berbeda-beda di dalam Sejarah Gereja dan juga di dalam Konsili Vatikan Kedua, keluarga patut diberi nama yang indah yaitu sebagai “Gereja rumah tangga (domestik)”. Ini berarti bahwa di dalam setiap keluarga kristiani hendaknya terdapat macam-macam segi dari seluruh Gereja. Lebih lanjut, keluarga, seperti halnya Gereja, harus merupakan suatu tempat di mana Injil diteruskan dan dari mana Injil bercahaya. Di dalam suatu keluarga yang sadar akan perutusan tadi, semua anggota melakukan evangelisasi dan menerima evangelisasi. Orangtua tidak hanya mengkomunikasikan Injil kepada anak-anak mereka, tetapi dari anak-anak mereka orang tua sendiri dapat menerima Injil yang sama, seperti yang dihayati secara mendalam oleh mereka.”

Oleh karena itu, Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa kehadiran anak-anak dalam keluarga dapat menyampaikan satu pesan kabar gembira, seolah-olah dengan menyaksikan dan memandangi wajah anak-anak, orangtua mereka sampai pada wajah Belas Kasih Allah. Halaman pertama Kitab Suci sendiri menunjukan dengan jelas hal ini, karena “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya” (Kej. 1:27). Jadi setiap pribadi anak dalam keluarga mempunyai nilai alkitabiah ini. Setiap anak diciptakan seturut gambaran dan keserupaan dengan Allah, maka dengan cara tertentu menjadi cerminan-Nya yang nyata, justru karena merupakan hasil buah kasih orang tuanya. Dengan cara demikian ayah dan ibu turut serta dalam karya penciptaan kehidupan. Itulah dasar dari perintah keempat dalam Kitab Suci: “Hormatilah ayah dan ibumu, supaya panjang umurmu…” karena dengan dari merekalah anak menerima kehidupan.

Menjelang penutupan Tahun Keluarga Keuskupan Padang ini, saya mengajak kita semua, seluruh umat, terutama keluarga-keluarga muda katolik, untuk terus berdoa dan saling mendoakan satu sama lain, agar banyak pasangan yang masih berharap mendapatkan keturunan dapat segera menimang buah cinta kasih mereka sebagai lambang kehadiran Allah yang berbelas kasih di dalam keluarga mereka.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *