Sejak masih murid SDN 019 Kotabaru-Riau, Veronika Sri Lestari Yudiandani, S.I.Kom. (26) dibesarkan dalam keluarga yang aktif menggereja. Ayahnya pun pernah menjadi ketua stasi. Ibunya pernah ketua ranting Wanita Katolik RI pada masa itu. Vero, panggilannya, penasaran dengan ayah ibunya yang kerap tampil di depan banyak orang. Jadi pusat perhatian saat ada perayaan besar di gereja.

Anak keempat 6 bersaudara dari pasangan Yohanes Wahyudi (alm) dan Yulia Usiani ini mulai memberanikan diri ambil bagian dalam acara hiburan. Saat itu, ia masih berumur 10 tahun. Dua tahun kemudian, saat usia 12 tahun, Vero memberanikan diri sebagai dirigen di gereja. Tak lepas dari sokongan pendamping sekolah minggunya. Setamat SD, Vero mengecap pendidikan di SMP Swasta Assisi Kotabatak-Riau. “Saya mendapat banyak pembelajaran yang mengasah kemampuan menjadi pelayan gereja,” ungkapnya.

Tatkala sebagai pelajar SMA Negeri 1 Tapung Hilir-Riau, salah satu warga Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Tarcisius Kotabaru, Paroki St. Petrus Kotabatak-Riau ini dipercaya sebagai Ketua OMK periode 2013-2015. Saat ini, Vero sempat mendampingi peserta Bina Iman Anak (BIA) stasi. Hanya saja, selepas SMA dan berkuliah di Universitas Riau (Unri) Pekanbaru, dirinya mulai vakum ikut kegiatan Gereja. “Saya sulit mengatur waktu berkuliah dan menggereja, apalagi jarak gereja tergolong jauh dari tempat tinggal saat itu,” ujarnya.

Selepas strata satu (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unri (2019), Vero kembali ke kampung halaman dan menjadi tenaga lepas (freelance) di bidang digital marketing, sebagai copywriter. Ia pun mulai aktif kembali menggereja. Vero bergabung dalam “Komunitas Sahabat Indonesia” secara virtual sewaktu Pandemi Covid-19. Seminggu sekali berlangsung Doa Rosario Bersama lewat aplikasi Zoom. Di forum ini, dirinya menemukan banyak teman seiman seluruh Indonesia meski di dunia maya, peluasan wawasan, dan pertumbuhan iman dalam diri. “Bagi saya, menjadi pelayan Gereja merupakan prioritas dalam hidup. Saya rindu menjalani berbagai aktivitas kegerejaan, tidak hanya di lingkup kegiatan OMK dalam paroki maupun luar paroki,” tandasnya. (and)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *