Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, menyongsong Tahun Politik 2024 yang akan diwarnai dengan berbagai kampanye menjelang Pemilihan Umum nanti, pantaslah juga kita berhenti sejenak untuk menimbang dinamika politik dan peran serta umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada Sidang Konferensi Para Waligereja Indonesia November 2022 yang lalu, Ketua KWI, Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo, dalam sambutan pembukaannya sempat mengusulkan satu pemikiran yang bagus tentang tema edisi Gema kali ini.

Bapa Kardinal mengingatkan satu semboyan yang sudah sering didengar dan kurang lebih diterima dalam Gereja Katolik di Indonesia: “Umat Katolik berjiwa 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia – atau mungkin lebih tepat menjadi 100 persen Katolik dan menjadi 100 persen Indonesia.” Menurut beliau, semboyan itu diucapkan, seolah-olah maksud dan isinya sudah jelas, padahal kalau ditanya maksud semboyan itu, jawabannya bisa berbeda-beda.

Bapa Kardinal Suharyo menegaskan bahwa menjadi 100 persen Katolik adalah panggilan kita bersama. Panggilan itu dirumuskan dengan sangat jelas dalam Konstitusi Dogmatis mengenai Gereja. “…semua orang beriman, dalam keadaan dan status mana pun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempurna, masing-masing melalui jalannya sendiri” (LG no.11). “Jadi, bagi semua jelaslah bahwa semua orang Kristiani, bagaimana pun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih.

Dengan kesucian itu juga, dalam masyarakat di dunia ini, cara hidup menjadi lebih manusiawi” (LG no.40). Aktualisasi dari panggilan ini dipelajari lebih luas sesuai dengan konteks jaman dalam Anjuran Apostolik Paus Fransiskus yang berjudul Gaudete et Exultate, mengenai panggilan menuju kesempurnaan kesucian di dunia masa kini (18 Maret 2018). Menurut Bapa Kardinal, kesadaran ini kiranya perlu ditanamkan dalam diri umat Katolik di Indonesia sebagai prioritas dalam katekese. Yang lebih sulit dirumuskan adalah menjadi seratus persen Indonesia. Dalam perjalanan refleksi mengenai hal ini, Bapa Kardinal sampai pada kesimpulan bahwa menjadi seratus persen Indonesia berarti menjadi “semakin cinta tanah air dan semakin peduli.”

Apa yang dimaksud dengan “semakin cinta tanah air”? Salah satu peristiwa yang amat menentukan dalam perjalanan sejarah bangsa kita adalah ketika para pendiri negara kita menentukan dasar negara. Yang akan dijadikan dasar negara tentu saja adalah Pancasila. Tetapi Pancasila yang ada pada waktu itu adalah rumusan 22 Juni 1945 yang memuat tujuh kata yang disebut Piagam Jakarta.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, para pendiri negara kita, atas desakan saudara-saudara kita dari wilayah Timur Nusantara, dalam waktu amat singkat, di luar sidang, sepakat untuk menghapus Piagam Jakarta dari rumusan Pancasila tanggal 22 Juni 1945 sehingga diterima rumusan Pancasila yang kita kenal sekarang ini sebagai dasar negara.

Sejarah Gereja Katolik juga menyaksikan semangat cinta tanah air yang dapat menginspirasi kita. Pada tahun 1922, Pastor Fransiskus van Lith, seorang misionaris Belanda menulis, “Setiap orang tahu, kami para misionaris, ingin bertindak sebagai penengah, tetapi setiap orang tahu juga, bahwa seandainya terjadi suatu perpecahan, meskipun hal itu tidak kami harapkan, sedangkan kami terpaksa memilih, kami akan berdiri di pihak golongan pribumi.”

Semangat seperti itu terwariskan misalnya dalam diri Mgr. Albertus Soegijapranata, yang dalam masa perjuangan melakukan tindakan-tindakan simbolis, seperti memindahkan Keuskupan Agung Semarang ke Yogyakarta, karena ibukota Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Beliaulah yang mencetuskan semboyan seratus persen Katolik, seratus persen patriotik. Belum lagi kalau kita ingat, sidang pertama Kongres Pemuda II yang berakhir dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dilaksanakan di Gedung Pemuda Katolik, yang sekarang ada dalam kompleks Gereja Katedral Jakarta.

Kata Bapa Kardinal, peristiwa-peristiwa itu perlu ditempatkan dalam kerangka iman kita. Salah satu ungkapan iman khas Gereja Katolik Indonesia adalah Prefasi Tanah Air II: “Engkau membebaskan umat pilihan-Mu dari penindasan dan penjajahan untuk hidup merdeka di tanah yang Engkau janjikan. Engkau pun mencurahkan kasih sayang yang besar kepada bangsa kami. Oleh kesaksian banyak orang yang berkehendak baik, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa, kami bersyukur atas bahasa yang mempersatukan dan atas Pancasila dasar kemerdekaan kami.” Dalam doa Prefasi ini, peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia – Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda dan Pancasila – disejajarkan dengan Keluaran Umat Allah Perjanjian Lama dari perbudakan Mesir. Menurut Bapa Kardinal, data-data itu kiranya cukup untuk mengambil kesimpulan bahwa menjadi semakin Indonesia berarti semakin mencintai Tanah Air dengan segala macam wujud kreatifnya.

Yang terakhir, apa yang artinya “menjadi semakin peduli tanah air.” Bapa Kardinal mensinyalir, bahwa pada tahun 2018 Charities Aid Foundation mengadakan penelitian mengenai World Giving Index. Penelitian itu menyangkut 146 negara. Lembaga itu menempatkan Indonesia pada nomor urut pertama dalam hal kerelaan memberi. Lembaga penelitian lain, The Legatum Prosperity Index pada tahun 2020 mengeluarkan hasil penelitiannya. Menurut Lembaga yang meneliti 167 negara, menempatkan Indonesia di urutan keenam dalam kategori modal sosial. Dengan mempertimbangkan data-data lain khususnya dalam kaitan dengan pandemi Covid 19, Bapa Kardinal menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang peduli.

Pada Hari Perdamaian Sedunia tanggal 1 Januari 2021, Paus Fransiskus menyampaikan pesan dengan judul: “Budaya Peduli adalah Jalan Menuju Perdamaian Dunia.” Di dalamnya, Paus menawarkan Ajaran Sosial Gereja sebagai prinsip, pedoman, ukuran bagi budaya peduli: komitmen untuk menghormati martabat pribadi manusia, usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama, solidaritas, memberi perhatian khusus kepada saudara-saudari kita yang terpinggirkan dan merawat keutuhan ciptaan.

Yesus oleh para penginjil ditempatkan sebagai model kepedulian ketika berjumpa dengan dengan janda di Nain yang anaknya meninggal, “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” (Luk 7:13). Ungkapan misericordia motus yang diambil sebagai motto Bapa Uskup Padang ini diulang-ulang dalam Injil (bdk. Luk 10:33; 15:20). Yesus yang peduli tidak dapat dimengerti lepas dari Bapa yang peduli. Kepedulian Bapa dan hati-Nya yang tergerak oleh belas kasihan itu sangat jelas dikisahkan dalam perumpamaan tentang “Anak yang Hilang” (Luk 15:11-32). Yesus pun menghendaki agar murid-murid-Nya menyatakan kepedulian yang sama dengan yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati dengan mengatakan: “Pergilah dan perbuatlah demikian.” (Luk 10:37).

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *