Visi dan Misi seminari ini, berlandaskan dari motto Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin, “Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (Misericordia Motus). Maka dari sinilah visi tersebut akan diteruskan menjadi harapan Keuskupan Padang dan juga harapan seluruh umat yang tergambar juga dalam visi Bapa Uskup. Seminari ini adalah persemaian tempat ‘benih calon imam’ di Keuskupan Padang. Hal ini juga dikatakan Uskup Vitus dalam buku pembinaan calon imam bahwa seminari itu adalah jantung keuskupan dan Gereja.

Visi ini juga terkait dari nama Maria Nirmala (Maria Tanpa Noda) membuat seminari ini sebagai tempat yang penuh dengan pertobatan, formasi, pembentukan. Maka, dalam misi, kami fokus pada “Lima Poin” penting yang ingin ditekankan dalam proses pendidikan di sini.  Itulah yang tergambar dalam misi untuk pembentukan calon imam di keuskupan kita. Untuk menjadi tempat persemaian benih-benih imam itu bertumbuh dalam diri remaja dan anak muda yang ingin menjadi pastor.  Lima Poin tersebut tergambar dalam Lima Formasi.

Formasi Kepribadian menjadi prioritas, bukan hanya di keuskupan kita, namun di seluruh seminari juga sudah digalakkan. Dari Komisi Seminari KWI memandang penting formasi ini. Yang paling utama adalah ‘memformat’ manusianya, barulah setelah itu bisa menjadi pribadi yang benar-benar baik. Seminari ini menjadi tempat dan wadah bertumbuhnya iman yang ditaburkan agar dapat bertumbuh dengan baik.

Formasi kerohanian yang merupakan sumber, dasar dan puncak iman kita. Merayakan Ekaristi, membangun tradisi kristiani yang baik melalui doa-doa dan devosi, bacaan rohani, pendalaman iman, agar menjadi semakin memiliki iman yang memang tangguh dan bisa dipertanggungjawabkan.

Formasi Intelektualitas. Dalam situasi saat ini, intelektualistas merupakan sesuatu yang penting. Sebagai calon imam tentu dibutuhkan seorang calon imam mampu mengikuti pelajaran, harus bisa berpikir dan merumuskan masalah, mampu berbicara dengan baik agar kelak seminaris menjadi seorang imam, sekaligus menjadi pengajar dan pemimpin. Lewat proses pendidikan. Kita bekerja sama dengan SMA Katolik Xaverius Padang untuk pendidikan SMA. Untuk pendidikan Kelas Retorika, kami bekerjasama dengan para pastor dalam bidang pengajaran gereja, ilmu-ilmu Gereja dan para guru profesional untuk mengajarkan mereka; misalnya dalam mata pelajaran bahasa, kesenian, public speaking, kepemimpinan, dan teknologi informatika. Seminaris tidak tertinggal tetapi selalu mampu beradaptasi dalam perkembangan itu.

Formasi persaudaraan (fraternitas) yang dibangun sejak awal agar hidup bersama/berkomunitas. Perbedaan latar belakang kebudayaan dan kepribadian sebagai hal yang harus ‘diolah’ terlebih dahulu. Kelak mereka bisa hidup dalam komunitas. Tidak menjadi imam-imam yang bekerja sendirian, namun mampu bekerja di dalam tim, sebagai komunitas, dan persekutuan. Persaudaaraan ini sejak awal dibangun agar visi seminari dapat terwujud pada mereka. Ketika hidup berkomunitas dan mereka menjadi imam dalam pelayanan pastoral maupun di tengah-tengah umat tidak menjadi sebuah masalah. Atau, tidak mampu hidup berkomunitas ataupun menggembala dengan baik. Bahkan, bukan hanya di ‘altar’ juga di ‘pasar’.

Formasi Pastoral dengan melibatkan mereka dalam aneka aktivitas menggereja; misalnya menjadi pendamping Sekami. Hal ini terkhusus untuk Seminaris Retorika. Untuk Seminaris SLTA – masih dirancang dan direncanakan – agar mereka ikut dalam aksi-aksi panggilan. Kami bekerja sama dengan SMA Katolik Xaverius. Sekolah ikut mempromosikan panggilan untuk orang muda agar mau menjadi imam. Semakin banyak anak muda kita mau menjadi imam, termasuk promosi tentang Seminari Menengah Maria Nirmala.

Evaluasi Setahun Terakhir

Terkait dengan Seminari Menengah Maria Nirmala Keuskupan Padang – sudah berlangsung hampir setahun. Dari tujuh seminaris angkatan pertama, ada satu orang yang mengundurkan diri karena suatu alasan. Tersisa enam seminaris. Mereka telah memilih untuk menjadi calon imam diosesan Keuskupan Padang. Pada 5 Agustus 2023, mereka akan masuk ke Tahun Orientasi Rohani (TOR).

Kami lakukan penilaian bersama dengan formator lain (P. Alfonsus Widhiwiryawan, P. Florianus Sarno, P. Ganda Jaya Nababan, P. Toto,  P. Bernard Lie, P. Mateus Tatebburuk, P. Daniele Cambielli, P. Benediktus Manullang). Kami juga melibatkan Bapa Uskup dalam formasi ini. Tentu, ada catatan tersendiri Bapa Uskup atas perkembangan para seminaris Retorika.  Enam seminaris kita ini ‘dievaluasi’ dengan kriteria lima formasi (kepribadian, kerohanian, intelektualitas, persaudaraan, pastoral). Perlu kami sampaikan, pendidikan dalam seminari ini berlangsung dengan baik walau diakui masih belum sempurna. Kami tidak bisa langsung memberikan penilaian utuh. Tetapi, sejauh saya amati dan dampingi, serta testimonium tentang mereka, dapat dikatakan mereka mengalami perkembangan dan kemajuan dalam lima formasi.  

Terkait langkah selanjutnya, dari enam seminaris, kami tidak mengharuskan mereka seminaris Retorika untuk menjadi calon imam diosesan/projo. Tetapi, setelah mereka melihat situasi Keuskupan Padang dan melihat kehadiran para pastor di sini, tergerak juga hati mereka menjadi calon imam diosesan Keuskupan Padang. Mereka memutuskan untuk melamar menjadi calon imam diosesan Keuskupan Padang. Bapa Uskup juga menanggapi lamaran tersebut dan mengutus mereka untuk melanjutkan pembinaan di Tahun Orientasi Rohani (TOR) Santo Markus Pematangsiantar.

Kita tentu berharap Seminari Maria Nirmala ini tetap berlanjut dan akan ada anak muda yang masuk. Pada tahun ini (2023), terdapat sembilan seminaris tingkat SMA. Sebenarnya, pada awalnya terdapat sepuluh orang ikut melamar tes masuk di kelas X SMA dan mendaftar di seminari. Sayangnya, satu orang tidak lulus tes kesehatan. Kami bersyukur pada Tuhan, sebab sembilan orang ini bukanlah hasil paksaan untuk masuk, namun memang karena hasil seleksi tes logika, tes Bahasa Inggris, dan tes kepribadian; serta wawancara. Mereka adalah calon-calon yang kualitatif dan masuk dalam kriteria. Semoga mereka bisa menjadi asset kita untuk mau menjadi calon imam di Keuskupan Padang, atau jika mereka mau memilih ke ordo atau kongregasi lain itu tergantung pada pilihan mereka. Kehadiran para pastor di seminarai ini menjadi ‘kesaksian’ bagi mereka untuk memilih dan melanjutkan sesuai pilihannya.

Tahun ini dibuka formasi untuk tamatan SMP melanjutkan pendidikan SMA di Seminari. Dari awal, memang bahwa perhatian khusus pertama-tama adalah memang dibuka untuk Kelas Retorika (Persiapan Atas), karena seminari belum siap untuk menerima kelas X SMA. Di tahun ini, kita juga mau melihat umpan balik dari umat: apakah memang sudah mendorong anak-anaknya masuk seminari?! Ternyata, luar biasa, ada empat calon berasal dari luar Keuskupan Padang. Mereka berasal dari Keuskupan Agung Medan. Hanya saja, hingga kini, belum ada calon dari Kota Padang, walaupun Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) sudah melakukan aksi panggilan; misalnya lock-in di sekolah ataupun live-in di berbagai tempat bagi remaja SMP dan SMA.

Mungkin, saat ini, pintu hati mereka belum terketuk masuk seminari dan memang belum panggilannya. Saya juga tidak bisa menyimpulkan seakan panggilan sebagai gembala umat/imam ‘kering’ di Kota Padang. Mungkin, mereka merasa belum waktunya mereka masuk ke seminari. Meski demikian, upaya pengenalan dan promosi pertama-tama harus kita mulai di paroki-paroki, sebab pastor paroki lebih mengenal dan mengetahui anak dan remaja di parokinya yang berminat menjadi calon imam. Selain itu, secara umum, memang saya juga melihat keterbatasan orangtua dalam hal biaya pendidikan atau ada sebab lainnya.

Situasi Terkini Seminari

Terkait situasi seminari: baik adanya. Dari aspek prasarana dan sarana sudah tercukupi. Direncanakan akan ada pembangunan sebuah gedung yang bakal menambah kapasitas tempat untuk tidur. Kita tidak berpikir jangka pendek, namun untuk sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Dirancang gedung baru yang bisa menampung jumlah maksimal 150 orang. Sejauh ini banyak donator yang tidak mau disebut namanya, serta dari setiap paroki memberikan sumbangan kolekte, juga membantu kelangsungan kehidupan di seminari. Juga ada bantuan dana pendidikan calon imam, kebutuhan makan-minum setiap bulan. Selalu ada yang memperhatikan seminaris.  Tidak ada kesulitan kami dalam hal kondisi bagaimana seminari ini agar tetap bisa berjalan, sebab banyak orang baik. Bapa Uskup dan keuskupan juga selalu menjadi kekuatan kami sehingga kami tidak merasa khawatir tentang situasi di seminari ini.

Bagaimana dengan personalia? Untuk seminari, memang tampaknya hanya saya sendiri yang tinggal menemani mereka. Namun, sebenarnya semuanya terlibat. Para pastor di Kuria dan di paroki-paroki juga ikut terlibat dalam pendampingan. Pun, dalam pelajaran, pendampingan rohani. Salah satu diakon baru yang ditahbiskan pada Agustus 2023 mengajar dan mendampingi di seminari ini. Selain itu, beberapa guru diminta untuk mengajar kembali di tahun pelajaran baru ini di Kelas Retorika, pada pelajaran-pelajaran tambahan untuk seminaris kelas X SMA.

Pada tahun ini (2023), ada empat orang yang mendaftar di Kelas Retorika. Satu tidak lulus karena persoalan kesehatan. Perihal kesehatan menjadi perhatian penting untuk seminari. Lolos tiga orang. Satu lagi berasal dari Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar yang memilih menjadi calon imam Keuskupan padang. Retorika di Seminari Pematangsiantar khusus untuk calon imam Keuskupan Agung Medan.  Saya berharap, dukungan tidak hanya berupa materi dan doa, melainkan ikut mendorong anak-anaknya masuk seminari. Marilah kita bersama-sama mendukung seminari ini agar tetap bisa menjadi tempat persemaian bagi para calon imam. 

(P. Prian Saut Doni Dongan Malau, Pr.
Rektor Seminari Menengah Maria Nirmala Keuskupan Padang)/diolah dari wawancara/hrd-bud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *