MENASEHATI UNTUK MEMPERBAIKI
HARI MINGGU BIASA XXIII (10 September 2023)
Sir. 27:30 – 23:9; Mzm. 103:1-2, 3-4, 9-10, 11-12; Rm. 14:7-9; Mat. 18:21-35

SEORANG teman mengirimkan pesan meminta bantuan doa karena anaknya sakit dirawat di rumah sakit. Pesan itu pun segera disebarkan kepada sesama teman-teman yang lain. Pesan tersebut terus bersambung. Banyak teman yang berdoa untuk kesembuhan anaknya, segala urusannya dimudahkan dan dilancarkan.

Beberapa waktu kemudian, teman tersebut kembali mengirimkan pesan. Isinya ucapan syukur karena anaknya sudah sembuh. Selain itu, ia mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah mendukung dan mendoakannya. Ia menyatakan bahwa di saat sulit tersebut tidak merasa sendirian. Banyak teman atau banyak orang yang memperhatikan, mendukung, dan membantu dengan berbagai cara untuk kesembuhan anaknya.

Teman tersebut percaya akan janji Yesus kepada para murid-Nya. “… Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:19). Tidak sedikit pengalaman yang membuktikan bahwa janji Yesus itu tidak hanya dipenuhi dua ribuan tahun yang lalu. Saat ini dan sampai kapanpun Yesus akan tetap setia pada janji-Nya.

Dukungan teman-teman terhadap teman yang anaknya sakit tersebut adalah bentuk kepedulian, simpati, empati, dan cinta. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa “buah kasih adalah kegembiraan, perdamaian, dan kerahiman kasih menghendaki kemurahan hati dan teguran persaudaraan” (KGK 1829). Jika kita peduli kepada sesama apalagi saudara, maka juga akan peduli pada keselamatannya raga dan jiwanya. Terhadap semuanya itu, dalam menjalin pertemanan idealnya tidak hanya peduli terhadap hal-hal yang baik saja, tetapi juga pada hal-hal yang kurang atau tidak baik.

Sebagai tanggung jawab moral, kita hendaknya menegur teman yang berbuat tidak baik. Kita harus berani menegur atau menasihati supaya berhenti melakukan perbuatan tidak baik atau jahat dan mulai berbuat baik. Membiarkan teman atau sesama yang berbuat tidak baik adalah sama dengan menjerumuskannya ke dalam dosa.  

Seperti nabi Yehezkiel dalam Bacaan Pertama, jika perlu kita mengingatkan mereka atas nama Tuhan. Hal ini tentu saja bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkannya lalu teman yang berbuat kejahatan mengubah diri.  Santo Paulus mengingatkan bahwa “kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia”. Kejahatan tidak hanya menyangkut perbuatan terhadap sesama dan merugikan, tetapi juga merugikan diri si pelaku kejahatan.

Dalam Injil hari Minggu ini, Yesus juga memberikan petunjuk dalam menegur atau menasihati sesama. Menegur atau menasihati sesama atau teman atas motivasi untuk memperbaikinya. Kita tidak boleh mempermalukan sesama yang berbuat kejahatan sekalipun di depan orang lain. Kita menegurnya dengan sikap bersahabat, berbicara empat mata (berdua), bukan mengadilinya. Jikalau tidak berhasil kita meminta orang lain yang lebih bijak atau berkompeten untuk menasehatinya. Karena motivasi dasar dalam menegur adalah untuk perbaikan, maka doa jangan dilupakan. Sebelum menasihati, mintalah pertolongan Roh Kudus supaya menggerakkan hati, budi, dan pikirannya sehingga telinga dan mata hatinya terbuka terhadap hal-hal baik.

Dalam semuanya itu, kita sendiri perlu mawas diri.  Layakkah saya menasihatinya? Jangan sampai kita menuntut orang lain berubah, tetapi diri sendiri tidak pernah berusaha untuk berubah. Jangan sampai terjadi seperti ungkapan, “tidaklah mungkin sapu yang kotor untuk membersihkan sampah”. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *