PADANG – “Semangat atau spiritualitas gotong royong adalah bekerja bersama. Setia orang mengulurkan tangan terhadap apa yang sedang dikerjakan/dilakukan, ambil bagian. Dewasa ini, semakin sulit menemukan semangat kegotongroyongan. Saat diminta pertolongan, selalu dikaitkan dengan imbalan atau bayaran,” ucap Penasihat Rohani/Moderator Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wanita Katolik RI Provinsi Sumatera Barat, P. Matheus Tateburuk, Pr., Senin (26/6) petang.

Hal tersebut disampaikan P. Matheus saat homili Perayaan Ekaristi di Kapel Santu Yusuf Paroki Katedral Padang. Di depan 300-an anggota Wanita Katolik RI tiga cabang di Kota Padang, P. Matheus menambahkan, “Padahal, dengan semangat kegotongroyongan dan kekeluargaan, banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan baik. Di masa kini, salah satu keprihatinan kita, semangat tersebut semakin meluntur. Gotong royong sebenarnya adalah pemberian diri kita, bekerja sama, ambil bagian demi tercapai serta terwujudnya kesejahteraan. Dengan gotong royong, kita membuat orang lain, sesama berbahagia. Kehadiran ktia menolong orang yang sedang berada dalam kesulitan.”

Moderator yang juga Pastor Paroki Katedral Padang ini mengaitkan isi homili dengan persiapan menuju “100 tahun Wanita Katolik RI”. “Bagaimana kita mewujudkan kesejahteraan hidup bersama?! Kita adalah pembawa berkat! Bukan sekedar membuat tanda salib di kening anak. Pembawa berkat berarti juga membawa suka cita, damai, pemberian diri sepenuhnya. Jangan takut sebagai pembawa berkat serta menjadi berkat bagi orang lain!” tandasnya. Sejalan dengan tema ulang tahun yang diusung: Wanita Katolik RI Mewujudkan Kesejahteraan Bersama.

Perayaan ulang tahun ke-99 Wanita Katolik RI oleh DPD Sumatera Barat berlangsung sederhana. Jelang akhir Perayaan Ekaristi, Ketua Presidium DPD Sumatera Barat, Theresia membacakan sambutan tertulis Ketua Presidium Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wanita Katolik RI.  “Sebagai organisasi perempuan yang sejak berdiri sampai sekarang teguh memegang visinya yaitu sebagai organisasi yang mandiri, bersifat sosial aktif, memiliki kekuatan moral dan kemampuan yang handal dalam menjalankan karya pengabdian untuk mewujudkan kesejahteraan bersama serta menegakkan harkat dan martabat manusia, maka selayaknya turut serta dalam mewujudkan kesejahteraan bersama ini,” tulis Ketua Presidium Justina Rostiawati.

Pada bagian lain sambutannya, Justina mengungkap, “Wanita Katolik RI akan tetap tegak berdiri dan berjalan dalam visi-misi yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, serta tetap memegang teguh Pancasila dan UUD 1945, dengan landasan moral Katolik – Injil dan Ajaran Sosial Gereja. Ada tiga nilai keutamaan yang diserukan oleh Paus dalam ensikliknya yang patut segenap anggota Wanita Katolik RI meresapi dan mengajarkannya kepada anak-anak kita. Pertama, dari Amoris Laetitia, ajaran Katolik utama tentang ‘kasih’. Kedua, dari Laudato Si’, agar kita (manusia) mencintai lingkungan hidup di bumi, rumah kita bersama. Ketiga, dari Evangelium Vitae yang menyerukan agar kita mencintai dan menghargai kehidupan.”

Sebagaimana dibacakan Theresia, Ketua Presidium DPP Justina menyatakan bahwa pada tahun 2023, Wanita Katolik RI melaksanakan Kongres ke-21, dengan tema Peran Perempuan Mewujudkan Kesejahteraan Bersama Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Justina mengajak para anggota bersungguh-sungguh menghasilkan pemikiran untuk membawa NKRI mewujudkan kesejahteraan bersama, dan mengimplementasikan dalam program serta kegiatan yang nyata, berdayaguna bagi masyarakat luas, dengan membangun tiga nilai keutamaan sejak usia dini. “Mari bersama-sama dengan seluruh kekuatan besar Wanita Katolik RI – yang telah dibangun selama ini – menunjukkan jati diri menyongsong satu abad Wanita Katolik RI di Tahun 2024,” tulis Justina.

Usai Misa Kudus, berlangsung selebrasi/perayaan ulang tahun oleh pengurus DPD, DPC, Ranting, dan anggota secara sederhana. Hanya ada lagu/nyanyian dan pemotongan kue ulang tahun. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *