Tahun 2023 dan 2024 dikategorikan sebagai tahun politik. Dinamika pandangan masyarakat tentang situasi politik meningkat, para analis politik, dan ekonomi bergegas untuk mengemukakan pandangannya melalui sarana ilmiah yang sering disebutnya survei.

Respon publik terhadap hasil survei elektabilitas calon presdiden dan partai juga beragam; antara percaya dan tidak. Di internal partai politik pun mengalami gesekan-gesekan yang mengakibatkan terjadinya beberapa oknum anggota satu partai pindah ke partai lain. Inilah sekilas gambaran dinamika politik kita pada tahun 2023

Di tahun 2024, kemungkinan akan mengalami kenaikan suhu politik yang lebih dinamis. Oleh karena itu, kita memerlukan  sikap yang konsisten terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dan falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang kita cintai bersama.

Bagaimana menghadapi situasi di tahun politik ini.

Sebagai warga negara yang baik, tentunya umat Katolik tidak mungkin terlepas dari dampak situasi ini. Untuk itu, bersikap tidak peduli dan terlalu agresif tanpa pedoman yang jelas, perlu dihindari agar kita tidak lebur dan hanyut dalam suatu sistem politik yang pragmatis. Dalam artian: sama saja, siapa pun menang tidak berdampak terhadap saya, dan sikap skeptis yang lainnya).

Setiap warga negara perlu mengetahui dan mengikuti situasi politik walaupun mungkin tidak masuk dalam suatu partai politik tertentu. Disadari atau tidak, kehidupan perpolitikan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari kita. Ketika situasi politik tidak kondusif, maka ekonomi tidak akan berkembang dengan baik, pendidikan tidak akan berlangsung sebagaimana mestinya. Bahkan, bisa terjadi sebagian warga negara akan eksodus ke tempat lain (kondisi ini sudah kita alami tahun 1998). Kita berdoa agar situasi tahun 1998 tidak terulang lagi di bumi Pancasila ini. Amin.

Implementasi “Menjadi 100 Persen Katolik dan 100 Persen Indonesia”

Khusus dalam menhadapi tahun politik 2024, selain berpedoman kepada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); maka sebagai umat Katolik, kita perlu merenungkan  konsep yang dicontohkan oleh almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata. Uskup Indonesia pertama ini mempunyai konsep “Menjadi 100 Persen Katolik dan 100 Persen Indonesia”. Ia ikut serta berjuang membela negara namun tetaplah sebagai seorang Uskup Katolik yang setia.

Artinya, umat Katolik juga ikut menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tidak berpangku tangan, tidak apatis, dan tidak ketakutan berlebihan. Bukankah Yesus telah mengajarkan kita untuk bertolak ke dunia yang lebih luas, sebagaimana tertulis pada Injil Lukas 5: 4 (Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan). Dan, Lukas 5:6 (Dan setelah mereka melakukannnya mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak).

Sehingga sebagai wujud ikut serta berkontribusi memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, kita ikut serta menyukseskan tahun politik 2024. Minimal dengan cara tidak menjadi ‘golongan putih’ (golput); bahkan sebaliknya beramai-ramai mengajak teman-teman seiman untuk menuju tempat pemungutan suara (TPS) terdekat memberikan suara yang sesuai dengan hati nurani kita masing-masing.  

(Yudas Sabaggalet – Bupati Kepulauan Mentawai periode 2011–2016 dan 2017–2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *