Dalam catatan Wikipedia, Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J., lebih dikenal dengan nama lahir Soegija, merupakan Vikaris Apostolik Semarang, kemudian menjadi uskup agung. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Maka, ungkapan, seratus persen Indonesia berarti kita lahir di Indonesia mesti menjunjung dan berpihak menjadi warga negara Indonesia yang baik. Begitupun sebagai warga Gereja Katolik, kita bisa berperan banyak di berbagai bidang; misalnya ekonomi kerakyatan, politik dan hukum, kesehatan dan pendidikan, dan sebagainya. Melalui peran serta di berbagai bidang tersebut, Gereja terlibat tanpa membeda-bedakan, tidak tebang pilih. Tidak hanya untuk kalangan Katolik, namun juga untuk non Katolik.

Juga, dalam relasi dan interaksi dengan umat serta tokoh dari agama lain. Ini penting dilakukan, karena setiap hari kita bertemu, berjumpa, berelasi dengan berbagai kalangan yang beragam latar belakangnya. Maka, dalam hal ini, secara khusus patut mendapat perhatian serta peran komisi – di tingkat keuskupan – ataupun seksi dewan pastoral paroki (DPP) – di tingkat paroki; yakni di bidang kerasulan awam, hubungan antarumat beragama dan kepercayaan, dan kepemudaan. Setiap dari kita mempunyai dua sisi: sebagai warga negara Indonesia, sekaligus sebagai warga Gereja Katolik.

Memang, ada juga di antara warga negara ini yang lebih suka bermain aman dan enggan turun ‘ke pasar’. Idealnya, terlibat dalam aktivitas kegerejaan di seputar altar sekaligus juga di tengah masyarakat luas, turun ke pasar. Menurut saya, hal tersebut tidak luput dari tabiat setiap manusia yang berbeda. Ada orang yang mempunyai hubungan begitu erat, penuh dengan toleransi tinggi untuk berhubungan dengan orang lain. Ada juga yang merasa lebih aman dan nyaman untuk diri sendiri. Itu semua tergantung sikap setiap kita. Saya sendiri lebih suka menjalin hubungan, relasi, dan interaksi dengan berbagai kalangan yang sangat beragam corak latar belakangnya. Katolik maupun non Katolik.

Mengapa? Karena hal ini akan ‘memperkaya’ saya berelasi dengan banyak pihak. Memperkaya dan meneguhkan iman, memperkaya pemikiran-pemikiran atau wawasan. Janganlah kita membatasi hubungan/relasi pada yang seiman saja, atau sebatas di seputaran altar! Karena di luar sana (pasar) ada begitu banyak hal yang perlu kita lihat dan pelajari. Dengan demikian, kita bisa menikmati begitu beragamnya kehidupan ini. Pilihan terlibat di seputar altar tidak salah/keliru, karena juga diperlukan untuk menimba kekuatan hidup rohani dengan sesama seiman.

Untuk terjun ke ‘pasar’ dan menjalin relasi dengan banyak pihak di luar lingkup relasi sesama seiman, terutama di tahun politik ini, tentu merupakan hal yang sah saja untuk berelasi. Tidak ada yang membatasi kita yang ingin menjalin hubungan dan interaksi dengan semua pihak. Tentu, tidak bisa dihindarkan bahwa di tahun politik ada hal yang ingin ditonjolkan, diapungkan, dan mendapat perhatian. Mungkin ada maksud dan tujuan tertentu, semacam anggapan ‘ada udang di balik batu’ dari pihak-pihak yang ambil bagian sebagai calon legislator (tingkat kota/kabupaten, provinsi, dan nasional) maupun calon senator di Dewan Perwakilan Daerah/DPD nasional. Sah dan lumrah saja, karena yang bersangkutan ingin dikenal khalayak.

Dari tren atau kecenderungan yang merebak di tengah tahun politik, sebaiknya bagaimana kita bersikap? Saya pribadi berpandangan selalu positif. Pemilihan umum sebagai cara untuk memilih seseorang, sebagai calon yang cocok bagi masyarakat banyak, mampu mengayomi siapa pun; serta sanggup menyuarakan aspirasi masyarakat – terutama dari kalangan yang terpinggirkan/termajinalkan selama ini. Pilihlah calon yang sesuai dengan pemikiran dan kehendak hati. Kita sebagai umat Kaotlik, hendaknyalah memilih sesuai keputusan hati nurani! Bukan dari informasi lain yang belum tentu cocok, atau malah memilih orang yang belum kompeten sebagai legislator maupun senator.

Antusias Vs Apatis

Dalam tahun politik, tak terhindarkan dua sikap umum yang muncul: antusias dan apatis dengan dinamika yang terjadi. Ada anggota masyarakat dan gereja yang sangat antusias pada tahun politik. Ingin terlibat pada pemilu. Sebaliknya, ada pula yang tidak peduli dengan hiruk-pikuk maupun gonjang-ganjing tahun politik. Bahkan, ada yang telah mendapat kartu/surat untuk memilih pada hari H, namun ternyata urung, tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Saya mengajak anggota perkumpulan dan umat Katolik, “Mari kita bersama menggunakan hak sebagai pemilih untuk hadir nanti di Pemilu 2024, tanggal 14 Februari 2024. Sebagai umat Katolik, kita ikut menyukseskan Pemilu 2024. Inilah saatnya kita memilih orang-orang yang cocok untuk menjadi wakil kita di lembaga legislatif!”

Tentang pilihan sesuai hati nurani. Saya menilai masyarakat dan umat kita cerdas dengan melihat situasi-situasi yang terjadi saat ini, baik mengenai partai politik maupun orang-orang yang dianggap cocok di legislatif. Kalau pun ada semacam surat gembala dari bapa uskup maupun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), itu sebagai panduan umum bagi umat Katolik.  Saya merasa warga/umat kita sudah cerdas menentukan pilihan orangnya. Umat/warga sudah tahu mana saja orang yang cocok dan layak untuk dipilih – terlihat bukti pada waktunya – pilihan orang yang memang mempunyai pengalaman; serta punya sumbangsih yang besar bagi masyarakat luas. Kepada yang baru ikut atau pendatang baru, berjuanglah! Perlihatkan bukti dan kemampuan sebagai orang yang mau memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak.

Sebagai Ketua Umum BPP PSKP Santu Yusuf Keuskupan Padang, saya mengimbau seluruh anggota sungguh melaksanakan moto/ungkapan alm. Mgr. Albertus Soegijapranata tersebut. Berikanlah sesuatu yang baik untuk bangsa dan negara ini! Berguna untuk masa depan kita! Pas dan cocok dengan kutipan Injil Mateus 22:21, “…Lalu kata Yesus kepada mereka :”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”  Sebagai anggota PSKP, mari kita lanjutkan pembangunan Indonesia yang lebih baik dan lebih maju di waktu mendatang. Salah satu caranya dengan ikut serta dalam pemilu ini. Mari kita pilih orang yang cocok dengan impian kita. Mari kita laksanakan dengan penuh suka cita!  

(Drs. Tjandra Gunawan, Akt.
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PSKP Santu Yusuf Keuskupan Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *