Di Kepulauan Mentawai, salah satu sarana dan ‘forum’ membicarakan kutipan Kitab Suci adalah melalui kesempatan pelaksanaan sermon. Biasanya, di stasi-stasi, sermon berlangsung satu hari sebelum Perayaan Sabda ataupun Perayaan Ekaristi. Salah satunya di Stasi Betumonga Paroki St. Petrus Tuapeijat, Sipora Utara, Mentawai.

Hingga kini, sermon masih diselenggarakan di Betumonga setiap malam minggu. Hanya saja, pesertanya semakin lama semakin sedikit, berkisar 7 hingga 8 orang. Di waktu sebelumnya, peserta sermon 15-16 orang. Selama ini, dari pantauan saya, peserta sermon terdiri dari para perempuan yang tergabung dalam kelompok Wanita Katolik RI ranting setempat, panitia pembangunan, dewan pastoral stasi (DPS), warga dan pendamping Bina Iman Anak (BIA), dan penatua gereja setempat. Peserta dari kalangan Orang Muda Katolik (OMK) diundang ikut serta, tetapi jarang hadir.

Terkait kendala/halangan ikut serta sermon, alasan yang kerap muncul: (a) jalanan menuju lokasi sermon gelap dan jauh jaraknya, (b) faktor cuaca yang tidak mendukung – hujan. Umumnya, sermon berlangsung di gereja stasi. Parahnya, kalau sudah ada yang ‘absen’ bakal ikut-ikutan lainnya absen juga. Selain itu, sermon kerap tidak dihadiri oleh pengurus inti stasi karena kesibukan. Boleh dikatakan, sermon tidak dijadikan sebagai wadah untuk sebuah kesepakatan yang menjadi keputusan. Kesepakatan diubah pada waktu pengumuman dengan umat.

Sermon berlangsung mulai pukul delapan malam hingga sepuluh malam. Agak lama waktunya, kecuali ada calon umat baru yang hendak masuk Gereja Katolik. Seperti apa ‘gambaran’ pelaksanaan sermon? Sepengamatan saya selama ini, sermon dimulai dengan lagu pembuka yang diambil dari Buku Uraiji Kam Tuhan (UKT), doa pembuka spontan, pembacaan Injil hari Minggu besok. Lantas dibahas bersama-sama dan diambil butir inti sarinya untuk disampaikan dengan umat besok dalam khotbah/homili. Di kesempatan ini, dilanjutkan bacaan Injil untuk perkumpulan Wanita Katolik RI yang akan disampaikan pada hari Senin, dibahas secara singkat. Dilanjutkan Doa Bapa Kami (ukkuimai), Salam Maria (sura oi Maria), dan lagu penutup. Setelah selesai, disusul dengan informasi-informasi dari paroki, usulan tiap kelompok, dan keputusan.

Sermon dilakukan satu hari sebelum Perayaan Sabda (dipimpin awam) maupun Perayaan Ekaristi (dipimpin imam). Sermon dipimpin pengurus stasi; misalnya ketua stasi (baja’ gereja), sekretaris, atau seksi liturgi. Biasanya, kalau ada kunjungan pastor ke Stasi Betumonga, minggu terakhir setiap bulan, peserta sermon lebih banyak pesertanya ketimbang ‘sermon rutin’, mencapai 20-an peserta. Isi khotbah atau homili dalam Perayaan Ekaristi oleh pastor.

Ada beda suasana tatkala sermon juga dihadiri pastor. Yang pasti, lebih banyak pertanyaan dari peserta saat pastor hadir, karena selalu ada informasi terbaru. Hanya saja, di kalangan peserta masih mengalami kesulitan karena payah menangkap isi pesan atau informasi yang disampaikan pastor, biasanya dalam Bahasa Indonesia. Dalam situasi demikian, saya kerap menjadi penerjemah. Pertanyaan peserta dalam Bahasa Mentawai saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia agar pastor paham isi pertanyaan. Sebaliknya, jawaban pastor dalam Bahasa Indonesia, saya terjemahkan ke Bahasa Mentawai. Saat sermon, sudah ada ‘petugas’ dari pengurus stasi setempat sebagai pemimpinnya. Saya yang hadir pada sermon tidak memimpin, namun selalu diminta untuk memberikan masukan serta wawasan seputar Gereja Katolik.

(Fransiskus Xaverius, S.S.
Guru dan Penyuluh Agama Katolik
berdomisili di Stasi Betumonga Paroki St. Petrus Tuapeijat, Mentawai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *