KITAB SUCI: SUMBER POKOK IMAN
HARI MINGGU BIASA XXII (3 September 2023)
Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4, 5-6, 8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27

DALAM Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa Diri-Nya mesti ke Yerusalem. Tindakan Yesus ini untuk membuktikan komitmen Yesus akan kesetiaan-Nya terhadap rencana dan kehendak Allah. Di Yerusalem inilah Yesus mengalami penderitaan, sengsara sampai wafat di kayu salib sebagai orang yang terhukum.

Di Yerusalem, Yesus dimakamkan, tetapi juga bangkit dari kematian mengalahkan maut untuk keselamatan umat manusia. Penderitaan, sengsara, wafat di salib merupakan konsekuen atau risiko dari kesetiaan kepada Allah. Pilihan-Nya untuk setia kepada Allah Bapa-Nya dan komitmen-Nya untuk menyelamatkan dan membahagiakan umat manusia membawa kepada salib. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Aku” (Mat. 16:24).

Setia pada komitmen dan pilihan hidup walaupun menghadapi berbagai rintangan, pencobaan, dan resiko; berusaha untuk menerima semua konsekuensi dan tidak lari dari kenyataan merupakan bentuk konkret melaksanakan ajakan Yesus untuk mengikuti Dia. Bentuk konkret itu bisa dalam wujud antara lain: setia pada pasangan hidup, setia dan tanggung jawab pada profesi yang telah menjadi pilihan hidup, mengerjakan sampai tuntas yang menjadi keputusan. Setia dalam panggilan sebagai imam, bruder, suster, dan pasangan suami istri.

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional (HMKSN). Bacaan pertama dari Kitab Yeremia mengingatkan kita untuk mewartakan Sabda Tuhan meskipun banyak pertentangan dan rintangan bahkan risiko buruk. Tidak mudah memang di zaman kini untuk menjadi pewarta, karena kehidupan berpacu dengan aneka tantangan yang bisa menyesatkan. Meskipun begitu, Tuhan menuntut kita berani dan setia dalam mewartakan Kabar Keselamatan itu.

Kita dapat mewartakan kehendak Tuhan lewat perbuatan dan perkataan; bisa menggunakan teknologi modern dalam segala bentuk yang memberikan kemudahan untuk menyampaikan pesan. Kita memikul salib hidup masing-masing seperti ditegaskan Yesus tadi. Mewartakan kehendak Tuhan dengan kata-kata seperti dikatakan Santo Paulus dalam bacaan kedua, yaitu menasihati sesama untuk tetap hidup kudus sebagai umat Allah. Kesesuaian antara kata dan tindakan dibutuhkan dalam pewartaan.

Bagaimana mengetahui kehendak Allah? Salah satu caranya dengan membaca Kitab Suci. Dengan membaca Kitab Suci, supaya mengenal kehendak Tuhan sehingga bisa hidup sungguh sesuai kehendak-Nya. Dengan membaca Kitab Suci secara teratur, kita akan mendapatkan inspirasi yang meneguhkan dari Tuhan. Pada zaman kini, rasanya tidak ada alasan lagi untuk mengatakan tidak memiliki Kitab Suci.

Mengapa? Karena Kitab Suci saat ini tidak melulu dalam wujud buku tebal, dengan tulisan yang hurufnya kecil. Kitab Suci saat ini bisa selalu dalam genggaman, berada di mana pun kita berada. Kitab Suci sudah ada di handphone yang selalu kita bawa ke mana pun pergi dan berada. Karena itu, mari kita berusaha tekun dan setia membaca ayat Kitab Suci satu ayat pun. Kita merenungkan dan menjadikannya inspirasi yang membuat hidup menjadi baik dan lebih baik. Kitab Suci adalah sumber pokok iman! ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *