KERENDAHAN HATI DAN KERENDAHAN DIRI
HARI MINGGU BIASA XX (20 Agustus 2023)
Yes. 56:1, 6-7. Mzm. 67:2-3, 3,5,6,8; Rm. 11:13-15, 29-32; Mat. 15:21-28

BEBERAPA hari yang lalu, bangsa Indonesia merayakan Proklamasi Kemerdekaan. Kita sebagai bangsa mensyukuri karunia Allah yang membangkitkan hasrat, semangat juang, dan pengorbanan para pendahulu untuk merebut dan memaklumkan diri sebagai orang-orang yang bebas, merdeka, dan berdaulat sebagai bangsa. Peristiwa ini mengajak dan meneguhkan perjuangan kita dalam memperjuangkan cita-cita menuju bangsa yang adil, makmur, damai, dan sejahtera bagi seluruh bangsa.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari Minggu ini mengingatkan akan sikap yang perlu dimiliki untuk membangun negeri ini atas dasar kesamaan dan keseteraan demi keadilan sosial. Yesus dalam Injil memperlihatkan sikap yang tidak membeda-bedakan orang di hadapan rahmat Allah. Walaupun tampaknya mengejutkan pernyataan Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 25:24), namun pernyataan menantang itu hanyalah menjadi ujian bagi perempuan yang datang kepada-Nya meminta rahmat yang dibutuhkan, yaitu kesembuhan anaknya. Yesus menanggapi permintaan perempuan itu, karena perempuan itu memintanya dengan sepenuh hati, pasrah, dan berserah diri dengan penuh keyakinan.

Perempuan Kanaan itu memberikan pelajaran kepada kita dalam memperoleh rahmat dan pertolongan Allah.  Dalam segala kesesakan karena himpitan persoalan dan masalah hidup hendaknya kita mendekati Allah untuk meminta pertolongan-Nya. Kerendahan hati dan kerendahan diri di hadapan Allah telah ditunjukkan perempuan Kanaan itu. Demikian pula jika mengalami kesulitan hidup tak henti-hentinya meminta pertolongan Allah.

Sabda Allah lewat nabi Yesaya, “Taatilah hukum dan keadilan” (Yes. 56:1) berlaku untuk semua orang, tanpa perbedaan dan pembedaan. Hanya dengan cara itu, semua anak bangsa bisa menikmati dan semua hasilnya dengan sesungguhnya.  Sebagai warga bangsa kita terus mengharapkan adanya keadilan. Siapa pun tidak menghendaki hukum hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Semua warga bangsa memiliki kesamaan di depan hukum. Harus kita akui bersama, kehidupan berbangsa saat ini sudah lebih baik daripada masa lalu. Kalau di sana-sini masih ada kekurangan, bisa dimaklumi karena kita masih terus berjuang untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *