SEPERTI APAKAH KITA?
HARI MINGGU BIASA XV (16 Juli 2023)
Mzm. 65:10abc, 10c-12, 12-13,14; Rm. 8:18-23;
Mat. 13:1-23 (Panjang) atau Mat. 13:1-9 (Singkat)

BACAAN INJIL hari ini bertanya kepada kita masing-masing. “Bagaimanakah aku menerima Sabda Tuhan?” Melalui perumpamaan tentang seorang penabur yang kita dengarkan hari ini, Tuhan Yesus tidak menghakimi, tetapi memanggil setiap kita untuk mengubah cara hidup agar semakin setia kepada Sabda-Nya. Tuhan Yesus menghendaki supaya kita mengubah diri; dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik lagi.  

Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tentang hal sehari-hari yang diketahui bahkan dijalani orang Yahudi pada zaman itu. Hal itu pun  relevan di zaman kini, di tempat kita masing-masing.

Benih yang jatuh di pinggir jalan. Ini adalah gambaran orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi tidak mengerti. Orang ini mendengar bahkan mendengarkan tetapi tidak bersedia mengubah konsep berpikir yang lama. Mendengar tetapi tidak tahu apa yang dimaksudkan. Cara berpikir manusia model ini sudah dikuasai oleh dosa sehingga membuat apa pun yang diberitakan ditolak. Orang-orang seperti ini selalu merasa diri baik dan orang lain salah. Orang-orang seperti ini tidak suka dikoreksi dan tidak akan pernah mau dikoreksi meskipun tindakannya salah. Nabi Yesaya mengatakan bahwa hati bangsa Israel telah keras sehingga teguran yang mereka dengar,  hukuman yang dilihat tidak membuat menanggapi dengan pertobatan sejati. Siapa yang mendengar firman tetapi tidak bertobat, dialah “pinggir jalan” yang dimaksud perumpamaan ini. Benih firman telah jatuh ke dalam hatinya hilang begitu saja karena tidak pernah menembus masuk ke jiwanya.
Benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu. Tanah yang berbatu-batu ini adalah orang-orang yang mendengar dan menerima firman Allah, tetapi tidak bertahan di dalam penganiayaan. Orang-orang yang mengaku menjadi murid Kristus tetapi ternyata lebih mementingkan kenyamanan hidup, tidak mau repot. Orang-orang seperti ini juga akan berbalik dan meninggalkan imannya ketika datang kesulitan.  Orang-orang golongan ini, memiliki semangat besar, tetapi semangat yang belum teruji. Tanah berbatu juga bisa kita pahami, orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi menolaknya. Hatinya tertutup dan keras membatu.

Benih jatuh di semak berduri. Iman Kristiani selalu mendapatkan tantangan. Menjadi orang Kristiani tidak selalu enak,  tidak mudah dalam kehidupan dan kadang tidak nyaman. Yang terjadi seringkali sebaliknya. Banyak  tantangan, godaan dan hambatan. Golongan ini adalah orang yang tidak tahan tekanan dari lingkungan tempat tinggalnya, tempat kerja atau lingkungan pergaulannya. Ketika lingkungan sekitar mengucilkan, menghina, menjauhi kita karena beda iman, apakah kita menjadi memble? Masyarakat yang  menghakimi dan ingin mematikan iman Kristiani bukan sekedar ancaman tetapi bentuk penganiayaan. Di tengah-tengah kesulitan itulah iman bertumbuh dan diuji.

Benih yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah. Inilah yang diharapkan Tuhan. Kita menjadi lahan yang subur, tempat tumbuh dan kembangnya Sabda Tuhan. Golongan ini adalah orang yang mendengarkan, memahami Sabda Tuhan dan merawat imannya sehingga berbuah.

Oleh sebab itu, Tuhan sesungguhnya menghendaki agar setiap kita mempunyai hati yang lembut, bukan yang seperti jalan yang keras dan berbatu. Kita diharapkan mengubah diri, setiap kali Sabda Tuhan dibaca atau dikhotbahkan. Jangan sampai pesan Sabda Tuhan itu masuk ke telinga kanan, keluar di telinga kiri. Sabda Tuhan itu mesti berhenti di dalam diri, lalu keluar dalam bentuk buah-buah iman. Kita belajar menjadi orang-orang yang mudah dibentuk oleh Sabda Tuhan, bukan menjadi sombong dan menghakimi orang lain dengan semangat seperti orang-orang Farisi.

Kiranya kita juga memberikan hidup yang tertuju sepenuhnya kepada Kristus. Sepenuhnya! Biarlah kita juga mengatakan seperti Paulus, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalamku”. Inilah Kerajaan Surga itu. Kita telah mati, sekarang Kristus yang hidup di dalam diri kita. Kita tidak menjadi murid Kristus supaya mendapatkan kelancaran dan kemudahan di dalam hidup. Karena kenyataannya tidak demikian.  Kita menjadi murid Kristus – umat Kristiani karena mau meneladani Yesus Kristus yang menyangkal diri, memikul salib, dan mati bagi umat-Nya.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *