PADANG – “Jika engkau mendengar panggilan Tuhan, janganlah engkau menolaknya! Beranilah ambil bagian dari gerakan kesucian yang telah dirintis olah Para Kudus dalam mengikuti Kristus! Gapailah cita-cita masa mudamu dan bersiaplah menerima kehendak Allah bila Ia mengundangmu pada jalan kesucian di dalam hidup baktimu,” ucap Sr. Franseline Nago, SCMM.

Ajakan tersebut disampaikan pada kegiatan Aksi Panggilan yang diadakan Panitia Tahbisan Diakon Paroki Katedral Padang di Stasi Sungaipisang, Paroki St. Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang, Minggu (16/7). Kegiatan diikuti Orang Muda Katolik (OMK) dan umat stasi setempat. Tim animasi kepanitiaan terdiri dari empat seminaris Seminari Menengah Maria Nirmala Keuskupan Padang, 6 pelajar dan seorang Kepala SMA Katolik Xaverius Padang, 3 frater, dan 2 suster. Pastor Paroki datang menyusul ke lokasi seusai Perayaan Ekaristi di pusat paroki. Aksi Panggilan berlangsung usai Perayaan Sabda yang dipimpin Yarman Zai dan Sr. Franseline.

Aksi Panggilan diawali dengan perkenalan panitia, para frater, suster, pelajar dan Kepala SMA Katolik Xaverius Padang. Frater Justin Andrian Sinaga mengisahkan panggilan hidupnya yang mengarah sebagai seorang imam. “Semula, saya sekedar coba-coba saja, sebab saat masih SMP, saya sempat bingung saat ditanyai cita-cita masa depan. Saya spontan menjawab ingin menjadi pastor. Ternyata, hal tersebut diingat orangtua hingga menamatkan pendidikan SMA. Saya masuk Retorika Pematangsiantar. Panggilan itu adalah sebuah misteri! Awalnya hanya iseng, sekedar coba-coba hingga akhirnya berkelanjutan hingga saat ini. Para orang muda jangan ragu karena belum mendapatkan panggilan, yang utama adalah niat. Masalah panggilan itu nantinya akan dibentuk di dalam seminari.” ucap Frater Justin

 
Lain lagi bagi pengalaman Frater Wilbertus Hia. “Awal panggilan saya menjadi seorang imam itu sebenarnya telah ada sejak SMP. Di masa itu, saya tinggal di asrama dan sering berjumpa dengan seorang pastor, mengikuti misa setiap hari. Satu hal yang menarik hati saya sebab seorang imam adalah seorang pendoa yang sering mengunjungi umat. Ditambah ketika masa kuliah saya sempat bekerja di Komisi Komunikasi Sosial – saat itu dipimpin Pastor Bernard Lie, Pr. Selain bekerja, saya mendapat binaan dan pengalaman iman dari Pastor Bernard. Hal itulah yang memantapkan langkah saya untuk menjadi seorang imam kelak. Bagi para kaum muda, jangan takut memberikan diri, karena Tuhan itu selalu ada di mana pun kita hidup. Jangan takut mengambil keputusan dan menjawab panggilanNya,” ucap Fr. Wilbertus Hia.

Frater Michael Lyonel Richie turut berkisah, terutama tentang suka duka saat masuk seminari. “Dukanya sedikit, karena jauh dari keluarga. Sukanya, kita mendapat keluarga baru dari berbagai daerah ketika sudah memasuki seminari. Singkat kata, jangan takut menjadi gembala umat!”

Lain lagi pengalaman Sr. Monika Tjin, ALI yang berlatar belakang dari keluarga beragama Buddha, namun bersekolah di sekolah katolik. “Setiap bulan sekolah memanggil pastor untuk melaksanakan Perayaan Ekaristi Jum’at pertama di sekolah. Saat pastor datang, kami berebutan menjabat tangan pastor. Saya tertarik dengan ucapan seseorang yang masih diingat hingga kini ‘kalau kamu percaya akan Yesus maka kamu akan selamat dan mendapatkan hidup kekal’. Mulailah muncul ketertarikan menjadi suster dan mulai belajar. Akhirnya, saya memutuskan jadi umat Katolik dan mengikuti kegiatan Legio Maria, sebagai bentuk pendalaman iman,” ucap Sr. Monika.

Sr. Franselin mengisahkan panggilannya, “Saat menyatakan keinginan menjadi suster, orangtua saya tidak setuju, walau pada akhirnya ibu menyatakan jika saya bersungguh-sungguh ingin menjadi suster, lakukanlah sebaik mungkin agar nantinya niatmu tidak setengah-setengah. Usai menyelesaikan pendidikan SMK, saya memilih kerja satu tahun. Setelah itu barulah muncul minat dan niat saya menjadi suster. Saya coba berdoa kepada Bapa dan menyatakan keinginan menjadi suster.”

Dalam sambutannya, Pastor Paroki St. Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang, Pastor Bernard berharap, “Mudah-mudahan dengan adanya Aksi Panggilan ini, para orang muda di sini dapat mengambil sesuatu pelajaran. Dengan adanya acara ini, kita dapat membuka pintu hati kita lewat kesaksian para suster dan frater atas panggilannya. Bagi seminaris, tetaplah berjuang!”

Seusai Aksi Panggilan, umat – termasuk OMK – dan rombongan Aksi Panggilan santap siang bersama. Tatkala dihubungi terpisah, salah satu OMK Sungaipisang, Dominikus Dekius Zay mengaku sangat senang dengan Aksi Panggilan ini. “Saya menilai acara panggilan ini sangat menarik, bisa memberi pandangan kepada kaum muda untuk menjadi seorang imam. Jika ditanya soal panggilan, sampai saat ini, saya belum menemukan ‘jawaban’ panggilan tersebut. Mungkin nanti seiring berjalannya waktu,” ucapnya. Rekannya, salah satu Pembina Bina Iman Anak (BIA) di Stasi Sungaipisang, Aloysia Darwina Zay merasa bahagia dengan adanya acara ini. Karena dari kesaksian para frater, kita jadi lebih bersemangat lagi menjadi Pembina anak-anak BIA. (and)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *