Ungkapan “seratus persen Indonesia seratus persen Katolik” – sebagaimana digaungkan almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata di masa silam – tetap aktual hingga sekarang. Pada waktu itu, dalam masa penjajahan Belanda, almarhum uskup Soegijapranata menyatakan umat Katolik pun punya andil, ikut berpartisipasi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Inti sari pesannya kita adalah Katolik namun jangan terpisah sebagai bangsa Indonesia.

Memang benar Agama Katolik dibawa oleh para misionaris luar negeri, Eropah; misalnya Portugis dan Belanda. Akibatnya, Agama Katolik dianggap sebagai sesuatu yang asing dan terpisah dari keindonesiaan. Padahal, di sisi lain, kita juga mengenal karya pelayanan alm. Pastor van Lith di bidang pendidikan yang ingin memajukan anak negeri ini. Mgr. Soegijapranata yang merupakan uskup asli pertama Indonesia mengingatkan umat Katolik agar tidak tercabut ‘akar sebagai orang Indonesia’. Saat itu, Agama Katolik mulai dianut oleh sebagian kecil warga di Pulau Jawa.

Sebab itu, almarhum uskup memberi amanat dan ajakan kepada umat ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia dari penjajah asing. Ini berarti, kita – umat Katolik – jangan menjadi asing meski beragama Katolik. Kita orang Indonesia yang beragama Katolik, maka turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengusir penjajah. Kiranya, hal tersebut menjadi pendorong munculnya ungkapan terkenal alm. Mgr. Soegijapranata, ‘Seratus Persen Katolik Seratus Persen Indonesia”. Kita adalah Bangsa Indonesia yang beragama Katolik.

Hal ini sejalan pula dengan moto Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PMKRI) pro ecclesia et patria, berarti untuk Gereja dan Tanah Air. Artinya, perjuangan tidak hanya membela Gereja namun juga untuk warga masyarakat yang miskin, terpinggirkan, tak didengar suaranya, berjuang menegakkan keadilan bagi semua, serta nilai-nilai kemanusiaan. Tidak hanya sebatas perjuangan bagi sesama umat Katolik (Gereja), namun berjuang untuk semua!  Kita adalah Katolik. Kita adalah bangsa Indonesia. Maknanya, kita sebagai Katolik tidak terlepas dari akar budaya yang ada; misalnya dari latar belakang etnis Nias, Jawa, Mentawai, Batak, Flores, Dayak, dan sebagainya. Kita umat Katolik beretnis tertentu. Keindonesiaan kita sebagai orang Katolik tetap melekat.

Secara gerejani, ungkapan almarhum Mgr. Soegijapranata juga menggambarkan proses inkulturasi berlangsung. Gereja Katolik ‘menyapa’ suku bangsa di dunia. Inkulturasi adalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat tertentu yang dapat dipakai, digunakan dalam Gereja Katolik. Orang Katolik tidak merasa asing dengan budayanya sendiri. Kekatolikan kita berkaitan dengan nilai budaya asal. Sebagaimana juga ada ungkapan yang nyaris sama di kalangan umat Katolik Mentawai, yakni Mentawai Sipulelek Katolik Sipulelek.

Seingat saya, pertama kali dicanangkan pertama kali Pastor Paroki Siberut (P. Antonius Wahyudianto, SX). Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-50 Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Siberut. Pastor Anton menyatakan bahwa “sebagai orang Katolik, kita adalah orang Katolik yang baik. Dan, kita sebagai orang Mentawai adalah orang Mentawai yang baik”. Dua kata tersebut (Mentawai dan Katolik) sebenarnya menyatu. Ungkapan ini juga mengandung makna partisipasi. Kita sebagai orang Katolik dan bagian dari Mentawai ikut serta membangun Mentawai.  Boleh dikatakan, ungkapan tersebut merupakan ‘perwujudan’ ungkapan alm. Mgr. Soegijapranata di tingkat lokal Mentawai.

Dari sejumlah ungkapan almarhum Uskup Soegijapranata, moto PMKRI Pro Ecclesia et Patria, Mentawai Sipulelek Katolik Sipulelek, juga dokumen Konsili Vatikan II, ajaran Gereja di Dalam Dunia. Keseluruhannya berintikan Gereja tidak bisa dilepaskan dari dunia. Begitupun dengan orang Katolik di dalam tahun politik (2023-2024). Dua hal dapat dilakukan sebagai jalan, cara, upaya, dan bukti keterlibatan kita ikut membangun bangsa dan negara ini: (1) sebagai masyarakat pemilih. (2) partisipasi di antara umat kalau ada yang dicalonkan dan dipilih sebagai calon legislator (di berbagai tingkatan: kabupaten/kota, provinsi, nasional) maupun calon senator DPD.  Kita tentu tidak ingin hanya sebagai penonton dalam proses tersebut, namun juga bisa ikut serta. Kalau ada orang Katolik yang dianggap punya potensi dan mampu menjadi rasul awam – di berbagai lini kehidupan hidup bersama – atau orang yang memperjuangkan nilai-nilai yang dianut secara umum: kemanusiaan, keadilan sesuai UUD 1945.

Terlibat Bangun Bangsa

Satu kendala, setidaknya terasa di Sumbar daratan ini, orang-orang yang merasa punya potensi untuk mencaleg misalnya, memang sangat sedikit. Dulu, di Kota Padang, ada beberapa orang, namun karena sosialisasinya kurang merata sehingga sebenarnya ada orang yang bisa terpilih sebagai legislator tidak jadi, karena suara terpecah. Tetapi, di beberapa tempat, di daerah lain, mereka cukup antusias mencaleg. Terlepas dari motivasi pribadi, tetapi niatnya untuk bangsa dan negara, di daerahnya, sebagai kepala daerah maupun anggota dewan; saya anggap sesuatu yang memberi nuansa. Dalam Gereja, keterlibatan membangun bangsa adalah dengan keterlibatan, keikutsertaan umat kita sebagai rasul awam.

Sebagai Vikaris Episkopalis dan Komisi Kerasulan Sumbar daratan pada tahun politik ini, salah satu tugas adalah menganimasi umat agar lebih memahami aturan main, tata tertib Pemilihan Umum (Pemilu), tentang hak dan kewajiban seorang pemilih. Bisa jadi, tidak ada di antara umat Katolik setempat terdaftar sebagai caleg, tetapi ada orang yang kita anggap bisa membangun bangsa ini, bisa menjadi tempat aspirasi umat Katolik setempat. Kita hindari praktik ‘golongan putih’ (golput). Orang Katolik jangan golput! Jangan terjadi, karena di dapil tersebut tidak ada orang Katolik sebagai caleg misalnya, lantas tidak memilih/mencoblos saat hari H pemilu. Bagaimana pun juga pilihan kita kini akan berpengaruh pada masa depan bangsa dan negara ini.

Satu pengalaman menarik tatkala saya berkunjung ke satu paroki di Kevikepan Sumbar daratan, Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat. Terdapat dua caleg di dapil yang sama, dari partai yang sama. Saya turun ke paroki bersangkutan untuk berjumpa dengan para tokoh umat Katolik setempat guna menganimasi umat. Kalau dua caleg ini bersikeras tetap maju untuk dipilih, kemungkinan tak satu pun lolos. Syukurlah, umat setempat mengatakan kepada saya, “Dua caleg ini bakal memaparkan visi-misi di depan umat! Itulah kelak yang akan dipilih umat. Ini berarti sebagai upaya mengerucutkan satu nama. Saya sebagai komisi kerawam, tidak menentukan siapa yang akan ikut dan pantas dipilih! Dari visi-misi ini akan diketahui gambaran kualitas sang caleg.

Selain menganimasi, kami di Komisi Kerawam juga sosialisasi pada umat mengenai tugas dan tanggung jawab sebagai caleg. (1) Bagaimana caleg bisa membawa ‘aura’ sebagai orang Katolik?! (2) pengakuan eksistensi/keberadaan umat Katolik di daerah tersebut. Orang Katolik ada, bahkan diperhitungkan keberadaannya. Itulah langkah kami sebagai komisi kerawam jelang pemilu mendatang untuk mendorong partisipasi umat. Ini juga sebagai bentuk pendidikan politik bagi umat Katolik. Hingga kini, saya baru menerima informasi adanya caleg beragama Katolik asal Pasaman Barat dan Paroki Padangbaru. Saat ini, pertengahan Juli 2023, saya belum menerima data nama caleg Katolik dari berbagai partai politik. Hal ini terkait dengan tahapan-tahapan yang sedang berlangsung di KPU Kota/Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Diakui, pada tiap Pemilu dengan sistim proporsional terbuka, pengenalan figur lebih disukai ketimbang program/ide.

Dalam Gereja Katolik, ada kalangan tertahbis atau religius dan awam. Kalangan tertahbis tidak terlibat dalam politik praktis. Meski demikian, kalangan tertahbis berperan memotivasi, mendorong, dan menganimasi partisipasi umat: sebagai pemilih maupun caleg yang dipilih. Kalangan awamlah yang terlibat politik praktis. Sebagai religius, kami bersikap netral agar tidak muncul benturan atau konflik di antara umat. Biarlah ada pilihan bebas di tangan pemilih. Yang penting tidak sembarang pilih; misalnya hanya karena ada hubungan kekeluargaan, kedekatan dengan sang caleg. Kami tidak mengarahkan pada satu nama tertentu.  

(P. Matheus Tatebburuk, Pr. – Vikaris Episkopalis Sumatera Barat daratan.
Komisi Kerasulan Awam Vikep Sumbar daratan.
Pastor Paroki Katedral St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *