Epilepsi merupakan gangguan pada sistem saraf pusat atau aktivitas sel saraf di otak. Saat terjadi serangan, anak yang menderita epilepsi menunjukkan gejala kejang-kejang dan terkadang disertai kehilangan kesadaran. Meski tidak mudah menghadapi epilepsi pada anak, orangtua tetap harus memastikan anak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat. Jika tidak diobati, kondisi ini bakal memengaruhi tumbuh kembang dan kemampuan belajarnya.

Menghadapi kondisi epilepsi pada anak tentu memunculkan tantangan baru, bagi orangtua maupun anak tersebut. Sebagai orangtua, Anda disarankan selalu berpikir positif, mencari informasi akurat tentang epilepsi, dan membantu anak menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

Anak yang menderita epilepsi dapat mengalami gangguan emosional; misalnya rendah diri atau depresi. Namun, jangan biarkan hal itu terjadi! Untuk menguatkan kondisi kejiwaannya, jelaskan seputar penyakit yang dideritanya; misalnya hal-ikhwal tentang epilepsi, gejala, dan cara mengatasinya. Tumbuhkan rasa percaya diri anak dengan mengatakan bahwa ia masih bisa melakukan aktivitas yang disukai, tetapi harus dilakukan secara hati-hati atau perlu pengawasan.

Bantu anak untuk memahami bahwa ‘menjadi berbeda’ adalah hal yang normal. Anjurkan anak terus fokus pada hal-hal yang bisa dilakukan. Anak juga masih bisa berprestasi, karena epilepsi tidak memengaruhi kecerdasannya selama diberikan pengobatan oleh dokter. Beritahu pula kondisi yang dialami anak pada pihak sekolah dan teman-temannya agar tidak terlontar kata-kata yang bisa menyakiti hatinya. Jelaskan pula, epilepsi bukan penyakit menular. Tidak ada alasan menjauhi anak.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dampingilah anak saat menjalani aktivitas yang bisa membahayakan nyawanya bila terjadi kejang; misalnya berenang. Anda juga dapat memakaikan pelindung kepala saat ia bersepeda. Jangan biarkan anak bersepeda sendirian. Saat berada di kamar mandi, beritahu anak agar tidak mengunci pintu kamar mandi. Anda bisa dengan mudah menolong anak bila mengalami kejang. Hindari melakukan aktivitas yang membuatnya terlalu lelah dan mengalami demam, karena hal ini bisa memicu terjadinya kejang.

Saat anak kejang, usahakan tidak panik! Meski sulit, Anda harus tetap tenang dan lakukan beberapa hal berikut ini untuk menolongnya:

  1. Jauhkan anak dari benda berbahaya di sekitarnya, misalnya benda tajam dan keras, tangga, serta perabot rumah.
  2. Baringkan tubuhnya ke arah kanan atau kiri agar cairan dalam mulutnya bisa keluar dan tidak masuk ke jalan napasnya.
  3. Saat dan setelah kejang, pantau kondisi anak apakah ia masih dapat bernapas. Jika setelah kejang anak tidak bernapas, segera bawa anak ke IGD rumah sakit terdekat.
  4. Selama dan setelah kejang berakhir, anak mungkin ketakutan dan bingung dengan kondisi yang dialami. Tenangkan ia dengan berkata bahwa semua baik-baik saja dan dampingi anak hingga ia merasa lebih tenang dan stabil.
  5. Setelah kondisinya terlihat stabil, biarkan anak istirahat. Hindari memberikan obat tambahan, kecuali bila diresepkan oleh dokter.

Kejang akibat epilepsi adalah kondisi yang perlu mendapat pemeriksaan dan penanganan dokter. Terlebih, jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit disertai sesak napas.  Epilepsi pada anak memang terdengar mengerikan. Namun, dengan penanganan yang tepat; misalnya memberikan obat-obatan, berkonsultasi ke dokter secara rutin, dan mengawasi aktivitasnya; maka risiko anak mengalami dampak epilepsi yang berbahaya dapat berkurang.  Jika kondisi anak makin memburuk setelah mengonsumsi obat-obatan epilepsi, Anda bisa konsultasikan ke dokter agar mendapat pengobatan baru atau menjalani terapi untuk mengontrol gejala epilepsi pada anak (***/ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *