KATA DAN PERBUATAN HARUS SAMA

HARI MINGGU BIASA XXXI (5 NOVEMBER 2023)
Mal. 1:14b-2, 2b; Mzm. 131:1,2,3;
1Tes. 2:7b-9, 13; Mat. 23:1-12

ADA UNGKAPAN Jawa berbunyi: “Gajah diblangkoni, iso kojah ora iso nglakoni”. Artinya bisa bicara, tetapi tidak bisa melaksanakan. Dalam bahasa gaul anak muda zaman now mengatakannya omdo (omong doang) atau nato (no action talk only).

Bacaan-bacaan hari ini menyampaikan kepada kita sekalian betapa pentingnya perintah Tuhan yakni perintah untuk mengasihi. Nubuat Maleakhi mengajarkan bahwa mengasihi bagi para imam ataupun pemimpin adalah suatu tanggungjawab dan perlakuan yang tulus tanpa pandang bulu. “Bukankah satu Allah yang menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita?” (Mal 2:10).

Bagi Paulus, kasihnya kepada jemaat dihayatinya seperti seorang ibu merawat anak-anaknya. Tanpa basa-basi, Paulus pun bersyukur bahwa umat menerimanya, mendengarkan dan menghargai ajarannya tentang Injil bukan sebagai perkataan manusia melainkan sebagai sabda Allah sendiri.
Dalam Injil, Tuhan Yesus menegur ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang terus-menerus memakai wajah kerohanian. Mereka seolah-olah hidup dalam kesempurnaan, tetapi sebenarnya mereka terlalu jauh dari kehendak Allah. Kritik Yesus ini sangat relevan sampai hari ini. bagi setiap pengajar di Gereja, baik imam, diakon, katekis, dan para guru agama atau tokoh umat, bahkan para orangtua dalam mendidik anaknya.

Tuhan Yesus juga menyatakan bahwa barang siapa yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, mau menyadarkan bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah Tuhan. Ia bisa mengambilnya kapan saja sesuai kehendak-Nya. Maka, janganlah kita merasa gagah akan kedudukan, pekerjaan hebat, jabatan tinggi, dan segala kemewahan yang ada. Karena pada akhirnya, semuanya itu tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah.
Injil hari ini tegas mengajarkan di satu pihak agar yang berwenang untuk mengajari jangan hanya berbicara melainkan juga malaksanakannya. Di pihak lain bagi semua yang berkesempatan mendengarkan ajaran tidak perlu berbantah-bantah melainkan mengambil nasehat yang baik dan melaksanakannya juga. Tuhan Yesus mengajak para murid agar mereka mau mendengarkan dan melaksanakan ajaran yang baik dan benar dari para ahli Taurat dan orang Farisi, meskipun Ia tidak setuju dengan sikap dan kelakuan mereka. Kita harus obyektif bisa mengambil manfaat dari hal-hal yang baik, tetapi tidak usah mencontoh hal-hal jelek dari orang lain.

Tuhan Yesus menuntut kita konsekuen, kata dan perbuatan harus sama. Kita tidak boleh menjadi manusia munafik, Apapun yang kita katakan adalah konsekuensi apa yang harus kita lakukan. Kita dituntut mampu memberi contoh dan teladan yang terbaik bagi diri sendiri. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *