TERUS MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA (17 Agustus 2023)
Sir. 10:1-8; Mzm. 101:1a-2ac, 3a, 6-7; 1 Ptr. 2:13-17; Mat. 22:15-21

SETIAP 17 Agustus, bangsa Indonesia bersyukur atas rahmat kemerdekaan. Bersyukur karena bebas dari penjajahan bangsa lain dan berhak menentukan nasib bangsa sendiri. Bersyukur boleh berjalan bersama meski bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Warga bangsa Indonesia sarat dengan perbedaan, namun tetap satu bangsa, satu Bahasa, dan satu tanah air Indonesia.

Mengenang sejarah, tujuh puluh delapan tahun lalu, atas nama seluruh bangsa Indonesia, Soekarno dan Hatta menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Selama bertahun-tahun para pejuang berusaha memperjuangkan kemerdekaan dengan cucuran keringat, air mata, dan darah. Dengan cahaya iman, sebagai warga bangsa umat Kristiani memandang momentum sejarah ini sebagai saat Allah mengabulkan jeritan putra-putrinya selama berabad-abad.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, sebagai warga bangsa berdoa agar seluruh komponen bangsa taat dan setia pada komitmen kebangsaan. Pemerintah dan seluruh rakyat taat pada kesepakatan bersama berlandaskan Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Komitmen ini perlu dipertegas, karena saat ini rongrongan terhadap keutuhan bangsa ini terus ada. Gerakan untuk mengganti ideologi bangsa Pancasila dengan ideologi lain baik yang secara terang-terangan dan Gerakan tersembunyi (bawah tanah) tetap ada.

Pada hari kemerdekaan ini, kita diingatkan oleh pesan Allah lewat Kitab Suci untuk memaknai perjuangan mengisi kemerdekaan itu. Kitab Putra Sirakh menyajikan sejumlah nasihat cara menjadi pemimpin bijaksana, bertanggung jawab dan mencintai rakyatnya sebagai orang yang dipilih dan dicintai Allah. Pada bacaan kedua, Rasul Petrus mengingatkan sikap warga yang perlu taat kepada pemimpin negara.

Yesus merangkum semua itu dalam ungkapkan “berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”. Yesus  sungguh bijak dan mengajarkan ketaatan dan komitmen baik kepada Allah dan kepada pemerintah. Ketaatan dan komitmen inilah yang menyelamatkan bangsa dan meneguhkan iman akan Allah. Karena di tengah masyarakat dan bangsa, setiap orang beriman harus memberi kesaksian dan menjadi garam dan terang keselamatan.  Komitmen kebangsaan umat Katolik diungkapkan dengan “Seratus Persen Katolik – Seratus Persen Indonesia”.

Kemerdekaan sebagai bangsa sudah dimaklumkan dan diraih. Tugas kita sebagai warga bangsa adalah membangun negeri ini menjadi tempat bagi anak-anak negeri hidup dengan nyaman dan damai dapat mengaktualisasikan kemerderkaannya yang sejati; yakni kemerdekaan sebagai anak-anak Allah yang cinta damai dan cinta tanah air, yang rukun dan bersaudara dengan sesama anak bangsa tanpa memandang perbedaan suku, ras, dan agama (SARA). Di banyak tempat, warga Gereja masih mengalami jauh dari rasa merdeka untuk mengaktualisasikan diri dalam beragama. Diskriminasi saat ini masih dialami umat Kristiani di berbagai tempat baik dalam tata pemerintahan, dalam pemenuhan kebutuhan tempat ibadat. Meski ada jaminan dari konstitusi namun dalam prakteknya masih terus terjadi diskriminasi. Inilah yang akan terus menjadi perjuangan kita. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *